Melawan Intoleransi

Oleh FRANS OBON

Ketika mengunjung Indonesia, Rabu lalu, Presiden Barack Obama memuji toleransi dan perkembangan demokrasi di Indonesia. Presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat ini menyebutkan satu contoh bahwa letak Masjid yang berdekatan dengan gereja Katolik menunjukkan bahwa Indonesia mempromosikan toleransi, menjadi simbol keberagaman dan pluralisme agama di Indonesia (lihat The Christian Science Monitor edisi 10 November 2010).

Masih banyak tulisan pers asing dan pers nasional yang menunjukkan bahwa betapa Presiden Barack Obama memberikan rakyat Indonesia optimisme mengenai masa depan bangsa ini, baik dalam hal demokrasi maupun dalam hal penghargaan terhadap pluralisme sebab rakyat Indonesia mendiami beribu-ribu pulau, terbentang dari Sabang sampai Merauke, berdiri di atas falsafah negara Pancasila, dengan keragaman yang begitu tinggi.

Presiden Obama menyebutkan bahwa prinsip Bhineka Tunggal Ika menjadi contoh yang diberikan Indonesia bagi dunia mengenai penghargaan terhadap pluralisme. Dalam pidato di Kampus Universitas Indonesia itu, di hadapan 6.500 undangan, Presiden Obama fokus pada pembangunan, demokrasi dan toleransi agama.

Indonesia, dengan penduduk begini banyak, adalah salah satu kekuatan penting dalam kancah dan percaturan dunia internasional. Termasuk di ASEAN. Bhineka Tunggal Ika tidak lain adalah sebuah tekad bersama sebagai bangsa agar rakyat Indonesia melihat perbedaan ini sebagai kekuatan nasional dalam menghadapi persaingan global. Maka sulit rasanya diterima jika keberagaman ini menjadi alasan untuk tercerai-berainya rakyat Indonesia. Adalah sebuah kegagalan bagi bangsa bila keberagaman ini tidak dijadikan kekuatan nasional untuk menghadapi persaingan dan percaturan dunia.

Di saat berbagai bangsa di dunia melakukan konsolidasi nasional untuk menghadapi persaingan global dan berjuang mati-matian untuk mengambil manfaat dari percaturan global ini untuk kepentingan nasional, maka tidak ada salahnya juga Indonesia terus melakukan konsolidasi kekuatan nasionalnya untuk bisa menghadapi bangsa-bangsa lain.

Kita tentu tidak menutup mata terhadap adanya gesekan-gesekan di dalam keberagaman tersebut akibat dari perbedaan kepentingan. Namun bangsa yang besar, yang mulai matang berdemokrasi, menyelesaikan perbedaan-perbedaan itu melalui dialog yang konstruktif. Menumbuhkan prakarsa-prakarsa untuk ada bersama secara damai (coexistence peacefully). Bahwa perbedaan dan keberagamaan adalah sebuah keterberian, namun akan sangat menguntungkan Indonesia sebagai bangsa, jika diikatsatukan dalam sebuah kepentingan bersama demi kebaikan dan kesejahteraan bersama pula.

Ketika menonton pidato Presiden Obama di televisi, saya akhirnya teringat pesan Ramadhan Vatikan, Agustus lalu ( Zenit.org edisi 27 Agustus 2010). Pesan yang dikeluarkan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama ini menambil tema: Together in overcoming violence among followers of different religious (Bersama melawan kekerasan antarumat beragama). Pesan ini menyebutkan bahwa kekerasan antarumat beragama terjadi karena manipulasi agama untuk kepentingan politik atau tujuan lainnya, diskriminasi karena perbedaan etnik dan identitas agama. Kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan juga menjadi sebab langsung dan tak langsung dari kekerasan antarumat beragama.

Pesan ini minta otoritas sipil dan otoritas religius memberikan kontribusi untuk mengakhiri kekerasan antarumat beragama demi kebaikan bersama dalam masyarakat. Perlindungan hukum dari otoritas sipil sangat diperlukan untuk menghentikan para pelaku kekerasan.

Namun di atas semua itu, pesan ini mengajak semua umat beragama membuka hati untuk saling memaafkan dan rekonsiliasi, sehingga membuahkan koeksistensi yang damai, mengakui bahwa kita memilki kesamaan dan menghormati perbedaan sebagai dasar dari budaya dialog, mendorong penghargaan terhadap martabat pribadi manusia tanpa dikaitkan dengan afiliasi agama dan etnik.

Terakhir pesan ini mengajak para pemimpin agama-agama untuk mendidik kaum muda mengenai penghargaan terhadap perbedaan baik melalui pengajaran langsung maupun melalui buku-buku.

Kita sering tidak paham mengapa agama yang mengajarkan kita kebaikan menjadi sumber perpecahan, menjadi pemicu kekerasan, dan membenarkan tindakan-tindakan yang merendahkan martabat dan pribadi manusia, yang dalam bahasa agama sendiri manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Agama semestinya menjadikan manusia lebih manusia. Agama mestinya menjadi inspirasi untuk melahirkan prakarsa-prakarsa baru untuk tidak saja memberikan nilai moral pada pembangunan, tapi memberikan kontribusi pada pembangunan fisik di atas landasan moral dan etika yang benar. Jadi, agama tidak hanya mengajarkan kita berdoa, tapi juga mengajarkan kita bahwa kerja untuk memuliakan martabat dan pribadi manusia adalah juga tugas agama. Dengan demikian, agama selalu menyeimbangkan antara yang rohani dan badaniah.

Agama, menurut para ahli, dapat dipahami dalam tiga kategori. Pertama, agama adalah soal pengalaman inti manusia terhadap Yang Kudus, yang kita sebut dan kita panggil sebagai Allah. Pengalaman inti (core experience) semacam ini menjadi pengalaman semua umat manusia. Kapan dan di mana saja. Kedua, kenangan bersama. Agama merayakan pengalaman iman itu dalam kebersamaan. Ada sebuah collective memory yang menyatukan berbagai orang dari berbagai latarbelakang dan merayakannya dalam sebuah ritus. Ketiga, soal interpretasi. Umat beragama ketika keluar dari ruang ibadah menginterpretasikan pengalaman iman akan Allah itu dalam kehidupan pribadi dan sosial mereka. Justru di sini, seringkali menjadi kesulitan bagi kita, bahwa kita sering gagal untuk mempertautkan ibadah-ibadah kita yang begitu meriah dengan kehidupan sosial kita. Kita meriah dalam ibadah tapi minim prakarsa untuk membantu orang lain keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan.

Sebaliknya interpretasi kita terhadap pengalaman akan Allah itu tidak membantu kita untuk bersama-sama melawan keterbelakangan dan kemiskinan yang membelenggu manusia, tapi memperbesar kecurigaan-kecurigaan. Politik menyumbangkan sebagian besar dari kecurigaan dan pertikaian atas nama agama ini. Politik menjadikan agama sebagai ideologi, bukan sebagai pengalaman akan Allah yang membebaskan manusia.

Seandainya agama bersatu untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, maka tidaklah mudah bagi politisi untuk memanipulasi agama sebagai ideologi bagi kepentingannya. Karena manipulasi agama untuk kepentingan politik oleh politisi akan berhadapan dengan daya kritis dari umat beragama.

Agama, bagi kita di Flores, harus menjadi inspirasi untuk melahirkan prakarsa baru untuk membebaskan manusia dari kemiskinan dan keterbelengguan. Kita menjadikan agama sebagai pengalaman akan Allah yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan perbudakan kemiskinan dan keterbelakangan. Karena itu kita harus berjuang melawan segala bentuk intoleransi atas nama etnik, agama, dan politik. Intoleransi akan merendahkan martabat kita sebagai manusia. Karenanya kita tidak boleh memberi tempat bagi politik yang memperbesar intoleransi.

Asal Omong, Edisi 13 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s