Sampai Hati

Oleh FRANS OBON

Polisi Aesesa berhasil mengungkapkan kasus pembunuhan Yohanes Brechmans Biae Dae atau biasa disapa Nyoman. Polisi masih menyembunyikan saksi mata dalam kejadian ini. Dua orang telah ditetapkan jadi tersangka. Satu dari dua tersangka masih menyangkal. Sedangkan satunya mengaku. Satunya lagi, ada di tempat kejadian perkara namun mengaku tidak ikut membunuh korban (Flores Pos edisi 22 Oktober 2010).

Polisi masih terus mendalami kasus ini. Menurut Kapolsek Aesesa, Fisie Muhamad Putra, polisi memiliki cukup bukti. Meski satu pelaku menyangkal, polisi punya saksi.

Kita tidak habis berpikir. Kok tega sekali. Nyoman yang tidak senormal kita dibunuh. Lalu dibuang ke kali (Flores Pos, 15 September 2010). Ini adalah sebuah kejahatan yang mengerikan kita. Kalaupun kata-katanya atau tindakannya membuat kita naik pitam, seharusnya tindakan kita tidak sedemikian jahatnya. Kita perlu memafaafkannya karena memang dia tidak senormal kita.

Mengapa kita yang normal, berpikiran waras, ikut melakukan tindakan sebodoh ini. Kita tidak punya alasan lain untuk menjelaskan tindakan pembunuhan ini. Jawaban kita hanyalah bahwa kita telah kehilangan akal sehat dan telah kehilangan cita rasa religius serta telah kehilangan nilai-nilai moral. Fondasi dasar dari keimanan dan moralitas kita telah rapuh dan hancur.

Apakah sikap ini lahir dari perasaan sentimentil belaka? Tidak. Sikap heran yang penuh tanya ini lahir dari satu keyakinan akan nilai-nilai moral dan religius menyangkut manusia.

Dari segi iman dan moral, kita diwajibkan untuk menghargai martabat pribadi manusia. Inilah fondasi dasar dari kepercayaan religius dan moral umat manusia. Kita menghargai manusia karena martabat pribadinya sebagai manusia. Karena martabat pribadi manusia itulah, yang dalam bahasa religius karena kita adalah ciptaan Tuhan, gambar Allah, maka kita wajib melindungi setiap kehidupan manusia. Kita menentang hukuman mati juga dilihat dalam konteks pemahaman tentang pribadi manusia. Tentang siapa manusia itu.

Perlindungan dan penghormatan terhadap pribadi manusia tidak dilakukan dalam konteks perbedaan normal dan tidak normal, berkemampuan rendah, rata-rata atau tinggi. Sebab kalau demikian, kita menghina dan bersikap semena-mena terhadap yang tidak normal, yang berkemampuan lebih rendah dari kita. Penghargaan dan perlindungan dilakukan dalam konteks ontologis, konteks yang lebih dalam yakni karena justru dia seorang manusia. Pribadi utuh seperti kita.

Kita berubah menjadi mausia yang hina, tidak bermartabat, dan tidak bermoral, karena kita membunuh orang yang tidak normal. Apalagi diajak berkelahi sebelum dia dihabisi. Kita membunuh orang yang tidak bisa membela dirinya sendiri.

Dengan mengajak berkelahi sebelum dibunuh, memperlihatkan bahwa betapa kita mempermainkan kehidupan seorang manusia. Seakan-akan kita mendapatkan satu ekstasi dari permainan itu sebelum dia dibunuh. Dan puncaknya adalah dia dibunuh.
Sebegitu tegakah kita yang normal terhadap yang tidak normal? Sampai hatikah kita bertindak demikian jahatnya?

Kita yang normal seharusnya dan wajib hukumnya melindungi yang lemah, yang tidak bisa membela diri. Kita diwajibkan oleh nilai-nilai moral dan iman religius kita untuk membantu mereka. Karena itu dalam kasus pembunuhan terhadap Nyoman, hati kita, jiwa kita berkata: sampai hati.

Bentara, edisi 23 Oktober 2010

Satu pemikiran pada “Sampai Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s