Pastoral Jejaring


Presentasi hasil survei terhadap kehidupan komunitas umat basis di Keuskupan Agung Ende, Flores.

Oleh FRANS OBON

KARAKTER Musyawarah Pastoral (Muspas) VI adalah pastoral jejaring, kata Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende, Romo Cyrilus Lena pada acara penutupan di aula Paroki Mautapaga. Muspas VI sukses dilaksanakan karena jejaring mulai dari panitia hingga peserta yang datang dari berbagai latarbelakang dan profesi hingga organisasi sosial baik yang secara langsung berafiliasi dengan Gereja Katolik maupun organisasi di luar afiliasi Gereja. Keberagaman profesi dan latarbelakang membuat Muspas VI ini penuh warna (full colouring).

Saya menyaksikan selama Muspas berlangsung dari tanggal 6-11 Juli 2010 di Paroki Mautapaga ada kegembiraan dan harapan untuk mendorong makin mantapnya pertumbuhan Gereja Katolik Flores. Ada keinginan untuk selalu berbuat lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya. Ada keterbukaan yang lebih besar untuk mendengar suara-suara dari bawah. Ada perubahan sikap untuk mendengar dan membuka hati terhadap aspirasi dari komunitas basis. Ada komitmen untuk lebih aktif terjun ke dalam tata dunia dan menukik lebih dalam. “….demikian Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21) memberi inspirasi peserta dari empat ribuan komunitas basis di seluruh keuskupan untuk merefleksikan kembali komitmen mereka dalam tugasnya masing-masing. Hasil survei dari tim yang dipresentasikan pada hari pertama memberikan data dan fakta sosial yang bisa membantu peserta untuk melihat pada titik mana mereka berada saat ini.

Empat hari sebelum Muspas panitia menggelar konferensi pers di Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende. Para wartawan yang berbasis di Ende diundang baik dari media cetak maupun dari radio. Inilah untuk pertama kalinya Keuskupan Agung Ende menggelar konferensi pers menjelang Muspas. Lima Muspas sebelumnya, konferensi pers tidak pernah dilakukan. Bahkan ini konferensi pers pertama  dilakukan pihak keuskupan. Muspas pun bergema ke seluruh pelosok Flores.

Sejak Muspas pertama tahun 1987 keuskupan mengembangkan komunitas umat basis sebagai cara baru hidup menggereja. Konferensi para uskup Asia (Federation Asian Bishop’s Conference/FABC) juga menegaskan bahwa komunitas basis adalah cara baru menggereja di Asia. Bahkan ada dorongan agar Gereja Katolik “menceritakan tentang Yesus melalui cerita hidup orang-orang Asia”. Katakanlah telling the story of Jesus in Asian Way or through Asian Eyes Dalam semangat yang sama, kita bisa mengatakan, telling the story of Jesus in Florenesse Way, ceritakan tentang Yesus menurut cara orang Flores. Dengan ini kita hendak mengatakan bahwa Flores harus menemukan jalannya sendiri untuk mewartakan kabar Gembira Yesus Kristus dalam situasi hidup dan dalam cara hidup orang Flores.
Komunitas basis sebagai cara baru menggereja di Asia merupakan sebuah perubahan mendasar untuk kepentingan jangka panjang Gereja maupun untuk proses demokratisasi di tingkat akar rumput dan sebuah kontribusi bagi kehidupan publik kenegaraan dan kebangsaan. Karena itu fokus dan lokus pastoral keuskupan adalah umat atau yang dalam bahasa Muspas, umat adalah subjek dari pastoral keuskupan. Dengan demikian terjadi pergeseran dalam pendekatan pastoral dari gereja institusi dan hirarki kepada pemberdayaan umat Allah (people of God) di bawah bimbingan para gembala. Komunitas basis ini kemudian menjadi cara baru dalam memahami gereja sebagai umat Allah. Senafas dan searah dengan harapan Konsili Vatikan II.

Konsekuensi dari cara baru menggereja ini tentu pertama adalah  dalam proses dan penciptaan aktor-aktor baru di dalam komunitas basis itu. Muspas menerjemahkannya dengan kepemimpinan suportif. Aktor utama dari cara baru menggereja bukanlah hirarki sebagai fokus melainkan umat.  Fokus perhatian kemudian adalah bagaimana menciptakan pemimpin-pemimpin yang tangguh di tingkat komunitas basis tersebut. Peran hirarki adalah mendukung, meng-endorse, mendorong lahirnya kepemimpinan awam yang tangguh, yang pada gilirannya penuh komitmen bergerak dalam tata dunia untuk menciptakan kesejahteraan dan kebaikan bagi semua orang tanpa sekat agama dan etnis.

Kehadirannya di tengah tata dunia untuk menggarami dan menjadi terang serta  menjadi dian yang diletakkan di atas gantang. Dengan demikian komunitas basis menjadi ladang baru bagi penciptaan kader-kader tangguh. Pemimpin-pemimpin itu dalam bahasa Muspas adalah fungsionaris pastoral. Jabatan pemimpin di komunitas basis itu menjadi terbuka bagi siapa saja dan dipilih melalui proses partisipatif-demokratis. Peran Gereja (hirarki) dan semua orang yang peduli dengan kaderisasi di sini adalah bagaimana melatih, mendidik, dan mendampingi pemimpin-pemimpin komunitas basis itu agar mereka berfungsi dan berperan optimal.

Konsep Gereja sebagai umat Allah jelas-jelas merefleksikan adanya berbagai macam karisma di dalam Gereja. Seperti tubuh hanya satu tapi dalam satu tubuh itu banyak anggota. Tiap-tiap anggota mengerjakan sesuatu menurut peran dan fungsinya tapi demi kepentingan seluruh tubuh. Komunitas basis sebagai cara baru menggereja sesungguhnya adalah hendak mengembangkan karisma di dalam diri anggota Gereja.

Sebetulnya proses kaderisasi itu tidak saja dilakukan dalam konteks penciptaan fungsionaris pastoral yang tangguh, tapi dalam konteks yang lebih luas yakni semua orang yang berkehendak baik berkewajiban untuk menciptakan aktor-aktor baru di dalam masyarakat yang berperan membawa perubahan sosial. Dalam konteks Katolik, proses kaderisasi adalah tanggung jawab semua orang Katolik. Sebuah lembaga swadaya masyarakat jika dalam program kegiatannya melatih dan mendidik petani sebagai motivator, fasilitator bagi petani lainnya, maka dia sedang melakukan proses kaderisasi di dalam masyarakat. Karena dia sedang menciptakan aktor-aktor baru yang akan mendorong perubahan di dalam masyarakat. Partai politik yang dengan tekun melakukan pendidikan politik bagi masyarakat maka partai politik tersebut sedang menciptakan kesadaran baru berpolitik dan secara tidak langsung menciptakan kader politik yang berwawasan.  Yang terpenting bahwa pendidikan politik itu sungguh diarahkan dalam bingkai etika politik yang benar. Organisasi sosial Katolik melakukan pendidikan dan pendampingan yang benar, maka sesungguhnya organisasi itu sedang menciptakan pemimpin-pemimpin baru di dalam masyarakat.Tentu kita tidak sedang menampik peran kaderisasi yang dilakukan secara sistematis oleh Gereja Katolik yang diletakkan dan dipelopori oleh hirarki.

Arah pastoral demikian akan bergerak dari pusat ke pinggir (from centre to the edge), dari hirarki ke umat Allah. Hal ini juga berdampak pada proses berteologi. Ladang-ladang rakyat dalam konteks Flores adalah medan baru berteologi. Kitab Suci dikonfrontasi dengan realitas kehidupan umat untuk melihat kehendak Allah dalam kehidupan praksis tiap hari. Dalam proses demikian tiap orang melatih diri untuk “mendengar Roh Allah” yang berembus di antara bukit-bukit karang ladang petani Flores.

Konsekuensi kedua adalah gereja ingin mendorong umat untuk menggali potensi diri dan potensi sosialnya untuk menggerakan perubahan bersama dalam semangat kebersamaan lintas batas. Ada banyak perikop dalam Injil yang menyebutkan bahwa Allah menghendaki bahwa tiap orang berusaha mengembangkan dirinya. Bahwa umat punya potensi. Kita ingat perumpamaan tentang telenta. Mukjizat penggandaan roti. “Ada berapa banyak roti yang ada pada kamu”. Yesus menggandakan roti itu untuk memberi makan lima ribu orang. Bahkan masih ada sisanya lagi sebanyak 12 bakul yang kemudian menjadi simbol ke-12 suku Israel.

Jika arah dasar dan visi pastoral Keuskupan Agung Ende ini sungguh dimengerti dengan baik oleh umat dan berjalan dalam arah yang benar, maka akan sungguh lahir cara baru menggereja di Flores. Komunitas basis ini dalam jangka panjang menjadi medium untuk menciptakan proses demokratisasi di kalangan umat. Proses ini akan bermuara pada penciptaan keadaban publik di mana masyarakat sipil menjadi kuat. Umat menjadi mandiri dan iman menjadi makin dewasa.

Konsekuensi lain dari arah dasar dan visi pastoral demikian adalah mengubah cara kita bertanya. Kita tidak lagi bertanya Gereja (hirarki) beri apa untuk kita? Ini lahir dari pemahaman bahwa Gereja itu adalah hirarki. Lalu karena gereja hirarki, maka orang akan dengan mudah mensejajarkan gereja dengan pemerintah. Kalau pemerintah beri uang, maka hirarki gereja juga harus beri uang kepada umat. Padahal strategi dasar dari gereja tidaklah demikian. Yesus tidak membuat mukjizat menggandakan roti dari sesuatu yang kosong meski Dia bisa melakukannya, tapi dari “apa yang ada pada kamu”. Dia menggandakan dari apa yang dimiliki oleh umat.

Pertanyaan tentu bergeser: bukan lagi gereja (hirarki) memberi kita apa, tapi kita memberi apa kepada sesama dan kepada orang lain di luar gereja (kehidupan publik). Kita tidak lagi menunggu pastor, tapi kita sendiri aktif ambil bagian dalam membebaskan dan memberdayakan sesama umat dan orang lain di luar gereja. Gereja tidak lagi berkutat pada urusan internal dan bersikap triumfasilitis tapi mengulurkan tangannya menolong orang lain di luar dirinya.

Dalam konteks pastoral jejaring, arah dan visi dasar pastoral yang dihasilkan dalam Muspas lebih merupakan grand strategy (sebuah strategi besar) tempat di mana semua anggota memainkan peran seturut bidang tugasnya. Dengan kata lain, strategi besar itu diwujudnyatakan dan diimplementasikan dalam bidang tugas masing-masing anggota umat Allah. Dampak yang kelihatan dari sini adalah apa yang dilakukan anggota Gereja melalui bidang tugas masing-masing merefleksikan sebagian dari grand strategy tersebut. Jika dalam tugasnya itu masing-masing anggota memandang dan mencantolkan dirinya pada arah dan visi dasar pastoral keuskupan, maka akan ada gerakan menuju arah yang sama yakni makin sejahteranya umat dan makin dewasanya iman.

Konsep Gereja sebagai umat Allah jelas-jelas merefleksikan adanya berbagai macam karisma di dalam Gereja. Seperti tubuh hanya satu tapi dalam satu tubuh itu banyak anggota. Tiap-tiap anggota mengerjakan sesuatu menurut peran dan fungsinya tapi demi kepentingan seluruh tubuh. Komunitas basis sebagai cara baru menggereja sesungguhnya adalah hendak mengembangkan karisma di dalam diri anggota Gereja.

Jika arah dan visi dasar pastoral ini dikaitkan dengan proses kerja jejaring dan telah melahirkan kesadaran kritis-kolektif bersama, maka pada akhirnya gereja (hirarki) berperan menjadi konduktor atau dirigen yang baik yang mengerti nada-nada dasar dan harmonisasi untuk menghasilkan suara yang lebih merdu di tengah tata dunia. Karena itu pastoral jejaring menuntut perubahan sikap dan cara pendekatan untuk merangkul semua potensi yang ada tanpa kehilangan fungsi kritis-profetis kenabian yang memang menjadi salah satu esensi peran gereja di tengah tata dunia. Penggabungan antara kesadaran kritis-kolektif di tingkat umat dan perubahan cara sikap dan pendekatan di kalangan hirarki, jelas akan menjadi sebuah kekuatan dahsyat untuk mendorong lahirnya keadaban publik baru di Flores. Sebuah bumi dan langit Flores yang baru.

2 pemikiran pada “Pastoral Jejaring

  1. Amo Yanto

    Gereja saat ini memang bukan Gereja sebagai institusi dari atas belaka, melainkan Gereja yg berakar dari bawah, dari umat sederhana yg perlu dijumpai bukan saja dari mimbar, tetapi juga dari pasar-pasar tradisional, dari kampung-kampung kumuh dan sebagainya. Proficiat KAE!

    1. Elias kobe

      Ya itulah yang namanya gereja akar rumput…. Dan itu harus diberdayakan, sehingga umat memahami gedung gereja yang merupakan bait suci Allah yang dibangun, bukan milik pastor parokinya tapi milik semua umat Allah. Dan itu bisa terjadi kalau Imam dan Awam tidak ada jarak (harus membaur) berkotbah harusnya tidak hanya di belakang mimbar atau dari altar, tapi harus dibangun cara hidup menggereja yang baru seperti jemaat perdana dalam kisah para rasul, semuanya dilakukan secara bersama-sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s