Politik Tanpa Tema

Oleh FRANS OBON

Tahun 2009, selama lima minggu (28 September hingga 30 Oktober 2009) saya berada di Australia untuk mengikuti beasiswa jurnalistik tentang menulis ekonomi dan perdagangan internasional, yang diselenggarakan Asia Pacific Journalism Centre (APJC). Workshop jurnalistik ini dipandu Nigel McCarthy. Dipadukan antara pertemuan kelas dan studi lapangan. Pertemuan dibuat di Melbourne, Canbera dan Sydney. Di Melbourne difokuskan pada pertemuan kelas dan dua kali studi lapangan. Penyelenggara mendatangkan sederetan pembicara tamu dari berbagai latarbelakang.

Kembali dari Sydney, kami mengikuti program magang di surat kabar dan radio. Saya dan Priestly Habru dari Kepulauan Salomon (Salomon Islands) magang di Geelong Advetiser, koran yang didirikan tahun 1840. Hari pertama saya, Priestly Habru dan Kate Matthews (wartawan Geelong Advetiser) meliput sidang di pengadilan Geelong. Hari berikutnya bersama reporter Geelong Advetiser dan wartawan fotonya kami mengikuti pertemuan dua politisi dari Victorian Liberal Nationals Coallition, Ted Bailleu MP dan Peter Ryan MP.

Kedua politisi ini bertemu dengan konstituen mereka di sebuah daerah pinggir pantai di Anglesea. Keduanya mengkritik sikap lamban pemerintah untuk mengimplementasikan rekomendasi mengatasi kebakaran di negara bagian Victoria.

Baillieu mengkritik cara pemerintah menangani kebakaran di negara bagian Victoria dalam hal mengidentifikasi dan menyiapkan tempat-tempat perlindungan yang aman bagi masyarakat setempat terhadap kemungkinan menghadapi kasus kebakaran. Pemerintah dinilai tidak memberikan bantuan yang tepat dan pedoman operasional yang efektif untuk mengajarkan kepada komunitas setempat ketika kebakaran terjadi.

“Akan menjadi sesuatu yang esensial bagi komunitas-komunitas lokal mengenai tempat-tempat perlindungan yang aman yang terdekat dan level perlindungan macam mana yang mereka butuhkan. Mereka membutuhkan program pelatihan yang kuat, namun pada hari pertama kasus kebakaran, tempat-tempat aman yang dibutuhkan tidak dapat diidentifikasi,” kata Ted Bailleu.

“Rakyat Viktoria harus sudah sejak awal diberitahu sehingga mereka dapat membuat keputusan yang cerdas untuk menyelamatkan hidup mereka,” kata Peter Ryan.

Kedua politisi dari Koalisi Nasional Liberal ini juga mengkritik sistem peringatan dini pemerintah yang tidak memadai merespon kebutuhan masyarakat saat kejadian.

Semakin menjadi jelas bagi saya ketika dua politisi ini mengkritik cara pemerintah menangani kebakaran di negara bagian Victoria. Karena sebelumnya kami mengunjungi Kinglake, sebuah daerah bekas kebakaran.

Kepala kepolisian setempat menjelaskan bahwa kepanikan luar biasa saat terjadi kebakaran. Ketika kami ke Kinglake, kami melihat sisa-sisa kebakaran yang terjadi Februari, yang mereka sebut Black Saturday. Karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu. Dalam kasus kebakaran itu dua orang warga negara Indonesia menjadi korban. Ratusan rumah dan ribuan orang meninggal. Api menjalar begitu cepat karena angin bertiup kencang.

beasiswa apjc1

Wajarlah jika para politisi menjadikan kebakaran sebagai tema kampanye mereka untuk mendapat dukungan dari rakyat. Para politisi mengkritik cara pemerintah yang sedang berkuasa dalam menangani masalah kebakaran. Sambil mereka memberikan solusi dan tawaran-tawaran cara penanganan kepada rakyat.

Apa yang ingin saya sampaikan dari pengalaman ini adalah para politisi menawarkan agenda kerja partai politik kepada rakyat. Mereka memiliki kerangka kerja yang ditawarkan. Kerangka kerja ini memungkinkan rakyat mendapatkan pengetahuan dan pembanding dalam menjatuhkan pilihannya. Mereka berkompetisi dalam konsep dan agenda kerja partai dan visi pribadi mengenai suatu masalah. Sebaliknya rakyat mendapatkan pengetahuan dan referensi yang cukup: agenda kerja siapa yang dianggap bisa menjawabi masalah masyarakat. Karena itu jika mereka gagal mengimplementasikan janji kampanye mereka, maka rakyat langsung kehilangan kepercayaan. Karena itu juga ketika popularitas mereka menurun, yang berarti tingkat kepercayaan rakyat menipis, ada kemungkinan mereka mundur. Setidaknya agenda kerja partai atau politisi yang bersangkutan tidak memadai lagi untuk menjawabi masalah rakyat. Tingkat kepercayaan rakyat itu bisa diukur dari berbagai survei yang dilakukan.

Bisa saja penilaian saya lebih disebabkan karena jatuh cinta pada pandangan pertama. Dalam arti karena saya menyaksikan yang lain daripada pengalaman di daerah kita. Tetapi pertemuan di Anglesea itu menegaskan lagi apa yang saya lihat dan nilai bahwa partai politik dan politisi kita tidak memiliki tema dalam kampanye politik mereka.

Pertemuan di Anglesea memberikan saya keyakinan bahwa hakikat politik dan aktivitas politik partai-partai adalah memperdebatkan konsep dan gagasan-gagasan pembangunan dan agenda-agenda kerja partai untuk menyejahterakan rakyat.

Aktivitas politik adalah pertandingan ide, konsep, dan gagasan mengenai usaha-usaha untuk menyejaterakan rakyat. Aktivitas politik kemudian berubah menjadi pendidikan politik yang mencerahkan dan mencerdaskan rakyat. Pertandingan ide, konsep, dan strategi itu dapat menjadi referensi bagi rakyat mengapa saya memilih partai A dan bukan partai B, mengapa saya memilih si A dan bukan si B.

“Pertemuan di Anglesea memberikan saya keyakinan bahwa hakikat politik dan aktivitas politik partai-partai adalah memperdebatkan konsep dan gagasan-gagasan pembangunan dan agenda-agenda kerja partai untuk menyejahterakan rakyat”

Ruang publik dalam cara kerja partai politik seperti ini dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan yang sehat sehingga menciptakan kompetisi yang jauh lebih ketat. Sehingga segala kemungkinan untuk membeli kucing dalam karung tidak diberi ruang. Sebab di ruang publik itu konsep dan strategi pembangunan diuji publik melalui analisis dan komentar baik melalui media cetak maupun elektronik.

Saya mungkin terlalu ideal untuk membandingkan dua sistem politik yang berbeda. Tapi tidak ada salahnya juga dalam konteks mencari format politik lokal yang lebih kompetitif yang selama ini referensi pilihan rakyat berdasarkan ikatan primordial kesukuan.

Mengapa hal ini penting. Referensi pilihan politik rakyat karena berdasarkan primordial suku telah mengakibatkan kita tidak pernah mendapatkan pemimpin yang berkualitas di Flores. Pemimpin kita dikenal karena kebaikannya dari segi kemurahan hatinya memberikan bantuan finansial maupun keputusan serta kebijakan politiknya yang menguntungkan suku dan kelompok. Tapi pilihan kita tidak didasarkan pada hasil pengujian agenda politik mereka.

Kurun waktu masa kampanye pada pemilihan umum kepala daerah (pemilukada), contohnya, bukan saja tidak cukup memadai dari segi waktu, tapi tidak merupakan kesempatan untuk pertandingan ide, konsep dan strategi pembangunan. Yang menonjol pada massa ini adalah pengerahan massa .

Presentasi visi, misi dan program kerja para calon di DPRD menurut saya sama sekali tidak ada gunanya jika presentasi itu dilihat sebagai pengujian konsep dan strategi para calon. Pasangan calon ini dicalonkan oleh partai politik atau koalisi partai politik atau calon independen. Apakah DPRD kita akan menjadi penguji kompeten untuk memberikan referensi kepada rakyat mengenai mutu dan kompetensi para calon? Saya kira tidak. Mereka mesti menjaga integritas mereka karena merekalah yang mencalonkan pasangan tersebut.

Kalau pengujian ini dimaksudkan agar DPRD mendapatkan referensi dalam pelaksanaan tugas mereka ketika menghadapi calon yang menang dalam pemilukada, saya kira harapan itu berlebihan. Karena DPRD akan jungkir balik dengan kepentingan mereka dalam berhadapan dengan pemerintah. Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang tahu apa yang mesti dilakukan untuk menyikapi aksi jungkir balik politik ini di DPRD.

Yang penting sebenarnya adalah rakyat mendapatkan referensi dalam memilih pemimpin mereka. Referensi itu diperoleh hanya melalui kampanye-kampanye politik dan agenda kerja politisi dan partai politik yang merupakan refleksi dari masalah masyarakat. Artinya agenda dan strategi partai politik adalah cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian aktivitas politik adalah pertandingan konsep dan strategi untuk menjawabi masalah masyarakat.

Aktivitas politik yang berjalan tanpa tema yang kita hadapi selama ini mengakibatkan rakyat membeli kucing dalam karung. Hal ini dilakukan oleh partai politik untuk menyembunyikan ketidakmampuan mereka dalam merekrut calon-calon pemimpin kita. Karena itu janganlah heran bahwa para pemimpin kita berhenti pada tahap sebagai administrator pembangunan yang baik dan bukan inovator yang memberikan alternatif-alternatif yang mencerahkan dalam membangun masyarakat. Karena itu dari lima tahun ke lima tahun berikutnya kita tidak menemukan gebrakan yang berarti.

Politik kita akhirnya berjalan tanpa tema. Kita tidak pernah tahu bagaimana pandangan calon pemimpin kita mengenai pekerja migran (tenaga kerja Indonesia/TKI) yang sudah berlangsung sejak tahun 1970-an, mulai dari Flores Timur hingga Flores Barat. Kita punya masalah busung lapar dan gizi buruk, tapi kita tidak pernah dengar perdebatan soal mengatasi masalah ini. Kita punya masalah rabies, tapi kita tidak pernah dengar perdebatan mengatasinya. Kita punya masalah HIV/AIDS tapi kita tidak pernah dengar solusi yang ditawarkan. Kita dililiti kemiskinan tapi sepi perdebatannya. Kita punya masalah korupsi, tapi sepi dari strategi mengatasinya. Pendek kata kita punya banyak masalah tapi kita tidak mendengar ada perdebatan serius mengenai masalah ini.

Politik tanpa tema itulah yang membuat kita tidak pernah keluar-keluar dari masalah-masalah kita. Karena kita tidak menemukan strategi yang bernas yang dihasilkan dari sebuah perdebatan politik yang cerdas.

Flores Pos, edisi 11 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s