Soal KDRT

Oleh FRANS OBON

Dalam edisi Selasa (19/10/2010) media ini (Flores Pos) di halaman depannya memuat dua berita tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Satunya adalah menimpa keluarga muda dengan usia yang juga masih belia.

Kekerasan dalam rumah tangga terjadi tentu karena ada masalah. Akar masalahnya bisa karena ekonomi, relasi dalam keluarga besar, budaya, masa lalu dari pasangan, dan bisa juga oleh hal-hal sepele. Kedua belah pihak tidak menemukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya naluri dasariah hukum rimba muncul. Yang kuat merasa benar sendiri. Dia menggunakan kekuatan fisik untuk menekan dan memaksakan kehendaknya. Yang lemah tentu saja menjadi korban.

Undang-undang No. 23/2004 tentang Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dibuat untuk melindungi yang lemah yang menjadi korban. Undang-undang ini memungkinkan kekerasan terhadap yang lemah di dalam rumah tangga itu dibawa ke ranah publik, yakni dibawa ke pengadilan. Di sana si pelaku, yang kuat kuasa itu diberi ganjaran. Dihukum.

Undang-undang ini (pasal 4) bertujuan mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga; melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga; menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga; dan memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.

Dengan dibawa ke ranah publik dan hukum masalah ini, ada banyak pihak khawatir hal ini akan menjadi awal dari petaka yang lebih besar yakni hancurnya ikatan perkawinan. Dalam tradisi perkawinan Katolik, hal ini bukanlah hal mudah. Karena tradisi perkawinan Katolik tidak mengenal perceraian.

Tidak mudah memang dalam tradisi di mana rasa malu secara sosial lebih dominan untuk menerima maksud baik di balik undang-undang ini agar kekerasan dalam rumah tangga dihentikan. Bisa yang terjadi akan lebih buruk yakni bubarnya sebuah perkawinan.

Proses hukum kasus kekerasan dalam rumah tangga hanyalah salah satu cara menyelesaikan masalah ini. Cara ini memang keras. Namun hendaknya kedua belah pihak melihat momen ini sebagai proses “pertobatan” radikal untuk bisa memulai membangun relasi perkawinan mereka secara baru, bukan untuk mengakhirinya.

Untuk menuju pada pemahaman ini, tentu saja diperlukan keterlibatan orang lain yang bisa membantu keluarga-keluarga ini membangun semangat baru, membangun cara baru, dan memberi fondasi baru yang lebih kuat dan kokoh bagi kehidupan rumah tangga mereka. Bukan sebaliknya, kedua belah pihak melihat momen ini sebagai momen saling mempermalukan, momen untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Memang diperlukan jiwa besar untuk menerimanya.

Karena itu fokus kedua belah haruslah tetap pada memperbaiki keutuhan kehidupan rumah tangga mereka. Kedua keluarga besar harus pula berada dalam semangat menyelamatkan kehidupan rumah tangga anak mereka. Dua keluarga besar harus membantu menyelesaikan masalah anak mereka, bukan sebaliknya menjaga gengsi keluarga besar. Fokus penyelamatan hendaknya tetap pada kehidupan rumah tangga anak mereka, bukan sebaliknya memperlebar masalah dengan menyebut hal-hal yang tidak perlu, yang membuat masalah bertambah rumit.

Di atas segalanya, baik suami dan istri maupun keluarga besar perlu duduk bersama dan menyerahkan diri sepenuhnya dalam semangat iman yang benar dan berdoa dengan tekun untuk memohon pertolongan Allah. Nilai-nilai religius inilah yang menjadi titik simpul yang mengikat-satukan suami istri dan dua keluarga besar. Karena tanpa fondasi religius, keluarga tidak lebih dari sekadar hidup bersama.

Bentara, edisi 20 Oktober 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s