TKI Belum Diperhatikan Serius

Perempuan Flores ikut Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende, tanggal 6-11 Juli 2010 di Ende.
Oleh FRANS OBON

Kematian Arnoldus Geong dari Manggarai Timur di Malaysia Timur telah menambah daftar para pekerja migran asal Manggarai yang meninggal di negeri Jiran tersebut (Flores Pos edisi 16 September 2010). Jika kita tidak keliru, dalam tahun ini ada empat TKI dari Manggarai meninggal di Malaysia. Dua dari Manggarai tengah dan dua dari Manggarai Timur. Kematian mereka disebabkan kecelakaan kerja dan penyakit.

Berbicara tentang TKI sama artinya hampir sebagian besar kita berbicara mengenai kepedihan-kepedihan. Fenomena ini kita temukan di seluruh Flores. Sejak tahun 1970-an, mulai dari Flores Timur hingga Flores barat, masalah pelik yang dihadapi pekerja migran Flores dengan tujuan Malaysia hampir tidak pernah tuntas ditangani.

Dari situ kita memang dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa kita tidak pernah serius. Hampir pasti pula kita tidak menganggap kesulitan yang dihadapi pekerja migran ini sebagai masalah serius. Karena itu tanggapan kita terutama pemerintah tidak pernah serius juga. Pendekatan yang dilakukan hanyalah karitatif belaka.

Yang dimaksudkan karitatif di sini adalah pemerintah kita hanya aktif memberikan uang duka jika ada TKI yang meninggal di Malaysia kepada keluarga korban. Namun masalah kompleks yang dihadapi pekerja migran ini tidak pernah menjadi program pemerintah.

Bahkan masyarakat kita menjadikan bahan olok-olokan keluarga-keluarga yang ditinggalkan dengan sebutan janda Malaysia. Kita tidak pernah terenyuh dengan nasib keluarga-keluarga yang berantakan akibat pekerja migran yang tidak pernah kembali ini. Keluarga sebagai sendi utama masyarakat dan tempat persemaian masa depan generasi kita telah rusak.

Keluarga-keluarga ini telah menjadi korban paling nyata dari migrasi pekerja migran kita. Perempuan-perempuan kita dipaksa oleh keadaan menjadi orang tua tunggal untuk membesarkan anak-anak mereka.

Masalah moral seringkali muncul dari sini. Tapi herannya kita menjadikan bahan olokan tapi minim prakarsa untuk menolong mereka.

Kelompok-kelompok perempuan rentan ini sedikit sekali menjadi sasaran program pemerintah. Mereka tidak memiliki akses pada lembaga keuangan untuk mendapatkan modal kerja. Hampir tidak ada program pemerintah untuk menolong mereka.

Beban keluarga pekerja migran ini ditambah berat lagi oleh beban utang untuk membiayai keberangkatan mereka ke Malaysia.

Ketidakmampuan untuk membayar utang-utang ini di kampung-kampung mereka, menyebabkan mereka enggan kembali. Tapi beban itu harus ditanggung oleh keluarga mereka. Pemilik modal mengambil tanah mereka. Maka, keluarga-keluarga ini makin menjadi miskin oleh struktur seperti ini.

Bukti lain dari ketidakseriusan itu adalah tidak adanya angka pasti dari pekerja migran kita di instansi pemerintah. Padahal struktur pemerintahan sampai ke kampung-kampung. Kalau data saja tidak punya, bagaimana pemerintah bisa melakukan intervensi terhadap masalah pekerja migran ini.

Litani ketidakseriusan ini bisa diperpanjang. Masalah TKI tidak pernah menjadi bahan kampanye pemilukada. Padahal masalah itu menjadi masalah nyata di masyarakat. Sebab jika isu masalah pekerja migran ini menjadi bahan kampanye akan terlihat dengan jelas siapa yang punya kepedulian. Karena tema kampanyenya juga kabur air, maka penyelesaian masalah ini juga kabur air.

Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah masalah TKI memang tidak pernah menjadi isu serius bagi pemerintah daerah kita.

Bentara, edisi 17 September 2010

Satu pemikiran pada “TKI Belum Diperhatikan Serius

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s