Tekun dengan Yang Lokal

Oleh FRANS OBON

Warna lokal cukup kental pada perayaan 475 tahun berdirinya Ordo Santa Ursula di Ende, pada perayaan puncak 25 November 2010, yang bertepatan dengan perayaan Hari Guru Nasional. Perayaan ekaristi yang berlangsung di halaman tengah kompleks persekolahan Suster-Suster Ursulin ini dipimpin Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota, di bawah tema: Bertekun dan Maju Sampai Akhir.

Tarian jai yang dibawakan para siswa mengiringi para imam konselebrantes dan para suster menuju tempat perayaan ekaristi. Dalam barisan para imam dan suster-suster Ursulin yang mengenakan selendang tenunan motif Flores, terdapat barisan para siswa dengan bendera di tangan dan selempang bertuliskan negara yang menandakan tempat di mana saja para suster Ursulin bekerja di lima benua. Tarian-tarian pada perarakan dan misa bernuansa Flores. Nyanyian bermotifkan lagu-lagu Timor dan Flores dengan iringan angklung yang dimainkan para siswa SMPK Santa Ursula menghentakkan kaki kita. Menyentuh relung-relung hati dan perasaan religius orang-orang Flores dan Timor.

Dalam kotbahnya Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota mengatakan, tema: Bertekun dan Maju Sampai Akhir, menunjukkan komitmen dan perjalanan spiritualitas atau pengalaman kerohanian para suster. Dalam usia 475 tahun itu para suster Ursulin tidak saja bertekun dalam membangun komitmen untuk menerjemahkan spiritualitas ke dalam karya-karya nyata, tapi aktif dan kreatif untuk menjawabi masalah-masalah baru sesuai dengan semangat dan napas zaman.

Dalam konteks itulah Uskup Sensi bicara soal bertekun yang aktif dan kreatif. Uskup Agung ini menegaskan bahwa bertekun dalam pengertian hanya sekadar bertahan bukanlah perwujudan dari iman dan spiritualitas yang benar. Yang dibutuhkan di sini tidak saja bertekun, tetapi tekun yang aktif dan kreatif untuk mencapai kemajuan. Tekun yang aktif dan kreatif untuk menemukan kehendak Allah, dengan mencontohi Yesus sendiri.

Dari kegiatan persiapan hingga perayaan puncak, sejauh yang saya ikuti, ada satu benang merah yang saya nilai sebagai proses membadannya spiritualitas lintas batas, yang dihidupi oleh para suster Ursulin. Kepala Sekolah SMPK Santa Ursula Ende, Suster Regina Praptiwi OSU mengatakan kepada saya pada satu kesempatan bahwa sekolah yang dipimpinnya mau mengarahkan para siswa untuk mencintai budaya lokal. Mencintai budaya lokal tidak berarti membenci atau menutup diri terhadap yang global, tetapi dia ingin menegaskan betapa pentingnya dialektika yang kreatif dalam dua kutub antara yang global dan yang lokal. Yang global tak dapat dihayati tanpa yang lokal, dan yang lokal tidak akan memberikan energi kreatif tanpa adanya sentuhan dengan yang global.

Saya sendiri melihat betapa ada usaha dan komitmen yang kuat dalam diri para suster Ursulin untuk mendorong para siswa di sekolah-sekolah asuhannya untuk mencintai budayanya dan belajar mengambil makna. Seluruh acara mulai dari lomba, perayaan ekaristi hingga hiburan, nuansa budaya lokal cukup menonjol. Para siswa juga menunjukkan antusiasmenya. Ini tentu menggembirakan hati kita bahwa para siswa menaruh minat pada budayanya sendiri. Sejak dini anak-anak kita tidak merasa asing dengan budaya mereka sendiri. Sebaliknya mereka akrab dengan budaya, yang merupakan jati diri mereka sendiri.

Karena para siswa berasal dari berbagai latarbelakang etnik di Flores atau di Nusantara, maka momen-momen ini dijadikan ajang pendidikan bagi para siswa untuk saling belajar budaya daerah lain. Para siswa diperkenalkan dengan cara pandang lain dari orang yang berbeda budaya. Dengan kata lain budaya sudah masuk di sekolah-sekolah.

Dengan sentuhan budaya lokal yang ditanam sejak dini pada diri anak-anak sesungguhnya kita memberikan mereka keseimbangan dalam menjawabi ketegangan antara yang lokal dan yang global, antara partikular dan universal. Gereja Katolik sendiri juga berada dalam ketegangan yang kreatif antara yang partikular dan yang universal. Gereja adalah satu, kudus, umum, dan apostolik. Namun yang satu, kudus, umum, dan apostolik itu membadan dalam yang partikular.

Hubungan keduanya adalah hubungan yang tak terpisahkan, hubungan jiwa badan dalam filsafat antropologi. Karena yang universal tidak bisa dipikirkan tanpa yang partikular, sebaliknya yang partikular tidak bisa dipikirkan tanpa yang universal. Yang universal itu membumi dalam partikular.

Seperti dikatakan Uskup Sensi, tekun tidak saja berarti sekadar bertahan, tapi tekun yang aktif dan kreatif. Di dalam konteks iman, hubungan yang partikular dan universal itu menjadi penting. Kita membutuhkan medium yang konkret dari budaya kita untuk mengalami akan Allah yang hidup dan Allah yang membebaskan. Kita merayakan iman kita dengan cara kita dan dengan apa yang baik dari budaya kita. Dengan demikian, budaya kita juga harus terbuka pada Injil, yang membebaskan dan memberinya ragi sehingga budaya kita berkembang secara kreatif.

Budaya yang sehat akan membantu pengembangan iman dan sebaliknya iman akan membantu agar budaya menjadi sehat. Proses kreatif seperti ini harus menjadi roh dan semangat keagamaan kita di Flores.

Dari pengalaman-pengalaman kita selama ini baik itu di dalam pengalaman keagamaan maupun kehidupan sosial politik, ada satu desakan yang kuat agar budaya kita perlu diragi oleh Injil dan iman, sehingga budaya Flores makin bermutu. Budaya kita perlu disehatkan oleh semangat Injil dan iman akan Allah yang hidup dan Allah yang membebaskan. Budaya politik kita, misalnya, menjadi tidak sehat karena kita mengesampingkan pengalaman akan Allah yang membebaskan. Semangat martiria, semangat altruisme, dan semangat berkorban bagi kepentingan bersama telah hilang dari praktik politik kita di Flores. Karena itu meski perayaan kita semarak, tapi tidak terlalu banyak menginspirasi kita dalam berpolitik.

Tekun dengan yang lokal tentu saja tidak berhenti pada pengenalan akan budaya lokal, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita secara kreatif mengembangkan yang lokal untuk menghasilkan budaya yang bermutu. Tekun dengan yang lokal adalah tekun yang aktif dan kreatif. Karena hanya dengan ketekunan semacam itu kita bisa maju.

Asal Omong, edisi 4 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s