Bukan Gading Biasa

ilustrasi
Oleh FRANS OBON

Polisi menahan Ichsan Said (57) karena mencuri dua batang gading. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menetap di Bajawa, Kabupaten Ngada. Namun dua gading yang dia curi itu masih dicari oleh polisi. Menurut media, kemungkinan dua gading yang diperkirakan berusia 200-300 tahun itu dijual ke Denpasar (Flores Pos, 12 Oktober 2010).

Satu gading berukuran 1,30 meter dan satunya lagi berukuran 1,40 meter. Dua gading ini disimpan di rumah adat sa’o Nggua Rada Ara, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Flores. Warga kampung Rada Ara melakukan sumpah adat untuk mengutuk pelaku pencurian (Kompas edisi 26 Agustus 2010).

Menurut Kapolsek Ndona, Inspektur Satu Abubakar Sumby, dua gading ini tidak ada di tangan Ichsan Said. Ada kemungkinan pelaku hanya alat sementara, bukan otaknya (aktor intelektual). Namun polisi tetap berusaha mencari dua gading tersebut, termasuk menyebarkan gambar gading ke Polda Bali. Sebab menurut perkiraan polisi gading itu dijual ke Denpasar.

Pencurian gading-gading berusia ratusan tahun di Flores bukan baru terjadi kali ini. Apa pentingnya bagi orang Flores gading-gading seperti ini?

Komunitas-komunitas adat yang memiliki gading-gading di Flores belum pernah menggelar satu pertemuan yang membahas mengenai masalah ini. Apalagi pemeritah daerahnya. Padahal gading-gading itu adalah aset komunitas adat dan suku-suku di Flores. Gading-gading itu adalah salah satu kekayaan anggota suku dan kebanggaan komunitas-komunitas adat. Gading menceritakan banyak hal.

Gading berkaitan dengan belis, yang menurut pandangan orang Flores, merupakan satu bentuk penghargaan terhadap perempuan dan kaum keluarganya. Meskipun masih harus diperdebatkan pendapat para ahli bahwa belis memiliki akarnya dalam upeti di masa lampau. Praktik dengan pemberian gading sebagai salah satu medium belis masih dilakukan sampai saat ini. Harganya saat ini jutaan rupiah. Gading-gading yang dipakai untuk belis ini beredar di antara suku yang memiliki tradisi serupa.

Gading adalah juga sebuah prestise suku dan keluarga tertentu. Karena itu dipelihara turun temurun untuk menceritakan mengenai keberadaan suku. Gading-gading ini meriwayatkan keberadaan suku beserta kebanggaan sosialnya.

Kabanggaan sosial ini diwariskan turun temurun. Karena ini kebanggaan dan warisan suku, maka gading-gading ini dilengkapi dengan cerita-cerita magis religi bahwa gading-gading adat ini memiliki kekuatan atau daya kutuk mematikan bagi anggota suku ataupun orang luar suku yang mengambil atau mencurinya. Daya kutuk yang ditumpahkan leluhur ini membuat anggota suku tidak berani bertindak macam-macam.

Dalam setahun atau dalam kurun waktu tertentu, seluruh anggota suku dan komunitas adat berkumpul di rumah adat. Seluruh barang adat termasuk gading-gading ini dikeluarkan dan diperlihatkan kepada seluruh anggota suku. Ini bukan sekadar kumpulan barang-barang atau benda-benda kuno yang diyakini punya kekuatan magis tertentu, tetapi erat kaitannya dengan riwayat tak terputuskan dari komunitas suku.

Semua barang ini menceritakan tentang suku dan nenek moyang mereka. Benda-benda inilah yang menyatukan anggota suku sekarang dengan nenek moyang mereka di masa lampau. Tentang siapa nenek moyang mereka di masa lampau. Tentang kejayaannya. Tentang kesejahtraan. Tentang kekuasaan. Tentang keperkasaan suku. Pendek kata benda-benda ini mempertautkan masa lampau dengan masa sekarang.

Rumat adat itu adalah tiang pokok yang mengikat seluruh anggota suku. Tiang pokok yang mempersatukan anggota suku agar tidak tercerai berai. Dengan berkumpulnya anggota suku di dalam rumah adat dan diperlihatkannya barang-barang adat ini, langsung muncul sebuah cerita besar (grand story) mengenai suku. Meskipun tidak terkatakan. Tapi di balik tindakan ini, suku akan menjelaskan keberadaan mereka dan nilai-nilai yang mereka harus pertahankan dalam sebuah tradisi. Tradisi yang dinamis, yang tidak kaku. Tradisi yang diwariskan itu tidak kaku karena anggota suku akan selalu mengaktualisasikan keberadaan mereka secara baru. Mereka akan selalu menafsirkan nilai-nilai suku ke dalam kehidupan sosial masyarakat sekarang.

Dengan demikian identitas suku akan terus dipertahankan dan diaktualisasikan. Cerita suku dan seluruh komunitas adat ini akan memberikan inspirasi baru terus menerus kepada anggotanya.

Bukankah ada kepercayaan di Flores bahwa keperkasaan, kejayaan dan kesejahteraan diwariskan di dalam suku? Hal ini akan melahirkan dan memberikan inspirasi kepada anggota suku untuk terus menerus mempertahankan kebanggaan dan kejayaan suku. Energi ini jika ditransformasikan dengan lebih cerdas akan menjadi sumber motivasi bagi generasi sekarang dan masa depan.

Jika demikian pentingnya rumah adat dan barang-barang adat ini, maka kehilangan barang-barang adat harus dilihat pula dalam konteks terganggunya narasi besar suku. Komunitas adat kita tidak punya cerita tertulis mengenai riwayat suku. Medium yang digunakan adalah barang-barang adat ini. Karena itu kehilangan barang adat harus dilihat sebagai masalah serius oleh seluruh anggota suku.

Hal yang paling jelas adalah ancaman terhadap kehilangan identitas suku dan terputusnya sebagian dari narasi besar suku. Jadi, kehilangan barang-barang adat terutama gading yang terkait dengan cerita suku dan yang tidak mungkin diadakan lagi, jelas-jelas mengancam nilai-nilai yang dihayati di dalam suku. Karena itu terjadi ancaman kehilangan nilai yang membentuk identitas suku. Karena ini bukan soal barang yang bisa dibeli di pasaran.

Mudahlah dimengerti ketika terjadi kehilangan barang-barang adat di Flores, komunitas-komunitas adat suku tidak melihat masalah ini sebagai masalah serius yang bisa mengancam eksistensi dan identitas suku. Karena memang dalam kehidupan negara repbulik modern seperti sekarang ini, komunitas adat sebagai elemen masyarakat sipil begitu lemah. Bahkan telah lama menjadi perdebatan di ranah pembangunan, pemerintah mengakui adanya suku dan tanah suku sejauh masih ada. Siapa yang mendefinisikan suku dan tanah suku itu ada? Apakah suku atau pemerintah?

Perdebatan ini tidak pernah menguntungkan suku dan komunitas adat karena memang mereka sendiri tidak memelihara tradisi dan kebanggaan suku mereka. Kalau identitas suku hilang, maka apa yang menjadi dasar klaim komunitas suku?

Karena itu kehilangan gading ataupun barang-barang suku dalam komunitas adat Flores haruslah dipandang sebagai masalah penting yang perlu dibahas dan dibicarakan oleh suku. Masyarakat kita akan kehilangan nilai-nilai luhurnya kalau komunitas-komunitas adatnya juga hilang. Karena kita tidak punya sumber nilai-nilai yang akan menjadi pegangan kita.

Tentu saja kita tidak boleh mengerti tradisi komunitas adat itu secara kaku melainkan perlu dipahami dinamis. Nilai-nilai yang dianut yang menunjang pengembangan harkat dan martabat manusia harus terus dipertahankan. Kehalusan budi pekerti kita dibentuk pula oleh nilai-nilai kultural kita.

Jika masalah ini sedemikian penting, maka seluruh komunitas adat suku di Flores perlu membicarakan tentang cara-cara baru mengamankan barang-barang adat komunitas mereka. Rumah adat yang sekarang mungkin tidak memadai lagi untuk menyimpan barang-barang adat. Sebab Flores telah menjadi ruang terbuka. Kita memerlukan cara baru pula agar tidak boleh ada lagi yang bisa mencuri identitas lokal orang-orang Flores.

Flores Pos, edisi 25 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s