Melawan Akal Sehat

Oleh FRANS OBON

Dua puluh enam orang termakan janji akan menjadi calon pegawai negeri sipil di Badan Kepegawaian Nasional (BKN), meski dengan syarat mereka harus menyerahkan uang panjar kepada pelaku. Sebagian dari mereka telah menyerahkan uang panjar itu. Kasus penipuan ini telah ditangani polisi untuk diproses secara hukum (Flores Pos, 11 Januari 2011).

Di tilik dari tingkat pendidikan, para korban adalah tamatan sarjana dan diploma yang sedang mencari peruntungan di sektor birokrasi negara. Lapangan kerja di sektor birokrasi negara memang menjanjikan sebab gaji pegawai negeri terbilang besar dengan jaminan pensiun yang bagus. Gaji dan jaminan hari tua adalah salah daya tarik yang menyedot para pencari kerja ke sektor birokrasi. Belum lagi jaminan-jaminan lainnya yang mereka terima ketika mereka menduduki posisi-posisi penting di dalam pemerintahan. Sedangkan di sektor swasta, sebagian besar merayap. Hampir sebagian besar gaji pegawai swasta ada di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) dan belum semua perusahaan menerapkan gaji pensiun dan sistem keamanan sosial pekerja lainnya. Sementara pilihan untuk berwiraswasta di daerah seperti di Flores dan Lembata belum menjadi pilihan lantaran pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Tentu tidak ada yang salah dengan pilihan untuk mencari pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih baik. Namun yang membuat kita terheran-heran adalah dalam proses pencarian untuk mendapatkan pekerjaan yang baik itu, ada saja tindakan-tindakan yang melawan akal sehat. Mestinya ada kesadaran untuk mempertanyakan: ini benar atau tidak.

Kita tidak perlu belajar logika (ilmu yang mempelajari asas-asas berpikir), epistemologi (filsafat pengetahuan) untuk memahami masalah ini, tapi cukup saja kita mengambil waktu sedikit untuk berdiam diri dan bertanya: apa ini masuk akal atau tidak. Ini soal common sense.

Banyak kasus penipuan di Flores dan Lembata terjadi hanya karena masyarakat kita malas berpikir, tidak mau mendengar orang lain dan tidak pernah belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Kita ambil contoh dalam kasus multi level marketing dengan sistem piramidal yang sudah sering terjadi di daerah kita. Di daerah tertentu, ada anggota koperasi terpaksa mengambil kembali modal yang mereka telah kumpulkan sedikit demi sedikit dari pendapatan mereka yang kecil hanya karena termakan dengan bisnis multilevel marketing. Mereka termakan janji akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda.

Atau dalam kasus lain ada investasi dengan janji bunga besar tiap bulan. Hanya karena enak didengar dan didasarkan pada saling percaya, orang bisa jatuh dalam perangkap “termakan janji” mendapatkan keuntungan besar.

Jadi, sebenarnya ada begitu banyak orang termakan dengan janji-janji “mendapatkan keuntungan besar” atau yang umum terjadi “janji menjadi pegawai negeri”. Hampir semua janji bohong itu melawan akal sehat (common sense) tapi orang tetap saja jatuh dalam perangkap “kebohongan”.

Jika kita mencari akar terdalam dari ini semua, maka kita temukan akar tunggang dari pohon masalah ini adalah mentalitas kita yang ingin mendapatkan hasil secara instan. Mentalitas untuk mendapatkan keuntungan tanpa kerja keras. Karena itu kita sering kali bertindak melawan akal sehat.

Bentara edisi 12 Januari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s