Moratorium Judi?

Oleh FRANS OBON

Sarapan pagi kita kembali ditemani berita polisi menangkap para penjudi kartu. Jenis judi yang umumnya dilakukan di Flores. Orang bisa bilang taruhannya tidak terlalu besar. Memang fokus pemberantasan judi bukan pada besarnya taruhan, tapi pada tindakan judi.

Di Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, polisi menangkap para penjudi di dua tempat berbeda (Flores Pos edisi, 8 Oktober 2010 dan 11 Oktober 2010). Beberapa waktu lalu di Ruteng polisi menangkap para penjudi (Flores Pos, edisi 19 Agustus 2010). Para pelaku adalah sering orang-orang terpandang di dalam masyarakat. Di Manggarai umumnya pengusaha dan anggota Dewan. Bahkan ada ibu rumah tangga.

Judi kartu di Flores sudah digempur oleh agama dan hukum. Tapi belum mati-mati juga. Judi hanya mati suri, lalu bangkit lagi. Beranak pinak dan menyebar dengan mudah. Bahkan ke desa-desa.

Di Keuskupan Ruteng, misalnya, pernah dibuat doa khusus untuk para penjudi. Tujuannya adalah agar masyarakat menjadi sadar bahwa judi tidak baik. Atau dalam bahasa agama, judi adalah dosa. Judi adalah buruk secara moral karena berpotensi merusak keluarga dan masyarakat. Di sana ada egoisme, di mana orang menghabiskan keringatnya sendiri, tapi mengabaikan hak anggota keluarga lainnya.

Kita bisa bilang, judi tidak mengganggu kehidupan ekonomi rumah tangga. Tapi ada anggota keluarga yang menggunakan uang untuk kesenangannya sendiri adalah sebentuk egoisme.

Namun lama-lama doa untuk para penjudi hilang dan judi kembali disambut pada pelbagai kesempatan. Di mana dua tiga orang berkumpul, kartu ada di sana. Judi menemukan kembali tempatnya yang subur.

Doa untuk para penjudi adalah sebentuk ajakan untuk adanya pertobatan pribadi dan pertobatan sosial. Pertobatan lahir dari sebuah refleksi akan keberdosaan. Jalan untuk membentuk suara hati seseorang. Suara hati adalah tempat di mana seseorang dalam inti dirinya yang paling dalam berjumpa dengan Tuhan. Karena itu suara hati adalah sanggar suci, tempat di mana selalu bergema: lakukan perbuatan baik dan hindari perbuatan jahat (bonum facere, malum vitandum).

Di mana suara hati terbentuk dengan baik, di sana ada otonomi diri untuk menghindari kejahatan. Pada tingkat ini akan lahir tanggung jawab pribadi untuk menghindari hal-hal buruk yang merugikan orang lain.

Kesadaran diri yang baik yang bersumber dari refleksi terus menerus dan suara hati yang terus diasah akan memberikan kontribusi pada kebaikan bersama. Jika tiap orang bertindak berdasarkan kesadaran diri dan tanggung jawab pribadi penuh, maka akan lahir tanggung jawab sosial.

Doa bersama untuk memberantas judi adalah ajakan agar sebagai komunitas kita bersama-sama saling mengingatkan agar tiap orang merasa bertanggung jawab untuk mencegah keburukan dan kejahatan moral di dalam masyarakat.

Uang yang digunakan untuk judi adalah uang pribadi seseorang. Tiap orang berhak menggunakannya sesuai dengan keinginannya. Tapi menggunakan uang pribadi untuk melahirkan keburukan sosial harus dicegah. Karena itulah judi disebut penyakit sosial sebab membawa dampak buruk secara sosial.

Sekarang polisi di Flores sudah menyatakan tekad mereka untuk memberantas perjudian (Flores Pos edisi 13 Oktober 2010, hlm 4). Penangkapan para penjudi adalah wujud nyata dari komitmen tersebut.

Entah doa untuk para penjudi agar lahirlah pertobatan individual dan pertobatan sosial atau penegakan hukum oleh polisi sama-sama bertujuan agar energi kita diarahkan pada hal-hal yang produktif.

Kita sering mendengar: main kartu dengan taruhan uang ini hanya sekadar rekreasi. Just killing the time (sekadar mengisi waktu). Sekadar intermeso dari rutinitas hidup. Ya rekreasi. Tapi rekreasi sepanjang malam, dari siang hari sampai jauh malam atau dari pagi hingga pagi bukan lagi rekreasi. Tapi sudah menjadi tindakan yang menggerus produktivitas. Orang tidak bisa bekerja dengan baik jika energinya habis.

Moratorium judi? Tidak mudah dilakukan, tapi bukan berarti tidak bisa. Asalkan kita secara komunitas bertekad untuk mengarahkan energi dan sumber daya kita kepada kebaikan bersama. Waktu luang bisa kita gunakan untuk membaca, atau ada bersama anak-anak kita. Ada bersama bukan berarti ada dalam ruang fisik yang sama, tapi membimbing dan mengarahkan mereka pada hal-hal yang produktif.

Jika kita memiliki “uang yang lebih”, kita bisa memberi bantuan sosial. Dengan demikian kita tidak hanya sebagai komunitas penerima bantuan, tapi memberi bantuan kepada orang lain melalui dompet-dompet sosial atau perbuatan-perbuatan amal lainnya.

Dengan moratorium judi, energi orang-orang Flores diarahkan pada hal-hal yang produktif dan mereka bisa melipatgandakan kebaikan.

Dengan demikian tiap orang menjadi pembawa berita gembira dan pembawa kabar baik kepada semua orang. Dengan jalan ini pula mutu hidup orang Flores akan menjadi lebih baik. Mutu hidup yang baik akan membuat kita menjadi tanda yang menggembirakan dan menyelamatkan bagi orang lain.

Flores Pos edisi 15 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s