Lingkungan Kita Buruk

Oleh FRANS OBON

Diare teleh merenggut satu nyawa anak di Kabupaten Sikka. Belasan masih sedang dirawat. Dalam beberapa pekan ini, sekitar lima puluhan anak dirawat karena diare (Flores Pos, edisi 20 Oktober 2010).

Direktur Rumah Sakit TC Hillers Maumere, dokter Asep Purnama menilai diare dan malaria, terutama bagi Kabupaten Sikka, merupakan ancaman serius pada saat dan menjelang musim hujan tiba. Dia menganalogikan dampak buruk diare dan malaria itu lebih ganas dibandingkan dengan kejadian teroris manusia.

Analogi dokter Asep tentu tidak berlebihan. Karena tiap tahun, kita menghadapi masalah yang sama. Malaria dan diare seperti berulang tahun dengan intensitas yang makin tinggi dan makin meningkat.
Mengapa malaria dan diare berulang tahun dengan perkembangan yang terus meningkat? Di mana masalahnya?

Kalau dilihat dari cara mengatasi masalah ini: kelihatannya sederhana. Diare dan malaria, semuanya dipicu oleh lingkungan diri dan lingkungan fisik di sekitarnya. Mengatasinya juga sederhana: bersih makanan, bersih fisik, cuci tangan, dan lingkungan sekitar yang bersih. Banyak penyakit memang dipicu oleh lingkungan.

Namun justru karena keteledoran kita, ketidakseriusan kita, dan ketidakpedulian kita setiap tahun selalu saja ada anak kita yang meninggal karena diare dan malaria. Kita tidak pernah belajar soal ini dari tahun ke tahun. Ya pemerintah, ya rakyatnya. Semua kita membiarkan hal-hal ini terjadi pada kita dan anak-anak kita.

Kita terus menumpukkan korban tiap tahun. Sampai kapan kita membiarkan korban jatuh karena ketidakpedulian kita? Sampai kapan kita membiarkan hal-hal ini terjadi?

Lingkungan fisik kita sudah begitu jelek. Tata ruang kita sudah amburadul. Tumpang tindih penggunaan tata ruang menyebabkan kita berada dalam lingkaran benang kusut masalah. Tata ruang yang dibuat pemerintah hampir tidak pernah dilaksanakan.

Kota-kota kita begitu kumuh, juga disebabkan karena tata ruang kota yang tidak diatur dengan baik.

Di sisi lain kita sepertinya sudah kehilangan banyak kreativitas, kehilangan banyak prakarsa untuk membantu masyarakat kita keluar dari belitan masalah ini.

Lingkungan fisis yang buruk ini seperti kembaran pula dengan buruknya lingkungan sosial kita. Semakin menipis kepedulian kita terhadap kebaikan bersama. Orang dengan gampang membuang sampah di sembarang tempat, tanpa peduli dengan orang lain. Kita mengatur dan menggunakan ruang fisis pribadi kita tanpa memperhitungkan dampak sosial bagi orang di sekitar kita.

Kita merasa biasa-biasa saja dengan berita diare dan malaria, yang timbul dari kesalahan dan keapatisan kita dalam mengelola dan mengurus lingkungan kita. Kita yakin bahwa berita tentang puluhan pasien diare dan malaria yang meningkat tiap tahun tidak akan pernah menggetarkan kepedulian kita. Karena itu memang kita jatuh pada masalah yang sama.

Mungkin lebih tepat: betapa buruknya lingkungan fisis dan sosial kita.

Bentara, edisi 22 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s