Vigili Kehidupan

Oleh FRANS OBON

Selama tahun ini jumlah kasus bunuh diri meningkat di Flores. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan kaum muda dengan usia produktif. Motif dan alasan bunuh diri hampir tidak terungkap. Umumnya dari keterangan keluarga, para pelaku tidak memiliki problem dalam kehidupan harian mereka. Tapi saya kira budaya malu (a shame culture) dan budaya bisu (silent culture) yang masih dominan di Flores menjadi penyebab utama mengapa motif dan alasan dari kasus-kasus tersebut hampir tidak pernah terungkap. Sebab kasus-kasus tersebut juga menyangkut nama baik dan kebanggaan sosial keluarga.

Jumlah korban pada tahun ini memang masih bisa dihitung dengan jari. Tapi intensitas kejadian yang makin sering membuat kita mulai memikirkan lebih serius dan memiliki keberanian untuk membongkar alasan dan motif sehingga kita memiliki kerangka penyelesaian masalah yang memadai.

Sebagaimana diberitakan Harian Flores Pos (edisi 16 Desember 2010), kasus bunuh diri terjadi di Desa Lengangedha, Kabupaten Ngada. Seorang gadis bernama Ervina Beka (25) bunuh diri. Gadis ini pernah bekerja sebagai buruh migran di Malaysia. Sementara di Desa Bangka Ajang, Kabupaten Manggarai Frumentius Gambang (20) tewas bunuh diri. Menurut keluarga, watak pendiam dari korban menyebabkan mereka sulit mengetahui alasan dia melakukan bunuh diri. Watak diam ini disebabkan karena korban gagap.

Yang paling menyedihkan juga adalah seorang ibu Florata Sueng dari Langke Majok, Desa Naong, Satarmese, Kabupaten Manggarai membunuh bayinya setelah dilahirkan di kebun. Dia terpaksa harus berhadapan dengan hukum.

Cerita Florata Sueng adalah bagian dari kisah pedih keluarga-keluarga buruh migran di seluruh Flores yang telah mulai bergolak sejak tahun 1970-an, yang dimulai dari ujung timur dan sekarang menjalar hingga ujung barat Nusa Bunga ini. Perempuan adalah kelompok yang paling rentan dari migrasi buruh migran dari desa-desa di Flores yang bekerja di Malaysia. Nilai-nilai kristiani dari keluarga yang dalam pengertian Gereja Katolik sebagai gereja mini porakporanda. Banyak keluarga berantakan. Perempuan-perempuan yang ditinggalkan yang dipaksa menjadi orang tua tunggal (single parent) seakan lepas kendali untuk mempertahankan nilai-nilai kristiani perkawinan mereka. Perceraian dan nikah lagi tanpa diberkati gereja sudah banyak terjadi. Banyak anak dilahirkan tanpa mengenal ayah mereka.

Hingga sekarang ini memang harus diakui bahwa masalah buruh migran terutama perempuan-perempuan korban migrasi tenaga kerja dari desa-desa di Flores belum banyak dikaji oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Flores. Bahkan pemerintah tidak memiliki program untuk membantu dan menolong perempuan korban migrasi tenaga kerja ke luar Flores ini. Yang cukup gemuruh dalam media dan langit publik Flores adalah soal politik. Sedemikian kuatnya ketertarikan pada politik itu menyebabkan isu-isu buruh migran menjadi sesuatu yang periferi di dalam media mainstream di Flores atau di Nusa Tenggara Timur.

Meningkatkanya kasus-kasus bunuh diri dan pembunuhan bayi tanpa dosa ini mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, saya teringat akan ajakan Paus Benediktus XVI bagi umat Katolik di seluruh dunia pada empat pekan masa Adventus tahun ini agar umat Katolik berdoa bagi kehidupan yang belum dilahirkan ke dunia ini. Paus meluncurkan doa vigili bagi kehidupan yang belum dilahirkan (prayer vigil for unborn life). Kedua, saya teringat akan tema Adventus di sebuah biara bruder dari Serikat Sabda Allah di Ende yakni Biara Bruder Santo Konradus. Temanya: Menunggu Saja Tidak Cukup.

Pertama, ajakan Paus Benediktus XVI mengenai doa vigili bagi kehidupan yang belum dilahirkan. Paus asal Jerman ini ingin mendedikasikan empat pekan masa Adventus tahun ini untuk berdoa bagi kehidupan yang belum dilahirkan. Paus amat gigih mempertahankan posisi moral Gereja Katolik mengenai pentingnya menghargai kehidupan manusia. Karena telah menjadi ancaman serius bagi moralitas dan kehidupan ketika negara-negara di mana kekristenan telah berakar kuat melegalkan abortus. Paus meluncurkan gerakan ini untuk menarik perhatian umat Katolik agar merefleksikan betapa pentingnya mempertahankan kehidupan yang belum dilahirkan ini.

Kedua, di Biara Bruder Santo Konradus Ende (BBK) saya temukan tema selama empat pekan masa adventus begini: Menunggu Saja Tidak Cukup. Terpampang di atas altar dan pada dinding di belakangnya tergantung salib dengan korpus dari ukiran kayu yang indah. Suasana biara hening, asri dan luas. Lama saya berdiri di depan pintu gereja, sebuah kapela yang sederhana. Kapela ini didirikan kemudian, sebab gereja pertama yang ukurannya cukup besar runtuh oleh gempa 12 Desember 1992. Saat itu saya masih menjadi frater TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di Biara tersebut. Saya ikut menyaksikan biara itu porak poranda oleh gempa dahsyat 1992. Tuhan masih mencintai penghuninya dan tidak ada korban yang meninggal dalam kejadian ini.

Menunggu saja tidak cukup. Kata-kata ini selalu saya ingat. Empat pekan masa Adventus dalam kalender liturgis Gereja Katolik memang merupakan kesempatan yang disediakan Gereja bagi umatnya untuk merenungkan dan merefleksi mahakarya agung Allah dalam peristiwa Natal. Momen adventus ini, dari bacaan-bacaan Kitab Suci selama empat pekan itu, sebenarnya adalah momen refleksi situasi riil manusia, yang carut marut oleh konflik, oleh pertikaian, oleh egoisme pribadi, oleh kepentingan kelompok.

Peristiwa Natal kemudian menjadi momen rekonsiliasi, momen untuk mengakhiri semua konflik ini di mana serigala berbaring dengan domba. Situasi di mana mata tombak diubah menjadi mata bajak. Sebuah simbol dari situasi yang penuh konflik berdarah-darah, saling membunuh dan saling mematikan diubah menjadi situasi yang penuh damai, situasi kebersamaan yang produktif menghasilkan kebaikan bersama. Mata tombak yang digunakan untuk saling membunuh diubah menjadi mata bajak untuk menggembur tanah pertanian agar menghasilkan produk pertanian yang berguna bagi kesejahteraan bersama.

Saya berpikir momen empat pekan masa Adventus ini mesti pula dijadikan kesempatan untuk mengkampanyekan perlunya doa vigili untuk menghargai kehidupan di Flores. Mengakhiri hidup dengan tangan sendiri dan dengan tangan manusia jelas-jelas bertentangan dengan iman kita. Natal sebagai peristiwa solidaritas Allah dengan manusia menunjukkan bahwa Allah masuk dalam situasi manusia dan mau mengubah situasi itu agar manusia dimuliakan dan martabatnya yang telah dirusak oleh dosa dipulihkan.

Natal adalah peristiwa inkarnasi di mana Allah menjadi seorang anak, berbicara dengan kita dengan begitu dekat dan mengalami hidup kita sejak dalam kandungan agar hidup kita memiliki kepenuhannya. Saya kira kita di Flores sudah saatnya berkanjang dalam doa dan aksi untuk menyelamatkan kehidupan dan mengakhiri tindakan yang menghilangkan kehidupan dengan tangan manusia. Kita harus bersatu dalam semangat dan komitmen. Vigili kita adalah vigili kehidupan. Di malam Natal, kita mempersembahkan anak-anak dan kaum muda kita agar mereka memiliki kepenuhan kehidupan di dalam Allah yang begitu dekat menyapa dan mencintai kita. Percaya kepada Kristus juga berarti melihat manusia dalam suatu cara baru, dengan penuh kepercayaan dan harapan, kata paus. Kita pun percaya akan hal itu. Sebab Natal adalah bukti bahwa Tuhan mencintai kita. Selamat Pesta Natal.

Asal Omong edisi 18 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s