Natal untuk Keadaban Publik

Oleh FRANS OBON

Natal datang lagi. Seperti musim, Natal datang bersamaan dengan hampir rampungnya tahun lama dan tidak lama lagi kita menuju tahun baru. Kadang-kadang Natal datang sebagai sebuah rutinitas dan kesempatan meraup keuntungan ekonomis dari hasil penjualan suvenir dan barang-barang konsumtif dan ornamen Natal yang makin meningkat yang pada akhirnya juga melahirkan sikap dan mentalitas konsumeristis.

Di Ruteng, Kabupaten Manggarai orang menyambut Natal dengan membuat kandang Natal di tempat publik dan di lorong-lorong (Flores Pos edisi 23 Desember 2010). Lampu kelap kelip. Natal pun makin dirasakan. Di Indonesia, ekspresi keagamaan di wilayah publik adalah hal biasa. Orang biasa melakukan arak-arakan dan iring-iringan kendaraan menyambut perayaan keagamaan di jalan-jalan umum. Orang bisa melakukan prosesi keagamaan di jalan. Memang kadang-kadang batas tipis antara kepentingan publik yang majemuk dan plural dan kepentingan keagamaan amat dengan mudah ditembus sehingga ada campur aduk kepentingan.

Aktivitas membuat kandang Natal di jalan-jalan umum dan lorong-lorong gang perumahan digagas oleh orang-orang muda dari setiap lingkungan dan kelompok dalam umat basis kegerejaan.

“Sebagai orang tua kita harus hargai. Ini bagus sekali agar orang diingatkan akan perayaan Natal,” kata Maksimus Taryadi dari Kelurahan Carep. Suasana Natal tahun ini, kata Aleks Baru, anggota mudika dari Kelurahan Waso cukup semarak di Ruteng. “Natal itu di dalam hati saja. Tapi perlu juga diciptakan suasana bahwa satu kelompok umat sedang merayakan hari keagamaannya”.

Natal, seperti perayaan keagamaan lainnya, juga disemarakkan oleh penjualan barang-barang makanan dan pakaian serta sandang lainnya. Ornamen Natal laku keras di mana-mana. Di Flores, hal serupa juga terjadi. Tapi tidak sehebat di kota-kota besar. Tampaknya memang kampanye memerangi kemiskinan dengan menerapkan pola hidup sederhana oleh Gereja Katolik Flores mulai perlahan-lahan mendapat sambutan di kalangan umat Katolik. Di pusat-pusat perbelanjaan yang mulai tumbuh di Flores dipenuhi pengunjung sekadar membeli kue dan minuman dan belanja kecil lainnya. Hampir tidak dijumpai pembelian pohon Natal dengan harga ratusan ribu hingga jutaan.

Sebaliknya fokus diarahkan pada perayaan di gereja-gereja. Umat penuh sesak di gereja-gereja. Bahkan di paroki-paroki di pedesaan misa malam Natal dipenuhi umat dari kampung-kampung, yang datang dan kembali dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter naik turun gunung di tengah malam dan keesokan harinya mereka akan pergi lagi ke pusat paroki untuk merayakan misa Natal.

Orang-orang Flores yang berjiwa musikal dengan prakarsa Gereja Katolik memeriahkan perayaan Natal dengan lagu-lagu ciptaan komponis Flores. Karenanya jika Anda merayakan misa Natal di Flores, maka lagu-lagu perayaan ekaristi hampir semuanya bergaya Flores dan Timor. Tarian-tarian untuk memeriahkan perayaan diolah dari tarian-tarian setempat. Perayaan Natal di Flores hampir seluruhnya bersifat inkulturatif.

Sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II dengan prakarsa imam-imam dari Serikat Sabda Allah dan para awam Katolik yang berbakat, proses inkulturasi perayaan ekaristi di Flores menemukan momentumnya yang tepat dan bertumbuh subur. Buku-buku nyanyian dalam bahasa lokal Flores dikerjakan dengan lebih serius. Salah satu buku nyanyian yang monumental dari proses inkultarasi ini adalah Dere Serani (bahasa Manggarai, Flores dan Uskup Ruteng saat itu adalah Mgr Wilhelm van Bekkum SVD). Injil juga diterjemahkan dalam bahasa lokal Flores. Doa-doa dalam bahasa lokal Flores dibuat. Masih dalam semangat itu sekarang ini selain doa dan nyanyian, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero terutama program magisternya fokus pada pengembangan teologi kontekstual.

Dalam semangat pembaruan Konsili Vatikan II perayaan ekaristi di Flores menjadi lebih dinamis dengan mengeksplorasi budaya-budaya lokal. Dengan demikian iman yang dibawa misionaris asing dari Eropa sama sekali tidak menghilangkan identitas masyarakat Flores. Injil bukanlah sesuatu yang dicangkokkan dari luar tapi Injil merasap ke dalam budaya orang Flores sehingga ada yang bilang Flores itu naturaliter christiana. Dengan demikian budaya masyarakat Flores menjadi lebih sehat dan lebih berkualitas oleh iman Katolik. Interaksi yang sehat antara iman dan budaya orang Flores sangat menguntungkan perkembangan Gereja Katolik Flores.

Memang benar bahwa iman sering tumbuh oleh hal-hal lahiriah. Karena iman memerlukan tanda dan simbol untuk mengekspresikannya. Karena iman tidak lahir dalam ruang hampa budaya. Medium budaya diperlukan untuk mengekspresikan iman. Namun, budaya bukan barang sempurna tapi budaya perlu membarui diri. Iman amat berperan di sana untuk melahirkan sebuah budaya yang sehat.


Kandang Natal yang dibuat di jalan umum di Ruteng, Manggarai.

Relasi iman dan budaya bukanlah sesuatu yang artifisial di dalam tradisi iman Katolik. Iman meresapi budaya mengambil inspirasi dari peristiwa Natal. Di sinilah pentingnya peristiwa Natal bahwa Allah masuk dalam situasi manusia dan menebusnya dengan darahNya sendiri agar manusia mendapatkan keselamatan. Peristiwa inkarnasi di mana Sabda menjadi daging (caro factum est) sebagaimana bacaan Injil pada perayaan Natal, 25 Desember tahun ini dari Injil Yohanes jelas-jelas melahirkan sebuah tuntutan baru bagi orang-orang Kristen untuk membangun solidaritas. Dengan demikian solidaritas orang Kristen mengambil inspirasi dari peristiwa inkarnasi ini di mana Allah yang Mahasempurna, Mahaagung, Mahatinggi mengambil rupa seorang manusia dan menjadi salah satu dari kita. Dia mengambil rupa dalam bentuknya yang paling miskin dari situasi manusia. Dia lahir di kandang binatang dan dibungkus dengan kain lampin. Di malam yang dingin, di bawah langit dan bintang gemerlapan karena kuasa Allah, Dia mau menunjukkan kepada kita mengenai pentingnya solidaritas dengan orang-orang miskin dan lemah tak punya kuasa.

Dengan mengambil rupa sebagai orang miskin, Dia memberi kekuatan kepada kelompok tak berdaya ini dan menjadi tanda bagi kaum berkuasa agar kekuasaan tidak digunakan untuk menindas orang-orang miskin dan kecil. Sabda bahagia dan seluruh pengalaman iman Bunda Maria dalam peristiwa inkarnasi ini memperkuat keyakinan kita bahwa orang miskin yang lemah dan tak berdaya mendapat kekuatan dari Allah. Sekaligus menjadi peringatan bagi kaum berkuasa untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan yang menindas kaum tak berdaya.

Karena itu salah satu tuntutan dari Natal adalah membangun solidaritas dan tentu saja solidaritas itu lintas batas karena Allah tidak mengenal sekat primordialisme suku dan agama. Karena itu solidaritas adalah tuntutan moral yang wajib bagi orang Kristen, karena solidaritas ini diambil dari peristiwa inkarnasi di mana Allah masuk dalam situasi manusia. Allah yang diimani oleh orang Katolik bukanlah Allah yang abstrak tapi Allah yang begitu akbar tapi sekaligus begitu dekat.

Dengan peristiwa inkarnasi itu, Allah yang mengambil rupa manusia, Allah ingin mengembalikan citra dan fitrah manusia itu ke dalam martabatnya yang paling mulia. Allah ingin memulihkan citra manusia agar kembali ke asasinya.

Mazmur 8 4-6 mengatakan: “Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engku mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat”. Atau seperti diungkapkan oleh Kitab Kejadian, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia, laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kejadian 1:27). Dengan demikian Kristus sebagai Adam baru ingin memulihkan harkat dan martabat manusia itu agar “gambar dan rupanya” memancarkan kembali wajah Allah.

Kristus yang lahir dalam kehinaan dan kepapaan itu disebut sebagai “Raja Damai” yang memerinah dengan adil. Nabi Yesaya 11 : 2-5 mengatakan: “Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan, ya kesenangannya ialah takut akan Tuhan. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan,dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang tertindas di negeri dengan kejujuran; …. Ia tidak akan menyimpang dan kebenaran dan kesetiaan seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang”.

Raja damai yang digambarkan Yesaya itu adalah dia yang memerintah dengan bijaksana dan berlaku adil. Karena itu Natal dalam pengertian ini tentu saja merupakan momen perubahan dan pembaruan dalam cara memerintah terhadap rakyat. Dengan demikian Natal dengan empat pekan persiapan bagi kita sebenarnya juga adalah momen pembaruan dan perubahan dalam cara kita memerintah dan cara kita menggunakan kekuasaan. Peristiwa Natal menuntut kita untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri, tapi kekuasaan harus diabdikan bagi kepentingan semua orang.

Dengan demikian bagi kita di Flores Natal tidak saja indah di dalam lagu dan tarian yang diambil dari rahim kita sendiri, tetapi Natal bagi kita di Flores, dengan mayoritas Katolik, harus menyumbangkan bagi keadaban publik. Jadi, Natal untuk keadaban publik. Katolik sebagai mayoritas di Flores tidak boleh dan tidak berhak mencabut hak hidup dan kebebasan kelompok-kelompok minoritas tetapi Katolik oleh jumlahnya yang mayoritas dituntut oleh peristiwa Natal untuk membarui ruang-ruang publik di Flores agar makin membangun keadaban publik yang damai, adil, dan jujur, bersama kelompok-kelompok minoritas lainnya. Katolik tidak boleh menggunakan jumlahnya yang mayoritas sebagai kuk yang membebani ruang publik Flores. Tapi Katolik Flores harus membuka hati dan merentangkan tangannya agar menjangkau yang lain dan bersama-sama membarui ruang publik Flores agar lebih beradab dan lebih berprikemanusiaan.

Natal, karenanya, harus pula dapat membarui penggunaan dan pelaksanaan kekuasaan di Flores. Kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menekan dan memanipulasi orang-orang miskin dan tak berdaya, melainkan dalam solidaritas sejati mengajak dan mengangkat harkat dan martabat orang miskin, orang lemah dan tak berkuasa ke tingkat yang lebih mulia. Hal ini mengharuskan kita, siapapun yang berada pada posisi untuk menentukan nasib orang banyak, menghargai harkat dan martabat manusia. Pembangunan yang kita rencanakan tidak boleh menghancurkan harkat dan martabat manusia, atau yang lazim kita sebut pembangunan tidak boleh melanggar hak-hak asasi manusia.

Karena itu kemeriahan Natal kita di Flores harus pula dibarengi adanya usaha untuk membarui ruang publik kita agar lebih beradab dan berperikemanusiaan. Jika peristiwa Natal itu sungguh meresap di dalam kehidupan kita, maka bukan hal mustahil kita akan mencapai kemajuan. Di dalam sejarah kekristenan Barat, tanggung jawab etis dan moral yang dipelopori oleh gereja Katolik selama berabad-abad telah memberikan fondasi dasar yang kokoh bagi kemajuan Barat.

Dengan demikian saya ingin menegaskan bahwa agama memberikan kita inspirasi untuk pemulihan harkat dan martabat manusia, yang menjadi asas hakiki dari demokrasi. Karena itu Natal hendaknya memberikan kontribusi pada keadaban publik. Karena hanya dengan cara ini pula Injil akan meresap budaya Flores sehingga budaya orang-orang Flores akan makin berkualitas dan makin sehat.

Flores Pos edisi 29 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s