Inspirasi Agama

Oleh FRANS OBON

Jangan hanya melihat masalah tambang dari sudut teologi, begitu kata Wakil Bupati Manggarai Kamelus Deno menanggapi desakan para pendemo soal tambang pada peringatan Hari Tani Nasional di Ruteng. Pemerintah telah menghentikan izin tambang tapi dalam proses hukum, pemerintah kalah. Prosesnya masih ada di tingkat kasasi di Mahkamah Agung (Flores Pos edisi 25 September 2010).

Wakil Bupati “menembak” secara tidak langsung pada landasan teologi ekologi yang menjadi inspirasi dan sumber perjuangan gereja Katolik Flores dalam menentang setiap bentuk perusakan ekosistem dan lingkungan hidup di Flores. Meskipun dia ingin menegaskan bahwa masalah tambang di Flores cukup kompleks, sehingga tidak cukup dilihat dari teologi. Dan dia menyoroti hukum dan langkah hukum yang diambil pemerintah daerah. Ini artinya dia hendak mengatakan, dalam masalah tambang, lihat juga aspek hukum.

Meski demikian, kita perlu melihat masalah ini juga dari sudut teologi ekologi. Dalam teologi ekologi, alam dilihat sebagai sesama. Sesama tidak hanya diartikan hubungan kita dengan sesama manusia, melainkan kebersamaan dengan ciptaan lainnya. Karena dalam teologi ciptaan, Tuhan tidak saja menciptakan manusia melainkan makhluk-makhluk lainnya dalam suatu hubungan simbiosis mutualisme. Karena itu relasi yang dibangun adalah relasi segitiga yakni Tuhan, manusia, dan ciptaan.

Apa yang disebut pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan tanggapan para pemimpin dunia tentang perubahan iklim sekarang ini, secara implisit adalah bersumber pada nilai-nilai etis keagamaan. Paling tidak nilai-nilai etis keagamaan mendorong agar nilai-nilai ini terimplementasi di dalam kebijakan-kebijakan pemerintah. Bukan hanya sekadar slogan pembangunan.

Kunjungan Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng ke lokasi tambang dan perjuangan para pastor dan awam Katolik dan semua orang yang punya kehendak baik, yang sejalan dengan visi Gereja Katolik menegaskan lagi posisi agama dalam menyikapi masalah tambang. Iman akan Allah telah menginspirasi mereka semua untuk terlibat dan bahu membahu dengan para petani yang berjuang untuk mempertahankan hak-haknya.

Teologi dalam pengertian yang sebenarnya adalah refleksi kritis-rasional mengenai iman akan Allah. Teologi berusaha agar agama bukanlah sekadar perasaan religius yang tidak dapat diterima dengan akal. Karena itu Paus Benediktus XVI pada berbagai kesempatan dalam kunjungan ke berbagai negara maupun dalam refleksi-refleksi teologisnya menegaskan bahwa agama sama sekali tidak bertentangan dengan akal.

Kegiatan Sekami di Paroki Wolotopo, Keuskupan Agung Ende

Pidato Regensburg, terlepas dari kontroversi sebagian dari isi pidatonya, menegaskan hal itu bahwa agama sama sekali tidak bertentangan dengan akal. Agama kristen dapat diterima akal.

Karena itu posisi yang diambil Gereja Katolik Flores dalam kaitan dengan tambang lahir dari sebuah refleksi mendalam. Lahir sebagai ekspresi iman akan Allah, yang dipahami oleh Gereja Katolik. Masalah tambang coba dilihat dalam konteks yang lebih mendalam.

Pertanyaan mendasar yang diajukan adalah untuk siapa tambang ini. Dari pengalaman baik di Manggarai sendiri maupun pengalaman di tempat lain dan dari refleksi rasional kritis, tambang bukanlah jalan terbaik untuk menyejahterakan rakyat Manggarai. Pilihan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui tambang kontraproduktif dengan kehidupan rakyat Manggarai yang sebagian besar adalah petani.

Karena itu pula teologi ekologi kemudian menjadi teologi terlibat. Terutama didorong oleh keberpihakan pada para petani. Kita semua tahu, — mudah-mudahan pemerintah kita juga tahu – bahwa para petani kita sebagian besar adalah tamat sekolah dasar yang lahan pertanian miliknya juga kecil-kecil. Karena itu mereka mudah dimanipulasi, juga oleh pemerintahnya sendiri. Kemiskinan dan ketiadaan uang membuat mereka mata hijau dengan uang puluhan juta rupiah sebagai uang sirih pinang dari tangan pengusaha tambang melalui tangan-tangan birokasi yang juga lapar dan haus.

Miskin cara berpikir dan memahami masalah dengan cara pandang yang sempit bukan saja milik para petani. Bisa jadi cara berpikir sempit itu menghinggapi kita. Oleh politik yang sempit dan keinginan untuk berkuasa (will to power), kita mengejar impian-impian yang mengorbankan orang lain dalam jangka panjang. Dan kita mungkin tidak peduli lagi setelah itu.

Refleksi teologis yang kritis akan menyumbangkan pada makin meningkatnya kesadaran akan hak dan tanggung jawab manusia dalam mengelola sumber daya alam”

Teologi ekologi yang terlibat itu telah mendorong Gereja Katolik untuk berada di sisi para petani. Berada dan berdiri di sisi orang-orang yang mudah dikalahkan. Berada untuk memberitahukan kemungkinan-kemungkinan risiko yang akan menimpa mereka baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Karena iman dan kesadaran kritis kolektif lahir dari pengajaran-pengajaran.

Refleksi teologis yang kritis akan menyumbangkan pada makin meningkatnya kesadaran akan hak dan tanggung jawab manusia dalam mengelola sumber daya alam. Refleksi teologis itu hendak menggugah kesadaran kita bahwa eksploitasi sumber daya alam yang membebani lingkungan dan ekosistem pada saatnya nanti akan memukul balik kehidupan manusia baik secara pribadi maupun secara kolektif.

Itulah yang ingin disampaikan oleh Gereja Katolik Flores dalam kaitan dengan tambang agar masyarakat yang sebagian besar para petani menyadari risiko-risiko dan bahaya-bahaya yang akan timbul .
Hal inilah yang harus disuarakan oleh Gereja Katolik baik kepada masyarakat maupun kepada pemerintah, terutama kepada para pemimpin di Flores. Sebab keputusan para pemimpin tentang kebijakan pembangunan yang mereka ambil akan berdampak serius terhadap kehidupan para petani dan kehidupan kita bersama sebagai sebuah komunitas. Tugas bersama kita adalah melindungi masyarakat dari bahaya-bahaya yang bisa terhindarkan sejak awal.

Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon dalam konferensi yang digelar 3 November 2009 yang diselenggarakan United Nations Development Program (UNDP) bekerja sama dengan Aliansi Agama-Agama untuk Perubahan Iklim menegaskan para pemimpin agama hendaknya mendorong pemimpin sekuler untuk memerangi masalah perubahan iklim.

Menurut Ban Ki-moon, para pemimpin agama memiliki peran unik dan tak tergantikan dalam mendiskusikan nasib planet kita dan dampak dari perubahan iklim. “Anda adalah pemimpin yang memiliki jangkauan yang paling besar, paling luas dan paling dalam”.

Sekjen BPP menegaskan bahwa para pemimpin agama lebih dari setengah memiliki sekolah, institusi-institusi, dan surat kabar dan majalah daripada lembaga-lembaga sekuler. “Anda dapat memberi inspirasi, menggugah, dan menantang para pemimpinmu melalui kebijaksanan dan melalui umat. Saya mendorong Anda agar suara Anda terdengar lebih keras dan lebih jelas”.

Inspirasi agama dalam pembangunan di Flores adalah sejarah yang telah berjalan berabad-abad. Kalau bukan inspirasi agama, mengapa begitu banyak para imam, bruder, dan suster serta para awam mendedikasikan diri mereka tanpa lelah untuk membangun masyarakat.

Motivasi apakah yang membuat begitu banyak imam, suster dan bruder rela berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lainnya. Motivasi apakah yang membuat mereka naik turun gunung untuk melakukan pengawasan terhadap sekolah-sekolah Katolik di seluruh Flores.

Motivasi apakah yang membuat Gereja Katolik membuka sekolah, rumah sakit, memelopori pertanian, pertukangan, sekolah putri dan mendirikan seminari baik seminari kecil maupun seminari tinggi? Kalau bukan inspirasi agama, lalu inspirasi dari mana?

Kita tidak ingin menghitung jasa di sini. Kita hanya ingin menegaskan lagi posisi sentral Gereja Katolik dalam memajukan masyarakat Flores. Inspirasi dari pengalaman akan Allah yang hidup adalah apa yang membakar seluruh semangat Gereja Katolik untuk terus mendedikasikan dirinya pada kemajuan masyarakat Flores. Gereja, ibarat ibu, tak pernah lelah dan tak pernah mengeluh untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat.

Para pemimpin kita di Flores tidak boleh melakukan tindakan-tindakan politis yang menegasikan dan meremehkan inspirasi agama dalam seluruh kebijakan politik pembangunannya. Para pemimpin kita tidak boleh terjebak di dalam perangkap menegasi inspirasi agama dalam kehidupan publik kita. Jika itu yang terjadi di dalam konteks Flores, maka cepat atau lambat kita akan kehilangan identitas kultural. Tidak selalu mudah untuk mendapatkan kembali sebuah kehilangan. Hilang atau tidak, semuanya ada pada tangan para pemimpin dan para elite Flores sendiri.

Edisi 4 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s