Jaga Komitmen dan Semangat Dasar

Oleh FRANS OBON

Pelantikan Credo (Christian Rotok-Kamelus Deno) menjadi bupati dan wakil bupati Manggarai dan paket Mulus (Marianus Sae-Paulus Soliwoa) oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya tanggal 14 September 2010 barangkali akan menjadi pelantikan bupati dan wakil bupati terakhir pada tahun ini. Karena sampai saat ini pemilukada di Flores Timur masih belum jelas juntrungannya.

Kemenangan bupati dan wakil bupati terlantik itu mulai dari Manggarai Barat, Manggarai, hingga Ngada memperlihatkan kepada seluruh masyarakat Flores bahwa mereka dipercaya oleh rakyat berapapun persentase perolehan suara mereka dalam Pemilukada. Ini artinya rakyat yakin bahwa mereka bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyat.

Mereka diyakini punya kemampuan intelektual untuk merumuskan dengan rasional kebutuhan-kebutuhan dasariah dari rakyat.

Mereka memiliki kecerdasan emosional untuk menimbang dengan cermat semua informasi yang berseliweran di tengah masyarakat sehingga mereka dengan bijaksana mengambil keputusan.

Mereka dipercaya punya kecerdasan spiritual sehingga mereka tidak mengeluarkan dimensi moralitas dari kebijakan dan program pembangunan. Pendek kata para pemimpin pilihan rakyat ini memiliki kompetensi dasar untuk mengelola pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan.

Godaan terbesar bagi kekuasaan adalah mengutamakan diri dan kelompok. Masalah ini selalu disuarakan oleh masyarakat, yang terungkap dalam pernyataan bahwa para bupati dan wakil bupati terlantik jangan mengutamakan tim sukses, kelompok pendukung, dan kelompok pemodal.

Sebaliknya yang ada dalam benak mereka adalah mengutamakan kepentingan rakyat, karena mereka lahir dari haribaan rakyat. Mereka harus menjaga komitmen dan semangat dasar: untuk siapa mereka mengabdi, bukan untuk mendapat apa mereka mengabdi.

Hal kedua yang mesti menjadi perhatian bupati dan wakil bupati terlantik adalah pentingnya koordinasi, dialog dan tengok kiri dan kanan dalam merumuskan kebijakan.

Suatu kelemahan umum dari para pemimpin kita di sini adalah bahwa pejabat publik pemerintahan merasa tahu sendiri dan merasa berkuasa sendiri. Itulah masalah dasar mengapa terjadi benturan dan protes dari masyarakat. Itulah yang terjadi dengan masalah tambang, misalnya, karena tidak adanya tengok kiri dan tengok kanan dalam menentukan kepentingan bersama.

Pemerintah merasa tahu sendiri dan merasa berhak menentukan sendiri apa yang terbaik bagi masyarakat. Tetapi pada sisi lain, pemerintah rajin mencatat keberhasilan yang dicapai dari hasil prakarsa rakyat sendiri tanpa intervensi pemerintah sebagai hasil pembangunan di bawah kepemimpinannya.

Pemimpin yang baik harus punya mata dan hati yang terbuka lebar untuk menerima dan mendialogkan kebijakannya. Karena dengan itu semangat dan komitmen dasarnya diuji tiap kali.

Bentara, 15 September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s