Nalar dan Integritas

Oleh FRANS OBON

Sabtu pekan lalu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Flores minta saya bicara soal berpikir kritis. Masih ada tema lain dengan sejumlah pembicara, yang berasal dari Universitas Flores, termasuk Ketua BEM Universitas Flores Agustinus Kembardi Sumbi.

Saya bicara dengan Agustinus Kembardi Sumbi dan Willy Lanamana, salah satu pembicara. Willy Lanamana adalah Pembantu Rektor III yang membidangi kemahasiswaan di Universitas Flores. Baik Agustinus Kembardi Sumbi maupun Willy Lanamana sama-sama memiliki visi bahwa daya nalar mahasiswa perlu dikembangkan. Pengembangan daya nalar ini perlu agar dalam menyikapi masalah-masalah sosial kemasyarakatan mahasiswa memiliki pendasaran ilmiah (Flores Pos, edisi 22 November 2010).

Sikap kritis, begitu kata saya dalam pertemuan itu, adalah bagian dari proses humanisasi. Karena manusia adalah makhluk berkesadaran. Ciri dasar dari manusia adalah berkesadaran dan sikap kritis lahir dari sikap berkesadaran itu, atau dalam bahasa Rene Decartes, cogito ergo sum, yang artinya saya berpikir, maka saya ada. Revolusi ilmu pengetahuan tentu saja lahir dari kesadaran cogito ergo sum ini. Bahwa manusia selalu berikhtiar dan berusaha untuk menemukan jawaban-jawaban rasional atas masalah-masalah yang dihadapinya. Tahap ketiga di mana manusia menurut Aguste Comte tidak lagi mendasarkan diri pada takhyul yang tak rasional tapi didasarkan pada ilmu pengetahuan.

Namun sebagaimana dikatakan oleh Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, tidak adanya kesadaran kritis itu sering tertanam kuat dalam diri kelompok yang tertindas, sehingga meski tertindas namun mereka merasa tidak tertindas. Dengan kata lain begitu dalam tertanamnya kesadaran yang tidak kritis itu dalam diri kelompok tertindas melahirkan sikap pasrah. Situasi dan kondisi ini menjadi kuat bagai batu karang karena kuatnya internalisasi nilai-nilai sosio-kultur yang tidak membebaskan ini. Paling tidak menurut Freire, ada dua kelompok di dalam kultur demikian: kelompok penindas (oppressor) dan kelompok tertindas (the oppressed).

Kultur dominasi kelompok elite penindas ini mempengaruhi sistem pendidikan, di mana pendidikan tidak membebaskan manusia karena sistem pendidikan yang diterapkan adalah banking system. Di mana peserta didik dilihat sebagai tabula rasa kosong yang harus diisi. Peserta didik adalah botol kosong yang harus diisi dengan air ilmu pengetahuan. Padahal, peserta didik memiliki kemampuan (innate faculty power) dasariah untuk berkembang. Karena itu Freire menawarkan perlunya proses dialogis di dalam sistem pendidikan. Sistem dialogis inilah yang harus dikembangkan di dalam lembaga-lembaga pendidikan, terutama di lembaga pendidikan tinggi.

Para mahasiswa Universitas Flores, Ende, Flores.

Pengembangan nalar dan nilai-nilai keilmiahan di kampus-kampus kita, jika kita memakai terminologi Freire, harus berjalan dalam dua fokus utama: aksi dan refleksi. Kampus-kampus kita, dalam terminologi Freire, tidak saja menjadi pusat aktivisme, tapi menjadi pusat refleksi.

Saya setuju bahwa kampus-kampus kita di Flores tidak saja menjadi pusat aktivisme di mana organisasi-organisasi mahasiswa fokus pada aksi-aksi, namun harus pula menjadi lembaga yang mementingkan refleksi. Sebagai pusat pendidikan dan pelatihan yang mengkaderkan pemimpin masa depan di Flores, kampus-kampus kita perlu juga memfokuskan perhatiannya pada refleksi-refleksi kritis ilmiah. Kampus dalam konsep seperti ini menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran kritis, yang bisa membantu masyarakat mendapatkan referensi dalam mengatasi masalah yang dihadapi.

Masyarakat kita, misalnya, tidak mengerti banyak soal tambang. Tidak mengerti banyak soal HIV/AIDS. Tidak mengerti banyak soal rabies. Tidak mengerti banyak masalah ekonomi dan pemanasan global. Tidak mengerti banyak pengaruh perubahan iklim terhadap hasil pertanian. Masih banyak masalah lainnya di Flores, yang perlu menjadi pusat kajian lembaga pendidikan tinggi. Semua masalah ini tentu saja perlu ditelaah secara kritis dan telaahan kritis itu adalah sumbangan, kontribusi lembaga pendidikan tinggi bagi pengembangan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, lembaga pendidikan tinggi menjadi sumber referensi bagi masyarakat dalam menanggapi masalah-masalah yang dihadapi.

Pendidikan adalah bagian dari proses kultural, proses kreatif kebudayaan. Karena itu membangun dunia pendidikan adalah bagian dari proses kita membangun kebudayaan. Dengan demikian sekolah adalah proses lanjutan dari keluarga untuk membangun kreativitas kultural itu dan masyarakat luas adalah medan penemuan daya kreasi kebudayaan. Dengan ini mau dikatakan bahwa ada interaksi timbal balik antara masyarakat dan lembaga pendidikan tinggi. Proses kultural ini tidak akan pernah berakhir dan pendidikan sebagai bagian dari proses kebudayaan tidak akan pernah berakhir dalam memberikan sumbangannya pada kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.

Proses kultural itu tidak saja mencakup aspek nalar, tapi harus lebih komprehensif. Saya bertitik tolak dari empat pilar pendidikan yang dikemukakan oleh UNESCO (1997) yakni learning to know, learning to do, learning to live togather dan learning to be. Apa yang kita sebutkan dengan pengembangan penalaran itu tidak lain adalah pengembangan aspek learning to know. Tiga aspek lainnya perlu dikembangkan. Dalam aspek learning to do, yang dilakukan bukan saja soal keterampilan fisik smelainkan kompetensi personal yang menggabungkan antara keterampilan dan bakat seperti prakarsa pribadi, perilaku sosial, dan keberanian mengambil risiko.

Aspek learning to live togather saat ini menjadi penting yakni bagaimana lembaga pendidikan kita menjadi tempat di mana para mahasiswa kita memahami perbedaan, pluralisme, kemajemukan sebagai hal yang wajar. Perbedaan tidak menjadi sumber konflik. Sebaliknya kemajemukan menjadi kekuatan. Hal ini menurut saya menjadi penting dalam konteks Flores. Belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda latarbelakang entah agama dan etnik menjadi penting diajarkan agar perbedaantidak memisahkan kita, melainkan menjadi kekuatan untuk maju bersama.

Dalam masalah tambang, masalah HIV/AIDS, masalah rabies, misalnya, mengapa kita tidak pernah melihat semuanya dalam konteks masalah bersama, sehingga kita perlu menanggulanginya bersama? Mengapa kita tidak pernah bisa membangun ekonomi Flores dalam konteks kawasan? Padahal dalam dunia yang makin global, kekuatan kawasan tetap menjadi penting. Mungkin salah satu sebabnya adalah karena kita terkungkung di dalam etnisitas yang kental.

Learning to be tidak lain adalah pengembangan pribadi manusia yang utuh menyeluruh dan terbentuknya komitmen pribadi dan komitmen sosial. Terbentuknya pribadi yang toleran, menghargai orang lain dan milik orang lain dan hidup berdampingan secara damai (koeksistensi) dan mencintai budaya kehidupan (proeksistensi).

Pengembangan nalar tidaklah cukup. Dari pengalaman kita di Flores, kita memerlukan pribadi-pribadi yang punya integritas. Integritas itu mengacu pada nilai-nilai. Ini mengharuskan kita agar tidak saja memfokuskan perhatian pada pengembangan nalar tapi juga pendidikan nilai. Lembaga kita tidak boleh hanya melahirkan banyak orang pintar. Tapi lembaga pendidikan kita perlu melahirkan orang yang punya integritas. Politik di Flores, misalnya, memerlukan dua aspek ini: nalar dan integritas. Lembaga pendidikan tinggi sebagai pencetak generasi dan pemimpin masa depan harus memainkan peran untuk membentuk manusia dengan dua karakter ini.

Asal Omong Edisi, 27 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s