Masyarakat Lokal, Tiang Pemda

Pedagang ubi nuabosi di pasar Ende.
Oleh FRANS OBON

Dalam sepekan ini, media ini menurunkan berita yang nadanya hampir sama yakni kekuatan pemerintah daerah dalam membangun daerahnya tetaplah ada pada masyarakat lokal. Bukan tergantung pada orang dari luar daerah. Karena itu fokus dan lokus perencanaan dan reksa ekonomi pemerintah daerah harus bertumpu pada kekuatan masyarakat lokal.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya dalam sambutan pelantikan Christian Rotok dan Kamelus Deno menjadi bupati dan wakil bupati Manggarai periode 2010-2015 dan pelantikan Marianus Sae dan Paulus Soliwoa menjadi bupati dan wakil bupati Ngada periode 2010-2015 pada 14 September 2010 menekankan perlunya fokus dan lokus perencanaan ekonomi para bupati terlantik ini pada potensi-potensi yang dimiliki masyarakat setempat: pertanian, pariwisata, lingkungan, nelayan, dan lain-lain. Di luar pertambangan.

Hal kedua yang senada dengan ini adalah pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pertemuan Saudagar Bugis-Makassar (Flores Pos edisi 17 September 2010). Jusuf Kalla mengatakan, sudah sering bupati dan wakil bupati melakukan pertemuan dengan investor luar negeri, namun pertemuan itu tidak memberikan hasil yang cukup nyata kepada masyarakat. Menurut dia, hal yang paling efektif adalah meningkatkan kemampuan usaha masyarakat di daerah. Dia anjurkan untuk mengubah kultur pertanian kita dari agrobisnis ke agroindustri.

Hal ketiga adalah pernyataan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang menegaskan bahwa akan diadakan penertiban dalam program promosi investasi pemerintah daerah ke luar negeri (Flores Pos edisi 17 September 2010).

Investasi dari luar negeri, sebagaimana sering kita kemukakan, tidak selalu berdampak adanya perubahan signifikan bagi masyarakat lokal. Hal yang cukup ramai dibicarakan, diperdebatkan, dan dipolemikkan selama ini, misalnya adalah soal tambang.

Ada begitu banyak contoh di tempat lain di mana kehadiran pertambangan tidak cukup signifikan memberikan kesejahteraan kepada rakyat. Karena keuntungan yang diperoleh dari tambang tidak sebesar-besarnya digunakan bagi kesejahteraan masyarakat lokal.

Malah kehadiran tambang profesional itu kemudian mendorong munculnya tambang tradisional, yang jauh dari jaminan keamanan dan sustainable dalam pengelolaan lingkungan.

Tapi kita di Flores hampir tidak bisa memetik makna dari contoh-contoh ini. Ini dibuktikan dengan begitu royalnya pemerintah kita memberikan izin kuasa pertambangan kepada investor luar negeri yang bekerja sama dengan investor dalam negeri.

Ada banyak cara dipakai untuk memuluskan langkah investasi di bidang tambang ini. Mulai dari digadang-gadangnya janji kesejahteraan kepada rakyat di desa-desa hingga praktik pemberian uang sirih pinang kepada pemilik lahan. Uang sirih pinang ini tidak jelas statusnya, apakah uang ganti rugi atau apa. Karena itu memang ada bisik-bisik di kalangan khalayak ramai: jangan-jangan ada “uang sirih pinang” juga di balik ngototnya sejumlah kepala daerah dalam masalah tambang.

Media ini sudah sejak awal mengingatkan terus menerus pemerintah lokal kita bahwa tiang utama dari kemajuan ekonomi lokal adalah masyarakat lokal itu sendiri. Jangan singkirkan mereka.

Bentara, edisi 18 September 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s