Patung Komodo

Oleh FRANS OBON

Binatang purba Varanus komodoensis di Manggarai Barat kembali menjadi topik hangat. Sebelumnya protes merebak dari ujung barat hingga timur Flores mengenai rencana pemindahan komodo dari habitatnya di cagar alam Wae Wul ke Bali. Pemindahan aset wisata Manggarai Barat ini dinilai sebagai salah satu proses sistematis pemiskinan masyarakat Flores sebab sama saja artinya memindahkan sumber daya ekonomi masyarakat Flores dari sisi pariwisata, kendati ada kelemahan dari pemerintah lokal yang tidak memberi perhatian pada kelestarian biawak raksasa itu. Dengan kata lain meski ancaman kepunahan itu diakibatkan oleh ketidakmampuan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan aset-aset daerahnya sebagai mesin pencetak uang, namun tidaklah menjadi alasan bagi pencabutan sumber daya ekonomi masyarakat lokal ke daerah lain.

Setelah kontroversi itu berlalu, muncullah masalah tambang Batu Gosok. Lagi-lagi visi pembangunan pemerintah daerah telah merunyamkan prospek pengembangan pariwisata. Tidaklah rasional tambang berada pada satu sisi dari pariwisata. Dua hal yang berbeda yang dipaksakan berada pada dua sisi dari satu keping sama sekali kontrapoduktif. Rezim pemerintah lokal berganti. Pariwisata diproklamirkan menjadi salah satu prioritas.

Komitmen pembangunan pariwisata itu muncul di tengah gencarnya kampanye agar komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia (New Seven Wonders of Nature). Vote Komodo, nama kampanye itu bergema di seantero nusantara. Bahkan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia berencana tahun 2011 komodo akan menjadi maskot pariwisata nasional. Ini energi baru yang besar untuk pengembangan pariwisata di Flores, terutama Manggarai Barat.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya beberapa waktu lalu di Kupang ketika menerima panitia pelaksana Hari Pers Nasional 9 Feburari 2011 mengatakan, presiden yang akan menghadiri Hari Peringatan Pers Nasional di Kupang nanti akan melakukan vote komodo sebagai kampanye nasional untuk memenangkan komodo sebagai salah satu keajaiban dunia.

“Kami sudah berkoordinasi dengan panitia nasional dan rencananya presiden akan memberikan suara untuk komodo pada puncak Hari Pers Nasional. Saya minta supaya disiapkan dengan baik,” kata Lebu Raya.

Harian Flores Pos (edisi 18 Desember 2010) memberitakan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Manggarai Barat Editasius Endi menganjurkan kepada pemerintah daerah untuk membangun patung komodo raksasa di Labuan Bajo sebagai bagian dari kampanye agar komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Menurut dia, pembangunan patung ini memiliki banyak nilai positif. “Saya pikir patung itu didirikan di puncak Pramuka Labuan Bajo karena letaknya strategis,” kata Endi.

Selain patung ini dipasang juga baliho komodo yang besar di tempat-tempat strategis di Labuan Bajo. Hal yang sama dilakukan di kota-kota lain di NTT sebagai bagian dari partisipasi dan dukungan masyarakat NTT terhadap kampanye ini.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Manggarai Barat, Paulus Selasa mengatakan spanduk dan baliho bisa dilakukan saat ini sebab bahan-bahannya sudah disiapkan. Tapi usulan untuk membangun patung komodo raksasa, Selasa mengatakan tergantung anggaran. Ini artinya proyek pembangunan patung komodo raksasa ini tergantung dari alokasi anggaran dalam APBD Manggarai Barat.

Manggarai Barat lagi beruntung sekarang. Pemerintah pusat aktif mengkampanyekan vote komodo. Hal ini tentu saja tidak hanya menguntungkan citra positif pariwisata Manggarai Barat, tetapi saya kira akan ada dukungan anggaran yang besar dari pemerintah pusat terhadap pengembangan pariwisata Manggarai Barat. Pemerintah daerah tidak terlalu susah meyakinkan pemerintah pusat untuk mengalokasikan anggaran bagi pengembangan pariwisata Manggarai Barat. Sebab apa gunanya pemerintah pusat mengkampanyekan komodo begitu gencar jika kampanye itu tidak disertai alokasi anggaran bagi pengembangan pariwisata Manggarai Barat.

Dengan ikutnya pemerintah pusat dan pemerintah provinsi serta partisipasi seluruh masyarakat NTT termasuk rakyat Indonesia untuk melakukan vote komodo maka tugas pemerintah daerah untuk mempromosikan aset wisata Manggarai Barat menjadi lebih ringan. Vote komodo yang dilakukan oleh kedutaan besar Indonesia di berbagai negara paling tidak telah pula memperluas kampanye pariwisata di Manggarai Barat.

Momentum ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah daerah Manggarai Barat untuk melakukan konservasi bagi pemurnian genetik dan usaha lainnya yang mengarah pada kelestarian komodo di Manggarai Barat. Dengan demikian polemik dan rencana pemindahan komodo ke Bali seperti diperdebatkan beberapa waktu lalu dengan alasan pemurnian genetik tidak akan terulang lagi di masa depan karena proses pemurnian genetik dan alasan-alasan tersembunyi lainnya untuk memindahkan aset pariwisata Manggarai Barat dapat dicegah. Proses itu harus dilakukan di Manggarai Barat.

Kampanye yang gencar di mancanegara oleh pemerintah pusat dan kedutaan-kedutaan besar Indonesia di luar negeri jelas-jelas menguntungkan. Salah satunya adalah pemilik-pemilik modal baik di mancanegara maupun di Indonesia mulai melirik ke Manggarai Barat. Ini artinya modal akan mengalir ke Manggarai Barat. Apalagi tren investasi sudah mulai keluar dari pulau Jawa. Karena itu bukan hal yang mengejutkan jika di Labuan Bajo sudah mulai dibangun hotel-hotel berbintang. Kunjungan wisatawan terus meningkat dan lama tinggal makin panjang. Makin banyak pula wisatawan menggelontorkan uangnya di Manggarai Barat.

Karena itu menurut saya usulan membangun patung komodo dengan ukuran besar yang ditempatkan di puncak pramuka dan pemasangan baliho dan spanduk-spanduk besar di Manggarai Barat hanyalah penting untuk menarik perhatian masyarakat lokal mengenai kemungkinan yang terjadi pada pengembangan potensi pariwisata di Manggarai Barat, sekaligus memudahkan kampanye pemerintah untuk mengarahkan perhatian masyarakat pada pengembangan pariwisata. Sebab aksesibilitas masyarakat lokal dalam vote komodo sangatlah terbatas. Petani-petani dari seluruh pelosok Manggarai Barat tidak terlalu paham dengan vote komodo beserta teknologi yang dipakai untuk itu (internet). Tentu ini tidak berarti masyarakat Manggarai Barat terutama dari desa-desa tidak tahu bahwa sekarang ini sedang ada usaha untuk menjadikan komodo sebagai salah satu keajaiban dunia. Informasi dari mulut ke mulut sudah merebak hingga ke desa-desa.

Menurut saya, yang menjadi jauh lebih penting dari kampanye vote komodo di tingkat lokal adalah pentingnya pemerintah daerah membuat grand strategy pengembangan pariwisata di Manggarai Barat. Jika pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bupati Agustinus Ch Dula dan Wakil Bupati Maximus Gasa menjadikan pariwisata sebagai leading sector maka bupati dan wakil bupati harus sungguh memberi perhatian pada pembuatan grand strategy pengembangan pariwisata di Manggarai Barat. Seluruh perencanaan pembangunan di Manggarai Barat harus bisa menunjang pengembangan pariwisata. Semua ini berawal dari perencanaan yang dibuat pemerintah daerah.

Tugas Kepala Bappeda di bawah pimpinan Pak Benny Nandjong menjadi jauh lebih penting dan dia harus mengalahkan mentalitas proyek di kalangan birokrasi. Sebab ada kecenderungan di kalangan birokrasi menciptakan program (proyek?) yang besar, tapi mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan pengembangan pariwisata.

Tentu saja bupati dan wakil bupati harus pula mengontrol perencanaan ini sebab perencanaan yang ada akan memperlihatkan apakah visi dan misi bupati sungguh tercermin di dalam perencanaan pembangunan atau program pembangunan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) mencerminkan visi dan misi dan program bupati. Sebab dari situlah bupati dan wakil bupati dinilai apakah mereka memenuhi janjinya pada waktu kampanye atau tidak. Atau bupati dan wakil bupati akan mengulangi cerita-cerita lama mengenai kesenjangan antara kampanye dan ketidakmampuan bawahannya menerjemahkan visi dan misi bupati, sementara bupati dan wakil bupati sibuk dari satu seremoni ke seremoni, membaca pidato dari satu seremoni ke seremoni. Karena kalau demikian bupati dan wakil bupati hanya mementingkan politik tunjuk muka ke masyarakat tapi tidak jelas ke mana arahnya pembangunan.

Seluruh perencanaan pengembangan pariwisata itu harus bisa menjawab: apakah masyarakat lokal dapat mengambil keuntungan dari pengembangan pariwisata itu? Masyarakat Manggarai Barat yang sebagian besar petani harus bisa memetik keuntungan dari pengembangan pariwisata tersebut. Jika pemerintah gagal menciptakan program yang membantu masyarakat mendapatkan keuntungan dari pengembangan pariwisata itu, maka sudah pasti masyarakat lokal Manggarai Barat akan menjadi penonton dari kampanye besar vote komodo itu. Memang seringkali pemerintah kita jatuh pada hal-hal artifisial tetapi lupa pada hal-hal esensial yakni apa keuntungan bagi petani di Macang Pacar, di Kuwus, di Lembor, di Waning, di Tentang dan di Orong, di Tengka, di Nggawut, dan di desa-desa lainnya di seluruh Manggarai Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s