Gunung Es Pemilukada

Tarian adat Manggarai, Flores.

Oleh FRANS OBON

Kalau Anda melihat laporan dana kampanye yang disampaikan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), Anda mungkin akan menyimpulkan: betapa murahnya biaya pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) di Flores. Karena itu Anda mungkin akan menambah deretan orang yang merasa bahwa Anda juga bisa menjadi calon, kendati kantong Anda tipis.

Hal itu bisa pula Anda pakai untuk menepis sinyalemen bahwa biaya pemilukada yang besar menjadi salah satu akar korupsi di daerah. Asumsinya tentu jelas yakni biaya pemilukada yang besar yang telah dikeluarkan mesti diganti. Atau pundi- pundi yang telah terkuras selama pemilukada harus diisi kembali.

Tapi percayakah Anda dengan angka-angka yang diumumkan oleh KPUD itu? Anda harus percaya karena memang angka-angka itulah yang resmi dilaporkan ke KPUD. Badan ini tidak punya perangkat kerja yang efektif untuk mendeteksi pergerakan uang para calon. Mereka hanya mengirim formulir untuk diisi para calon, lalu melakukan verifikasi.

Tapi riilnya dana politik yang dikeluarkan jauh lebih besar. Namun dalam kondisi di mana media tidak mampu mengendus dana-dana politik yang berseliweran di antara elite partai, elite politik dan para calon, dan juga di mana belum banyak masyarakat kita memberi perhatian pada investigasi terhadap masalah-masalah ini, perihal dana politik para calon tidak bisa terungkap ke publik.

Dana-dana pemilukada dan dana-dana politik adalah fenomena gunung es. Yang bergerak di bawah permukaan jauh lebih besar daripada yang diketahui oleh publik. Politik selalu lihai untuk menghindari terciumnya pergerakan uang politik. Namun beberapa fenomena yang muncul setelah pemilukada selesai amat dengan jelas dan gamblang memberikan kepada kita apa sesungguhnya yang terjadi di balik keseluruhan proses pemilukada.

Pertama, jika ada perkelahian di kalangan partai menjelang pemilukada dalam kaitannya dengan calon yang akan diajukan partai atau terjadi saling pecat, fenomena itu harus ditangkap sebagai perebutan sumber daya di dalam partai. Kita punya banyak pengalaman dan contoh mengenai koalisi partai yang bangkrut di tengah jalan.

Jauh-jauh hari sebelum pemilukada beberapa partai berkoalisi, mendeklarasikannya dan mengumumkan pasangan calon ke publik. Tapi begitu menjelang pemilukada, koalisi pecah berantakan.
Di satu sisi hal ini memang dapat dilihat sebagai salah satu strategi politik. Lawan memecahkan koalisi untuk menggagalkan pencalonan. Karena itu dalam pemilukada di Flores, tiba-tiba ada partai yang tidak mengajukan calon pada menit-menit terakhir. Ini jelas akan mengganggu peta perolehan suara terutama di basis-basis pemilihan.

Strategi ini menjadi efektif oleh kerentanan di dalam internal partai. Pengurus-pengurus partai menjelang pemilukada menjadi bola liar. Tiap orang mencari jalan untuk mendapatkan manfaat dari pemilukada. Mulai dari pengurus daerah, provinsi hingga pusat. Dengan demikian rentetan politik menjadi panjang dan rentenir politik juga menjadi banyak. Politik menjadi rent seeking.

Kalau Anda sudah mendapat restu dari pengurus tingkat kabupaten, Anda jangan dulu senang. Karena Jakartalah yang menentukan. Kabupaten ingin mendapatkan bagiannya. Provinsi mau mendapat bagiannya. Jakarta juga. Kalau koalisi begitu gemuk, maka harus tebal pula pundi-pundi Anda. Di sinilah kita tahu bahwa politik memang sulit ditebak. Semua itu disebabkan oleh pergerakan uang.

Kedua, sumber dana. Kita sering bertanya: dari mana sumber dana para calon. Tapi kita sulit menemukan jawaban. Karena sulit sekali kita mengendus sumber dana politik para calon, maka susah juga bagi kita untuk mengontrol. Semuanya beroperasi secara rahasia.

Tarian adat Manggarai saat peresmian Kabupaten Manggarai Timur.
Lalu, dari mana kita tahu? Pertama, dari kebijakan yang mereka ambil. Perhatikan kebijakan-kebijakan pembangunan yang mereka ambil. Kalau banyak masyarakat menentang kebijakan pembangunan namun mereka tetap nekat melaksanakannya, maka patut dipertanyakan jangan-jangan ini ada kaitannya dengan sumber dana politik. Kita seringkali tahu belakangan bahwa para calon terpilih ini mendapat dana politik dari pengusaha ini dan pengusaha itu.

Kedua, buka mata dan telinga ketika terjadi konflik di kalangan tim pemenang. Konflik itu akan memuntahkan informasi mengenai siapa-siapa yang berperan dalam kemenangan para calon. Siapa memainkan peran apa: termasuk sumbangan dana. Sudah banyak kali kita dengar bagaimana bupati dan wakil bupati dikendalikan oleh tim-tim pemenangnya. Dari situlah kita tahu bahwa ada kekuatan bayangan di balik panggung politik yang sebenarnya. Kekuatan bayangan itu (shadow state) tidak lain adalah pemilik modal.

Oleh beberapa kalangan persekutuan pemodal dan politik ini disebut kartel politik. Di mana-mana kartel politik dipraktikkan. Tapi bedanya di negara-negara yang kehidupan demokrasinya jauh lebih maju, ada aturan yang jelas dan aturan itu dilaksanakan. Ada kontrol pers yang kuat karena ada kebebasan pers yang dijamin oleh negara. Ini artinya ada kelompok-kelompok masyarakat sipil yang mengimbangi peran negara (penguasa politik) dan pemilik modal. Namun di negara-negara yang kehidupan demokrasinya belum matang dan kehidupan persnya masih belum bebas serta posisi masyarakat sipil yang tidak kuat, maka persekutuan politik dan pemodal sulit terkontrol. Bahkan kekuatan-kekuatan yang potensial menjadi penyeimbang kekuatan negara dan pemodal dikooptasi. Akibatnya masyarakat sipil menjadi lemah. Kontrol pun melemah.

Ketiga, hubungan bupati dan wakil bupati. Hubungan bupati dan wakil bupati bisa harmonis. Bahkan ada kemungkinan mereka bisa maju bareng pada periode kedua. Hubungan yang harmonis ini oleh publik dipersepsikan sebagai utuhnya komitmen untuk menyejahterakan rakyat. Seolah-olah hubungan yang harmonis itu dibangun di atas ketulusan membangun untuk rakyat dan bukan untuk kepentingan diri dan kelompok.

Harmonisasi lahir dari keadilan dalam membagi sumber daya di dalam birokrasi pemerintahan. Setelah pemilukada selesai, bupati dan wakil bupati mulai mengatur sumber daya tersebut. Hanya ada dua sumber daya yang diperebutkan yakni pembagian jabatan birokrasi dan dana-dana di pemerintahan. Kendati bupati dan wakil bupati ada dalam satu paket, namun masing-masing mereka memiliki gerbong dukungan yang berbeda. Rangkaian gerbong itulah yang akan menuntut keadilan dalam membagi sumber daya. Ketika pembagian tidak merata atau tidak memenuhi harapan gerbong masing-masing, maka konflik bisa terjadi. Konflik adalah bentuk perlawanan. Jika pembagian sumber daya itu berjalan tidak adil, maka keduanya sudah pasti akan ada dalam persaingan. Bupati dengan kewenangan yang lebih besar akan mengerem kemungkinan wakilnya untuk mendapatkan sumber daya. Dia diberi ruang gerak yang sempit.

Sebaliknya momen ini dimanfaatkan oleh wakil bupati untuk membangun persepsi sebagai orang yang diperlakukan tidak adil. Situasi masyarakat kita yang melodrama akan dengan mudah bersimpatik dengan orang-orang yang dianggap diperlakukan tidak adil. Dalam konteks masyarakat melodrama, politik komunikasi wajah dinilai masif efektif.

Dengan demikian harmonisasi adalah buah dari pembagian sumber daya yang adil. Sebaliknya konflik disebabkan karena tidak adanya keadilan dalam membagi sumber daya birokrasi pemerintahan. Karena itu di bawah permukaan adalah soal siapa mendapatkan apa.

Inilah fenomena gunung es pemilukada. Publik hanya menangkap di permukaan. Sedangkan di bawah permukaan, ada begitu banyak cerita yang dibungkus dengan rapi. Pemilukada adalah buku cerita yang tak pernah tuntas dikisahkan.

Asal Omong, edisi 16 Oktober 2010

Satu pemikiran pada “Gunung Es Pemilukada

  1. Amo Yanto

    Singkat cerita, masyarakatlah yang menderita, yang kaya makin kaya, yang miskin makin melarat. Kalau demikian sebaiknya kita tak usah punya pemimpin, kalau ternyata pemimpin itu ada untuk memelaratkan masyarakat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s