Kehilangan Empati

Oleh FRANS OBON

Dalam kasus diare di Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, aparat pemerintah kita mulai dari desa hingga kabupaten menunjukkan sikap kehilangan empati. Hal itu dapat kita baca dari pernyataan mereka yang cenderung mempersalahkan masyarakat. Kasus diare di daerah ini menewaskan Ibrahim Abdullah (11), siswa kelas V Sekolah Dasar Katolik Tonggo dan 15 orang lainnya dirawat. Jumlah penderita bisa lebih dari itu, kata petugas kesehatan, karena hanya 15 orang itulah yang berobat di Puskesmas sehingga terdata (Flores Pos, 10 Januari 2011).

Kita memberi apresiasi kepada aparat pemerintah setempat yang segera ke lapangan setelah mendengar kasus diare menimpa masyarakat. Sikap tanggap itu patut dihargai dan merupakan ungkapan dari tanggung jawab pemerintah. Sikap itulah yang kita butuhkan dari pemerintah setiap kali masyarakat menghadapi bencana dan masalah.
Tapi di lain pihak, pernyataan-pernyataan yang cenderung mempersalahkan masyarakat dalam situasi semacam ini dapat dianggap sebagai kehilangan rasa empati terhadap para korban.

“Sudah disampaikan perlu menjaga kesehatan tapi saksikan sendiri. Tidak ada tempat sampah. Warga banyak tidak memiliki jamban dan kalaupun ada ya seadanya. Kalau sakit percaya dukun lagi,” kata Kades.

“Itu yang berobat ke Pustu dan terdata. Ada warga yang tidak mau berobat ke pustu atau tidak menyampaikan kepada kami untuk didatangi,” kata petugas kesehatan.

“Saya lihat budaya kita sepanjang pinggir pantai Nangaroro ini banyak yang masih buang air besar di pantai. Ini budaya tidak baik,” kata Camat.

Masalah sanitasi lingkungan yang buruk, sumur yang tercemar, buang air besar di pinggir pantai, dan kebiasaan hidup yang tidak sehat bukanlah baru masalah kemarin. Semua ini telah menjadi masalah akut yang menjadi bagian dari keseharian hidup masyarakat kita. Lalu mengapa kita terkejut? Kalau keseharian masyarakat seperti itu dan aparat pemerintah kita hidup di dalam lingkungan demikian pula, maka kita patut pula mempertanyakan, apakah aparat desa, petugas kesehatan, dan aparat kecamatan memandang sanitasi lingkungan yang buruk ini sebagai sesuatu yang biasa sehingga sikap mereka juga menghadapi masalah-masalah tersebut sebagai business as usual? Karena kalau mereka juga memandang ini sebagai masalah serius, mestinya ada program dan jalan keluar (solusi) yang serius pula dilakukan.

Masalah sanitasi yang buruk ini pada umumnya menimpa masyarakat bawah yang secara ekonomis adalah miskin. Karena itu akar terdalam dari persoalan ini adalah kemiskinan. Kalau secara ekonomis kehidupan masyarakat baik maka dengan sendirinya ada kesadaran untuk kebiasaan hidup bersih. Karena itu sanitasi yang buruk bukanlah sekadar masalah mentalitas dan kebiasaan, melainkan kemiskinan.

Ketidakmampuan membayar biaya kesehatan membuat masyarakat mencari alternatif lain yang tidak membutuhkan uang. Kemiskinan menyebabkan orang tidak bisa membuat jamban keluarga. Mungkin murah dalam pandangan pemerintah tapi belum tentu dalam pandangan masyarakat karena tergantung dari kemampuan ekonomi mereka. Pendapatan mereka yang kecil dan musiman harus dibagi lagi untuk banyak keperluan baik untuk kepentingan keluarga maupun biaya hubungan sosial lainnya.

Banyak kali kita pada banyak kesempatan gagal melihat masalah dari sudut pandang para korban. Karena itu pula para pejabat kita kehilangan rasa empati. Mereka lebih mudah mempersalahkan daripada meng-endorse dan meng-courage agar masyarakat mendapat kekuatan dan motivasi baru untuk keluar dari kesulitan. Kehilangan empati bisa juga berakar dalam ketidakmampuan melihat akar masalah sehingga gagal menawarkan solusi tepat.

Bentara, edisi 11 Januari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s