Merayakan Kesetiaan

Oleh FRANS OBON

Saya mengikuti acara penyerahan cincin kesetiaan 25 tahun dalam berkarya yang diberikan kepada tiga orang guru dan seorang pegawai di Kapela Biara Santa Ursula di Jln Wirajaya, Kamis lalu. Penghargaan ini diberikan oleh Suster-Suster Ursulin di Ende kepada pegawai dan karyawan yang telah mengbadi dan mendedikasikan bakat dan kemampuannya dalam lembaga pendidikan di bawah asuhan para Suster Ursulin.

Di Ende, Suster-Suster Ursulin mengelola sekolah dasar (SDK Santa Ursula), sekolah menengah pertama (SMPK Santa Ursula) dan sebuah sekolah tinggi pembangunan masyarakat (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Santa Ursula). Semuanya terletak di Jln Wirajaya. Dulu para suster Ursulin ini mengelola Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Pemerintah pusat menutup semua SPG dan kemudian fokus pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) sebagai pencetak guru di Indonesia.

Penyerahan cincin ini, yang disebut cincin kesetiaan, dilangsungkan dalam sebuah perayaan ekaristi, yang dipimpin Romo Cyrilus Lena Pr, Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Ende. Dia didampingi Pater John Dami Mukese, SVD doktor lulusan Losbanos, Filipina dalam bidang Community Development.

Maria Magdalena Bhiju (guru SMPK Santa Ursula), Yuliana Ama dan Hendrica Ceme (guru SDK Santa Ursula) dan Kletus Gelu (karyawan) menerima cincin kesetiaan itu. Pemimpin Biara Santa Ursula Ende Suster Caroline OSU mengenakan cincin itu di tangan keempat orang tersebut di depan altar. Sebelumnya cincin-cincin itu diberkati oleh Romo Cyrilus Lena.

Romo Cyrilus dalam kotbahnya bicara soal komitmen, kepekaan terhadap situasi orang lain dan kesediaan membagi sebagai bagian dari spiritualitas pendiri Ordo Santa Ursula, Santa Angela. Karena itu, dimensi terdalam yang menghidupkan semangat dan komitmen dalam bekerja tidak saja dipicu oleh uang (gaji), tetapi oleh iman akan Allah. Karena ketika seseorang hanya fokus pada uang, sehingga “dia disebut sebagai orang upahan” maka karya seseorang sudah kehilangan dimensi religiusnya. Oleh sebab itu dia mengatakan, lembaga tempat para karyawan bekerja juga menjadi ladang rahmat. Sebab itu perayaan 25 tahun dalam mengabdi adalah momen bersyukur.

Ketua Yayasan Taruni Bhakti, Suster Kristofora OSU pada kesempatan itu mengakui bahwa air mata, cucuran keringat, kesetiaan, komitmen, dan pengabdian tampa pamrih para guru dan karyawan “membuat karya para suster indah pada waktunya”.

Maria Magdalena Bhiju, salah satu penerima cincin kesetiaan itu, mengatakan bahwa dia bersama teman-temannya mengalami banyak suka dan duka, mendayung dalam segala keterbatasan. Semula dia menjadi guru di SDK Santa Ursula, tapi ketika para suster membuka SMPK Santa Ursula, dia diminta mengabdi di SMPK Santa Ursula.


Maria Magdalena Bhiju memberikan sambutan.

Menurut dia, ada perubahan dan kemajuan yang besar dalam lembaga tempat dia mengabdi. Dia menilai, penganugerahan cincin ini merupakan penghargaan yang besar atas pengabdian mereka. “Di sini kami mendapatkan penghargaan, di tempat lain belum tentu”.

Ketika kembali dari perayaan ini, di tengah kesibukan dan tenggat deadline di Flores Pos, saya menemukan kembali satu kekuatan lama yang mendorong modernisasi Flores pada 50 tahun lalu. Api dari modernisasi Flores yang dipelopori tokoh-tokoh awam Katolik dan para pastor pada tahun-tahun awal misi Flores di bawah Serikat Sabda Allah – bahkan jauh sebelumnya – adalah komitmen dan kesetiaan dalam berkarya.

Pada abad 15, imam-imam Dominikan, dengan pusat di Malaka, untuk beberapa lama tidak bisa melayani kebutuhan iman umat Katolik di Flores. Beragam sebab. Tapi kesetiaan dalam iman, yang pada akhirnya menjadi inspirasi dalam berkarya tetap dihidupkan di Flores. Karena itu iman Katolik terus hidup. Awam-awam Katolik mengambil peran yang tidak kecil. Banyak sekali kendala dan keterbatasan. Tapi kesetiaan dalam menebarkan benih iman, dari kampung ke kampung, seperti dibuat oleh murid-murid Yesus, berlangsung dengan semangat tanpa lelah.

Demikian pula setelah penyerahan misi Flores dari Serikat Yesus kepada Serikat Sabda Allah tahun 1913/1914, banyak tokoh awam – di samping para pastor – mendedikasikan diri mereka dalam menebarkan benih iman dari Flores Timur hingga Flores Barat. Guru-guru yang di Flores lazim disebut guru-guru tua, memiliki dedikasi dan kesetiaan dalam tugas yang begitu besar. Persis di tengah serba keterbatasan. Tanpa lelah mereka bersama para imam bahu membahu mewartakan benih iman Katolik di Flores. Dengan lampu lentera, di tengah malam pada bulan Mei dan Oktober berdoa rosario dari rumah ke rumah.

Dengan segala keterbatasan pula, tokoh awam, para bruder, para suster dan para pastor Katolik naik turun gunung, berjalan dari kampung ke kampung melayani kesehatan, pendidikan, dan membangun ekonomi masyarakat Flores. Api dari semangat itu adalah kesetiaan dan dedikasi tanpa pamrih. Tanpa banyak mengeluh. Tanpa menuntut berlebihan.

Semangat kesetiaan, ketekunan, dedikasi, dan komit dalam berkarya dalam pandangan saya adalah salah satu api dari modernisasi Flores di masa lampau. Flores mencapai tahap seperti sekarang tentu saja dibangun di atas fondasi semangat kesetiaan dan ketekunan yang menimba inspirasinya di dalam Injil. Dengan demikian modernisasi Flores menunjukkan kepada kita bahwa agama bukanlah pedang terhunus yang membunuh kebebasan, yang membunuh toleransi dan keberagaman, yang membunuh demokrasi, tapi agama adalah api untuk mendorong agar kita mendedikasikan kemampuan dan potensi kita untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Situasi memang telah berubah. Zaman ini kesetiaan dalam karya adalah sebuah kekonyolan. Ekspresi dari ketakberdayaan dan keterbatasan. Orang-orang yang setia dalam berkarya dianggap konyol. Karena tidak mampu mencari pekerjaan lain. Karena tidak mampu berwirausaha. Apalagi di tengah keterbatasan lapangan kerja, orang bisa dihantui oleh ketidakberdayaan untuk mencari alternatif lain. Di tengah persepsi bahwa kesetiaan adalah ketidakberdayaan, maka kesewenang-wenangan bisa terjadi. Orang bisa menyalahgunakan kekuasaan. Pemilik modal bisa bertindak sewenang-wenang. Kesetiaan lalu dianggap sebagai nilai pinggiran.


Para suster bernyanyi sesudah penyerahan cincin.

Kita bisa berbeda pendapat soal kesetiaan dalam berkarya ini. Sebab tergantung pada sisi mana kita berdiri. Karena tiap kita melihat keluar atau ke dalam melalui sebuah jendela. Entah kita dari dalam atau dari luar, kita memandang sesuatu melalui sebuah jendela. Demikian juga apakah kesetiaan dalam karya adalah sebuah nilai utama atau pinggiran, tiap kita bisa berbeda.

Kita bisa bandingkan, mengapa karyawan di Jawa hanya bertahan lima tahun di sebuah tempat kerja,misalnya, lalu keluar menciptakan lapangan kerja sendiri. Sedangkan di Flores, orang bekerja berpuluh-puluh tahun, meski dengan kondisi kerja yang mengecewakan, tapi masih bisa bertahan sampai pensiun. Apakah ini menggambarkan ketakberdayaan dan ketidakmampuan sumber daya manusia, atau sebuah nilai. Tiap kita punya pilihan dalam berkarya. Dalam memilih, selalu ada yang dipertaruhkan.

Tapi kita di Flores punya pengalaman. Kesetiaan, komitmen dan dedikasi adalah api dari modernisasi Flores. Ketika itu perlahan-lahan luntur dan tidak lagi menjadi nilai, kitapun melihat segala sesuatu dari sudut manfaat secara ekonomis. Pragmatisme telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Dengan kata lain, kesetiaan dalam karya di Flores telah menjadi nilai pinggiran. Karena itu kita sering pula tidak menghargai sebuah kesetiaan.

Asal Omong, edisi 29 Januari 2011

Satu pemikiran pada “Merayakan Kesetiaan

  1. Maria Yenista Enga No

    Bravo untuk pengabdian dan kesetiannya para guruku meski pengabdianya tidak seimbang dengan apa yang sepatutnya diterima.Terima kasih, terima kasih bahkan sejuta terima kasih tidak akan mampu menggantikan pengabdian dan cinta yang telah diberikan kepada kami. Sejujurnya beliau bertiga adalah guruku semasa aku SD dan SMP. Terima kasih untuk ibu Rika, Ibu Yuli Ama, Ibu Len begitulah sapaan mereka, dan terima kasih juga guruku yang lain. May God Always Bles U All, semoga semangatnya terus menyala dan sukses selalu. SERVIAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s