Menunggu Tuan Gratis

Oleh FRANS OBON

SEJARAH masyarakat Flores adalah sejarah keberdikarian. Sejarah yang penuh dengan semangat keswadayaan. Dedikasi sosial untuk mengutamakan kepentingan dan kebaikan umum telah menjadi nilai-nilai dasar yang membangun fondasi pembangunan Flores. Kita hampir menemukan pada setiap budaya lokal yang begitu ragam di Flores semangat gotong royong, semangat mandiri dan dedikasi sosial untuk kepentingan yang lebih besar demi kemakmuran bersama.

Nilai-nilai inilah yang membuat generasi dua puluhan hingga tujuh puluhan akhir menyerahkan tanah secara gratis untuk membangun sekolah-sekolah dasar di Flores, menyerahkan tanah untuk Gereja Katolik, dan kepentingan sosial lainnya. Nilai-nilai ini pulalah yang menyemangati masyarakat untuk bergotong royong dan secara swadaya membangun sekolah dasar.

Dalam sejarah lokal memang ada perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yang dipicu oleh pengerjaan jalan raya trans Flores mulai dari Reo hingga Larantuka yang mulai dikerjakan pada tahun 1925. Masyarakat lokal setempat menyebutnya dengan kerja rodi (kerja paksa). Perlawanan dilakukan juga karena masyarkat Flores diperkenalkan dengan sebuah sistem baru dalam kehidupan sosial politik kenegaraan modern yakni memungut pajak dari masyarakat. Namun secara umum hampir kita temukan banyak contoh bagaimana keswadayaan masyarakat Flores menjadi fondasi yang kuat untuk menjadikan Flores seperti sekarang ini.

Keswadayaan ini yang dipelopori Gereja Katolik telah lama menjadi nilai dasar yang membentuk karakter masyarakat Flores. Nilai-nilai kemandirian ini bukan saja dibangun untuk kebutuhan internal Gereja baik dalam segi ketenagaan pastoral – sejalan dengan kebijakan pemerintah yang membatasi misionaris asing – maupun kemandirian finansial, tetapi merasuk masuk ke dalam mentalitas masyarakat untuk membangun segala sesuatu berdasarkan kemampuan sendiri.

Tuan gratis ini kemudian membunuh seluruh potensi pemberdayaan, merusak mentalitas kerja keras yang berkeringat. Tuan gratis ini telah membentuk mentalitas pragmatis, mentalitas instan, mentalitas cari gampang.

Masyarakat Flores, dengan demikian, sejak awal reksa pastoral Gereja Katolik di Flores telah diajarkan untuk tidak menadahkan tangan agar menerima secara gratis. Hal ini memang sejalan dengan semangat Injil bahwa orang yang tidak bekerja tidak layak mendapat makanan.

Pendekatan pembangunan kemudian tidak lagi bersifat asistensialistik, tetapi beralih ke fokus pemberdayaan potensi-potensi lokal dan bakat-bakat di dalam diri masing-masing orang. Perumpamaan talenta telah menjadi inspirasi injili agar tiap orang mengembangkan bakatnya sambil bertekun dalam doa. Memang tidak mudah menggerakkan keswadayaan ini. Ada cerita jatuh dan bangunnya. Tetapi secara umum kesadaran untuk mandiri dan berdikari telah lama menjadi nilia-nilai dasar dalam kehidupan masyarakat Flores.

Jika kita membandingkan apa yang telah pernah dibangun dalam sejarah Flores dan kondisi kekinian, tampaknya ada titik balik. Ada langkah mundur. Ada suatu degradasi nilai-nilai kemandirian dan keberdikarian ini. Sebabnya memang tidak tunggal. Namun secara umum kita rasakan ada kelunturan dalam semangat dasar seperti ini. Kita, misalnya, seakan baru belajar membangun sekolah dalam konteks kebersamaan dengan apa yang kita sebut manajemen berbasis sekolah di mana masyarakat ikut dilibatkan dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan. Padahal kebersamaan dalam membangun sekolah itu telah lama dipraktikkan di Flores. Perbedaannya hanya dalam terminologinya saja. Namun nilai-nilai dasar bahwa pendidikan adalah tanggung jawab semua orang telah lama menjadi semangat dasar di Flores dalam bidang pendidikan.

Kelunturan ini memang berdampak luas dan serius dan bahkan hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan kita. Masyarakat kita akhirnya berada di persimpangan jalan dan berharap dengan tangan menadah menunggu tuan gratis lewat. Yang lewat itu adalah para politisi mulai dari pusat hingga daerah yang menyajikan apa yang paling enak didengar: gratis. Dalam masa pemilihan langsung pada masa Reformasi kita disungguhkan dengan janji pendidikan dan kesehatan gratis. Karena banyak yang tidak percaya begitu saja dengan pendidikan dan kesehatan gratis itu, para politisi kita mulai menggeser isunya menjadi pendidikan dan kesehatan murah.

Belakangan ini kita lagi disuguhkan dengan wacana listrik gratis di tengah masih sedikitnya masyarakat kita yang menikmati listrik negara. Reformasi politik dan sosial yang dikampanyekan Mei 1998 telah menaburkan harapan-harapan mesianik baru. Masyarakat dengan tingkat kemiskinan yang akut sangat menikmati janji manis. Yang miskin mengharapkan belas kasihan, yang elite menyapu bersih semuanya dengan sapu kotor korupsi. Politik demokrasi telah berubah menjadi politik iba, politik belaskasihan. Politik model begini pada akhirnya melahirkan sikap aji mumpung. Politik pragmatis. Dan interaksi dalam politik pun menjadi politik do ut des (memberi supaya menerima) tapi di balik itu politisi yang lihai itu punya hitungannya sendiri: to give less to take more (memberi sedikit, ambil banyak).

Ketika Kabupaten Jembrana memberlakukan pendidikan dan kesehatan gratis, model Jembrana ini menyebar menjadi mode baru dalam cara kelola pemerintahan di daerah. Ramai-ramai para politisi kita yang ingin mendapatkan simpatik rakyat mulai berkampanye tentang pendidikan dan kesehatan gratis. Program pendidikan dan kesehatan gratis ini lebih merupakan cara dan kreativitas menggunakan dana dari pemerintah pusat.

Bukan hanya politisi di daerah yang menggunakan cara-cara ini untuk mendapatkan dukungan politik dari rakyat. Pemerintah pusat juga menggunakan cara yang sama. Subsidi-subsidi seperti dana bantuan langsung tunai telah membentuk citra pemerintahan yang populis. Di daerah-daerah juga tidak kalah gesitnya menangkap dana-dana program pemerintah pusat tersebut. Daripada masyarakat tidak mendapatkan apa-apa dan dana-dana tersebut jatuh ke daerah lain, lebih baik pemerintah daerah menangkap peluang tersebut dan menggunakan cara yang sama untuk mengkampanyekan diri sebagai pemerintahan yang populis.

Pencitraan politik populis ini kemudian mempengaruhi cara berpikir masyarakat kita dan membunuh semangat keswadayaan. Politik kita mulai dari pusat hingga daerah menjadi lebih pragmatis. Politik entah pemilihan kepala daerah atau pemilu legislatif tidak saja dilihat sebagai proses demokrasi tapi sebuah kesempatan dengan menunggang demokrasi untuk mendapatkan “uang kaget” tanpa keringat dan kerja keras. Dalam Pemilukada rakyat menadahkan tangannya menerima dana-dana politik para calon dan pura-pura berikrar akan memberikan dukungan politik. Tapi di belakang pintu rakyat memberikan pilihannya pada yang datang paling belakangan tapi buah tangannya lebih besar. Itulah serangan fajar. Politik menjelang pemilu akhirnya sebuah aktivitas transaksi mulai dari partai politik hingga massa rakyat di kampung-kampung.

Tuan gratis ini kemudian membunuh seluruh potensi pemberdayaan, merusak mentalitas kerja keras yang berkeringat. Tuan gratis ini telah membentuk mentalitas pragmatis, mentalitas instan, mentalitas cari gampang. Di tingkat elite, orang mau menumpuk kekayaan dengan cara gampang. Penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan ekonomis. Di bidang pendidikan mentalitas cari gampang dan mentalitas instan membunuh kerja keras dan kreativitas belajar. Kerja keras sudah menjadi nilai yang jauh dari jangkauan. Berkorban untuk kebaikan umum telah menjadi nilai periferi dalam seluruh segi kehidupan. Tiap orang datang mengambil dan membawa seturut kepentingannya sendiri.

Tuan gratis ini harus kita bunuh dengan menyegarkan kembali pentingnya nilai kerja dalam masyarakat kita. Kerja menurut enskilik Laborem Exercens dari Paus Johanes Paulus II adalah gambaran dari keluhuran martabat manusia. Dengan demikian kerja (labor dalam bahasa Latin artinya kerja yang berjerih payah) erat kaitannya dengan martabat manusia. Kerja itu bermartabat karena dilakukan oleh manusia. Karena itu Paus Johanes Paulus II mengatakan bahwa nilai kerja adalah panggilan manusia sebagai ciptaan Allah untuk mewujudkan dirinya dan menjadikan manusia makin manusia. Dengan ini kerja menjadi agenda budaya sebab yang bekerja adalah manusia. Hanya manusia yang menghasilkan kebudayaan dalam tiga aspeknya yakni cipta, rasa dan karsa.

Tuan gratis dalam konteks filsafat kerja seperti ini telah membunuh daya juang dan membunuh semangat kerja keras. Untuk jangka pendek, memang menyenangkan. Tapi tuan gratis akan membunuh dan menyiram racunnya mulai dari akar. Untuk menyembuhkan kembali akar, bukanlah hal mudah. Julia Gillard, Perdana Menteri baru Australia dalam pernyataan pers pertamanya mengajak rakyat Australia untuk bekerja keras. Padahal secara fundamental ekonomi Australia cukup kuat.

Dalam dua tahun terakhir nilai tukar dolar Australia terhadap dolar Amerika menguat. Tapi kita di sini, dengan dana APBN yang sebagian besar ditopang utang baik dari dalam negeri maupun luar negeri, selalu menjanjikan hal-hal gratis. Flores juga larut dalam semangat yang sama. Flores akhirnya tidak sadar bahwa tuan gratis telah membunuh daya juangnya dan melumpuhkan semangat keberdikariannya yang telah lama menjadi akar dari pencapaiannya saat ini. Tuan gratis telah mengeroposkan fondasi nilai-nilai fundamental dalam masyarakat kita.

Flores Pos | Asal Omong |
| 3 Juli 2010 |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s