Natal untuk Keadaban Publik

Oleh FRANS OBON

Natal datang lagi. Seperti musim, Natal datang bersamaan dengan hampir rampungnya tahun lama dan tidak lama lagi kita menuju tahun baru. Kadang-kadang Natal datang sebagai sebuah rutinitas dan kesempatan meraup keuntungan ekonomis dari hasil penjualan suvenir dan barang-barang konsumtif dan ornamen Natal yang makin meningkat yang pada akhirnya juga melahirkan sikap dan mentalitas konsumeristis.

Di Ruteng, Kabupaten Manggarai orang menyambut Natal dengan membuat kandang Natal di tempat publik dan di lorong-lorong (Flores Pos edisi 23 Desember 2010). Lampu kelap kelip. Natal pun makin dirasakan. Di Indonesia, ekspresi keagamaan di wilayah publik adalah hal biasa. Orang biasa melakukan arak-arakan dan iring-iringan kendaraan menyambut perayaan keagamaan di jalan-jalan umum. Orang bisa melakukan prosesi keagamaan di jalan. Memang kadang-kadang batas tipis antara kepentingan publik yang majemuk dan plural dan kepentingan keagamaan amat dengan mudah ditembus sehingga ada campur aduk kepentingan.
Lanjutkan membaca “Natal untuk Keadaban Publik”

Patung Komodo

Oleh FRANS OBON

Binatang purba Varanus komodoensis di Manggarai Barat kembali menjadi topik hangat. Sebelumnya protes merebak dari ujung barat hingga timur Flores mengenai rencana pemindahan komodo dari habitatnya di cagar alam Wae Wul ke Bali. Pemindahan aset wisata Manggarai Barat ini dinilai sebagai salah satu proses sistematis pemiskinan masyarakat Flores sebab sama saja artinya memindahkan sumber daya ekonomi masyarakat Flores dari sisi pariwisata, kendati ada kelemahan dari pemerintah lokal yang tidak memberi perhatian pada kelestarian biawak raksasa itu. Dengan kata lain meski ancaman kepunahan itu diakibatkan oleh ketidakmampuan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan aset-aset daerahnya sebagai mesin pencetak uang, namun tidaklah menjadi alasan bagi pencabutan sumber daya ekonomi masyarakat lokal ke daerah lain.
Lanjutkan membaca “Patung Komodo”

Vigili Kehidupan

Oleh FRANS OBON

Selama tahun ini jumlah kasus bunuh diri meningkat di Flores. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan kaum muda dengan usia produktif. Motif dan alasan bunuh diri hampir tidak terungkap. Umumnya dari keterangan keluarga, para pelaku tidak memiliki problem dalam kehidupan harian mereka. Tapi saya kira budaya malu (a shame culture) dan budaya bisu (silent culture) yang masih dominan di Flores menjadi penyebab utama mengapa motif dan alasan dari kasus-kasus tersebut hampir tidak pernah terungkap. Sebab kasus-kasus tersebut juga menyangkut nama baik dan kebanggaan sosial keluarga.
Lanjutkan membaca “Vigili Kehidupan”

Proyek Suksesi

Oleh FRANS OBON

Politik uang dalam pemilihan gubernur dan bupati/walikota di daerah-daerah telah menjadi diskusi hangat elite Jakarta. Beberapa waktu lalu Jakarta Lawyers club membicarakan masalah politik uang dalam pemilihan umum kepala dan wakil kepala daerah. Editorial Media Indonesia edisi 6 Desember 2010 berjudul “Membabat Politik Uang” mengulas masalah yang sama. Tentu masih banyak forum yang membicarakan kerisauan mengenai politik pemilihan umum kepala daerah di Indonesia.
Lanjutkan membaca “Proyek Suksesi”

Tekun dengan Yang Lokal

Oleh FRANS OBON

Warna lokal cukup kental pada perayaan 475 tahun berdirinya Ordo Santa Ursula di Ende, pada perayaan puncak 25 November 2010, yang bertepatan dengan perayaan Hari Guru Nasional. Perayaan ekaristi yang berlangsung di halaman tengah kompleks persekolahan Suster-Suster Ursulin ini dipimpin Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota, di bawah tema: Bertekun dan Maju Sampai Akhir.
Lanjutkan membaca “Tekun dengan Yang Lokal”