Kata Akhir dari Jakarta 22 April 2012
Posted by Frans in politik.Tags: parpol, pemilukada, politik
add a comment
Oleh FRANS OBON
TAHUN depan (2013) beberapa kabupaten di Flores dan Lembata akan memilih bupati dan wakil bupati. Dinamika dan nuansa politik pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) itu sudah mulai terasa. Beberapa partai telah melakukan proses politik. Ada partai yang membuka pendaftaran para kandidat. Ada partai yang telah mengadakan rapat kerja khusus di mana pengurus-pengurus partai pada tingkat bawah menyebutkan beberapa nama. Beberapa partai telah membentuk koalisi tapi belum berani menyebut figur. Pendek kata dalam beberapa bulan terakhir ini, kita sudah melihat manuver politik dari orang-orang yang punya keinginan bertarung dalam pemilukada.
Dari beberapa pengurus partai di tingkat lokal dan juga dari media kita mendapatkan informasi bahwa partai tertentu menggunakan lembaga survei untuk menentukan bakal calon yang mau diajukan partai. Partai yang melakukan dan mengandalkan survei adalah partai-partai besar.
Survei dilakukan untuk mendapatkan gambaran riil mengenai tingkat elektabilitas bakal calon yang akan diajukan partai politik. Karena setiap partai politik ingin menang dalam pertarungan politik pemilukada di daerah. Kemenangan pada pemilu tingkat lokal untuk pemilukada adalah juga penting bagi perjuangan dan kepentingan partai secara nasional. Makin banyak satu partai memenangkan pemilukada di setiap daerah di Indonesia, makin besar pula keuntungan yang akan diperoleh oleh partai politik bagi kemenangan pemilu nasional. Dengan demikian penentuan bakal calon pemilukada melalui lembaga survei telah menjadi strategi partai politik besar di Indonesia. Karena partai politik besar itu tidak mau kehilangan basis pemilihan di daerah-daerah baik dalam konteks pemilu legislatif maupun pemilu presiden.
(lagi…)
Netral, Tapi Kritis 22 April 2012
Posted by Frans in gereja katolik.Tags: gereja, Katolik, politik
add a comment
Oleh FRANS OBON
PADA acara tahbisan 14 diakon di Seminari Tinggi Ritapiret, 14 April 2012, Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng meminta para klerus untuk menjaga netralitas di tengah umat. Para klerus, begitu harapan uskup, harus menjembatani semua orang terutama dalam menyelesaikan konflik di dalam masyarakat. Dengan demikian klerus dan semua pewarta Gereja menjadi pembawa damai bagi sesama (Flores Pos 17 April 2012).
Tetapi Uskup Hubert juga melakukan kritik internal dan barangkali mengingatkan para diakon agar dalam karya nanti perlu melakukan koordinasi dengan pimpinan Gereja sehingga kreativitas pribadi itu tidak melampaui wewenang. Oleh karena itu dia mengingatkan agar para imam dan diakon membangun komunikasi dan konsultasi dengan pimpinan Gereja terkait kreativitas pastoral.
(lagi…)
Politik Jadi Kesempatan 18 April 2012
Posted by Frans in anggaran.Tags: anggaran, legislatif, politik
add a comment
Oleh FRANS OBON
KRITIKAN terhadap anggota DPRD di Flores dan Lembata kembali kita dengar. Kali ini kritikan dialamatkan kepada DPRD Lembata. Dalam tiga bulan pertama (Januari-Maret) 2012, DPRD Lembata telah menghabiskan anggarannya sebesar Rp1,2 miliar lebih untuk kegiatan studi banding, bimbingan teknis, dan konsultasi. Pagu anggaran DPRD Lembata Rp2,5 miliar lebih yang memang dianggarkan untuk membiayai studi banding, bimbingan teknis, konsultasi, dan kontribusi. Ini berarti sisa anggaran DPRD untuk kegiatan serupa sebesar Rp1,2 miliar lebih lagi (Flores Pos 11 April 2012).
Kepala Desa Lododokowa mengkritik penggunaan dana anggaran yang dinilai begitu besar tersebut dalam periode tiga bulan pertama tahun ini. Menurut dia, penggunaan anggaran Rp1,2 miliar lebih dalam tiga bulan pertama tahun angggaran 2012 telah menyalahi prinsip efisiensi yang sering dikatakan oleh DPRD Lembata. Dia mengatakan, semangat untuk efisiensi itu jauh panggang dari api. Bahkan dia menilai bahwa DPRD sedang menggunakan kesempatan untuk menumpuk dana bagi kepentingan politik legislatif pada pemilu berikutnya.
(lagi…)
Protes Tenaga Honorer 17 April 2012
Posted by Frans in birokrasi.Tags: birokrasi, konflik, politik
add a comment
Oleh FRANS OBON
PROTES tenaga honorer yang bekerja di kantor-kantor pemerintah daerah merebak di Kabupaten Ende dan Manggarai Barat menyusul pengumuman pemerintah mengenai daftar nominatif tenaga honorer kategori I berdasarkan hasil verifikasi dan validasi yang dilakukan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Jakarta. Sementara tujuh kabupaten lainnya di Flores dan Lembata aman-aman saja.
Pemerintah memberikan kesempatan selama 14 hari (10-24 April 2012) kepada siapa saja yang merasa kebeberatan terhadap pengumuman hasil daftar nominatif tenaga honorer kategori I ini. Keberatan itu disampaikan kepada BKN di Jakarta melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten. Dijanjikan pula, tenaga honorer yang tidak memenuhi syarat akan diumumkan tersendiri oleh BKN.
(lagi…)
Angka Kemiskinan Menurun 13 April 2012
Posted by Frans in kemiskinan.Tags: miskin, ntt, politik
add a comment
Oleh FRANS OBON
MENURUT DATA pemerintah, angka kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menurun setiap tahun sebagaimana berita media ini (Flores Pos 11 Arpil 2012). Pada tahun 2006, angka kemiskinan di NTT sekitar 29,34 persen. Sampai dengan Maret 2011, angka kemiskinan di NTT menjadi 20,48 persen.
Menurut Gubernur NTT Frans Lebu Raya dalam pidato pada pembukaan Musyawarah Rencana Pembangunan Kabupaten Ngada, sebagaimana dibacakan Wakil Bupati Ngada Paulus Soliwoa, 28 Maret 2012, penurunan angka kemiskinan ini cukup signifikan, sekitar 2,55 persen jika dibandingkan pada tahun 2010. Ini berarti sekitar 26,4 ribu orang terangkat dari bawah garis kemiskinan.
(lagi…)
Satu Perutusan, Banyak Pelayanan 14 Mei 2011
Posted by Frans in majalah.Tags: Gereja Katolik, muspas, politik
add a comment
Oleh FRANS OBON
Sejak Musyawarah Pastoral (Muspas) I (1987) hingga Muspas VI (2010), Keuskupan Agung Ende menggunakan pola proses dalam merumuskan reksa pastoralnya. Selain sebagai medium menjaring aspirasi umat, pola proses ini telah membantu umat memahami dengan lebih baik duduk perkara reksa pastoral keuskupan. Berbagai tema yang mencerminkan situasi dan kondisi riil umat Katolik di wilayah ini dibahas oleh para pakar dan mendapat masukan-masukan dari para peserta. Hampir 80 persen peserta Muspas adalah para awam Katolik yang terlibat di dalam berbagai bidang karya, meskipun terdapat kritikan bahwa representasi perempuan dari Muspas ke Muspas masih terbilang sedikit.
(lagi…)
