Jangan Pakai Kekerasan

Oleh FRANS OBON

Setelah sempat terjadi simpang siur informasi, publik akhirnya mendapatkan kejelasan bahwa Yohanes Kaing (33), warga Desa Rana Mbeling, Manggarai Timur tertembak oleh peluru polisi di perutnya dan tembus hingga punggung. Dia dibawa ke RSUD Ruteng setelah sempat mendapat pertolongan di Puskesmas Mukun (Flores Pos edisi, 30 Oktober 2010).

Yohanes Kaing mengaku bahwa dia dan dua rekannya terlibat dalam judi bola guling. Mereka tahu polisi datang dan tidak mau memberikan perlawanan. Menurut Kaing, polisi datang dan memeluk lehernya, lalu pistol ditodongkan ke perutnya. Meledak. Dia terluka pada perut bagian kiri tembus hingga pinggang.

Namun versi polisi, tembakan terpaksa dilakukan karena pelaku berusaha melarikan diri saat hendak ditangkap. Ini artinya tembakan untuk melumpuhkan pelaku yang biasanya di kaki, meleset ke perut tembus ke punggung.

Publik ingin mendapatkan informasi yang benar dalam kasus ini. Karenanya opini publik minta polisi berkata jujur dan mengatakan yang sebenarnya.

Arah tembakan dapat diketahui secara forensik. Ada dua kemungkinan. Saat hendak ditangkap, pelaku melarikan diri ke arah salah satu polisi, sehingga saat polisi melepaskan tembakan untuk melumpuhkan, peluru tembus dari perut bagian kiri hingga punggung. Ini berarti tembakan dari depan. Inilah kemungkinan yang bisa masuk akal. Sehingga arah lukanya dari perut tembus punggung. Namun kalau pelaku melarikan diri, berarti pelaku berusaha meninggalkan polisi. Berarti arah lukanya dari belakang, dari punggung tembus ke perut. Karena tidak mungkin orang melarikan diri dengan cara membelakangi.

Seperti opini publik umumnya, kita mendukung tekad dan komitmen polisi untuk memberantas perjudian. Karena judi potensial untuk membawa kerugian bagi pribadi, keluarga, dan masyarakat. Sebagai aparat penegak hukum yang mau menegakkan hukum dengan tujuan untuk menegakkan kebaikan pribadi, keluarga, dan masyarakat, polisi diminta tidak memakai kewenangannya yang diberikan oleh negara untuk menggunakan kekerasan dalam memberantas perjudian.

Dalam kasus judi bola guling di Rana Mbeling ini, tujuan baik polisi untuk memberantas perjudian tentu perlu didukung. Tapi ketika polisi menggunakan sarana dengan dampak buruk yang lebih besar yakni menembak dengan menimbulkan luka di perut bagian kiri hingga tembus punggung, maka tindakan itu tidak lagi proporsional. Orang bisa mati. Dampak buruk dari tindakan menembak itu jauh lebih besar daripada tujuan baik yang terkandung dalam usaha pemberantasan judi bola guling di Rana Mbeling itu.

Karena itu publik minta polisi bertindak proporsional dalam memberantas perjudian. Jangan menggunakan kekerasan “yang berlebihan”, karena tindakan yang berlebihan melawan prinsip-prinsip proporsionalitas dalam moral tindakan.

Kasus Rana Mbeling hendaknya menjadi pertama dan terakhir di mana aparat menggunakan kekerasan dalam memberantas perjudian di Flores. Biarkan efek jera itu muncul dari proses hukum, bukan dengan cara menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan. Karena ketika kita menggunakan kekerasan, maka potensi pelanggaran hak asasi manusia di sana, terutama hak hidup, bisa terjadi. Karena itu jangan gunakan kekerasan. Bertindaklah proporsional.

Bentara, 1 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s