Baju Baru Puskopdit


Ketua Puskopdit Yoseph Dopo pada acara pembukaan Rapat Anggota Khusus

Oleh FRANS OBON

Minggu lalu, dalam pertemuan dua hari (5-6 Februari 2011), para pengurus dan manajer koperasi kredit di bawah koordinasi Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) menggelar rapat anggota khusus untuk melakukan amandemen anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART). Yang paling signifikan dalam amandemen ini adalah soal perubahan nama dan hak suara dari koperasi kredit di tingkat primer. Sebab Puskopdit adalah lembaga sekunder, yang melakukan koordinasi dalam gerakan koperasi kredit.

Tahun 1974, koperasi kredit diperkenalkan di Flores melalui Delegatus Sosial (Delsos) Keuskupan Agung Ende. Delsos telah diganti sekarang ini menjadi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE). Gereja Katolik dalam tugasnya membangun iman umat tidak saja fokus pada pembinaan iman agar umat menjadi saleh tapi membangun ekonomi umat agar umat sejahtera secara ekonomis. Komisi PSE dengan segala kelebihan dan keterbatasannya tetap menggelorakan semangat umat untuk membangun ekonomi agar umat terbebas dari kemiskinan. Sampai saat ini kemiskinan masih melilit masyarakat Flores meski usaha mengentas kemiskinan telah banyak dilakukan. Karena itu pula Gereja Katolik tetap berusaha untuk mengambil bagian di dalam usaha-usaha membebaskan masyarakat Flores dari kemiskinan.

Kepeloporan di dalam gerakan koperasi kredit yang dilakukan imam-imam Katolik dan para awam Katolik telah membuahkan hasil yang gemilang sampai saat ini.
Pada tahun-tahun awal gerakan koperasi kredit dibentuklah sebuah badan koordinasi gerakan koperasi kredit. Badan koordinasi ini bertugas mendorong pertumbuhan koperasi kredit di tingkat primer dan menjalankan fungsi koordinatif. Maka terbentuklah Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) NTT Barat yang mencakup Kabupaten Ende, Ngada, Manggarai dan Sumba. Tidak mudah memang menggerakkan koperasi kredit (credit union) di bawah rezim Orde Baru, yang lebih menghendaki adanya badan tunggal koperasi yang dikontrol negara dengan basis di pedesaan. Politik massa mengambang di dalam praktik politik Orde Baru berimbas pada dukungan terhadap gerakan koperasi kredit di pedesaaan oleh pemerintah. Meski demikian, koperasi kredit tetap bertumbuh di Flores.

Bersamaan dengan reformasi politik di Indonesia, terjadi juga perubahan di dalam gerakan koperasi kredit. Tahun 1998, terjadi peralihan generasi kepengurusan di Puskopdit. AD/ART diamandemen. Nama diganti menjadi Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada atau Puskopdit BEN. Karena Nagekeo berdiri sebagai satu kabupaten, terpisah dari kabupaten induknya Ngada, maka nama Puskopdit kemudian menjadi Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, dan Nagekeo atau Puskopdit BENN. Pada Maret 1999, AD/ART Puskopdit BENN disahkan pemerintah.

Tahun 1998 menjadi titik krusial baru di dalam gerakan koperasi kredit. Koperasi kredit mulai mengangkat manajer yang digaji per bulan untuk menjalankan bisnis koperasi kredit sehari-hari, namun tetap di bawah kendali dan pengawasan pengurus. Langkah ini dilakukan agar ada saling kontrol dan saling awas. Ada transparansi dan akuntabilitas. Mobilisasi anggota dilakukan. Tiap koperasi kredit di bawah koordinasi Puskopdit minimal jumlah anggotanya 1.000 orang. Kalau tidak, koperasi kredit tersebut menjadi kelompok binaan atau melakukan amalgamasi dengan koperasi lainnya. Sistem pengelolaan keuangan dilakukan dengan cara komputerisasi. Para manajer diberi pelatihan. Dan masih banyak perubahan-perubahan lainnya, yang boleh dibilang sebagai fondasi-fondasi baru di dalam gerakan koperasi kredit.

Tahun 2011, selama dua hari, tanggal5-6 Februari, para pengurus dan para manajer koperasi kredit membahas amandemen AD/ART. Perubahaan ini bersamaan dengan 40 tahun gerakan koperasi kredit di Asia dan Indonesia. Yang paling krusial dari amandemen ini adalah soal nama dan hak suara. Mengenai nama, peserta rapat anggota khusus sepakat menggantikan Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, dan Nagekeo menjadi Puskopdit Flores Mandiri. Sedangkan hak suara ditentukan oleh jumlah anggota dan aset yang dimiliki koperasi.

Manajer Puskopdit Mikhael Hongkoda Jawa mengatakan pada acara pembukaan, pergantian nama dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan koperasi kredit di bawah Puskopdit ke depan. Ambil contoh Kopdit Sangosay di Bajawa telah memperluas ekspansinya sampai di Manggarai. Maka nama dengan basis etnik tidak lagi bisa menjawabi perubahan ini. Nama Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, dan Nagekeo berbasi etnik. Kalau ada kabupaten yang nanti dimekarkan lagi, maka nama Puskopdit harus mengakomodir lagi perubahan itu. Dengan baju seperti ini, maka Puskopdit sama sekali tidak menjawabi perubahan-perubahan yang terjadi.

Mantan Ketua Puskopdit Theofilus Woghe mengatakan, gerakan koperasi kredit perlu memberi kontribusi pada pembangunan di Flores. Koperasi kredit harus mendorong agar Flores dilihat sebagai sebuah kawasan pembangunan.

Saya hadir pada pertemuan awal dan rangkuman akhir dari amandemen AD/ART itu. Pergantian Puskopdit BENN menjadi Puskopdit Flores Mandiri dari segi jualan memang bagus. Nama Flores sudah dikenal di ajang nasional dan internasional. Puoskopdit Flores Mandiri adalah yang pertama menggunakan nama Flores. Dari segi marketing, nama Flores Mandiri menjadi jauh lebih kuat. Flores memang harus dilihat dan dibangun dalam konteks kawasan. Tidak mudah melakukan hal itu.


Penandatanganan dokumen AD/ART yang sudah diamandemen.

Sebab pembagian kabupaten di Flores berbasiskan etnik. Persaingan tiap etnik masih hidup sampai sekarang. Pluralisme semacam ini memang dari satu sisi dilihat sebagai kekayaan orang-orang Flores, tapi dari sisi lain basis etnik ini akan mempertebal ego dalam pembangunan. Tiap etnik ingin maju sendiri. Koperasi kredit ingin menjembatani ini. Ini artinya gerakan koperasi kredit mau menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan-perbedaan etnis di Flores.

Pilar gerakan koperasi kredit adalah pendidikan, solidaritas, dan swadaya. Tiga pilar ini tidak boleh dilupakan. Di berbagai pertemuan, yang saya hadiri baik di dalam rapat tahun anggota (RAT) maupun dalam berbagai kesempatan, para pengurus terus menerus mengingatkan anggota koperasi kredit untuk membangun solidaritas, keswadayaan, dan mengikuti pendidikan. Kemandirian (keswadayaan) ekonomi itu harus dibangun di dalam kebersamaan (solidaritas). Karena itu Flores Mandiri adalah tekad dan komitmen agar orang-orang Flores, tanpa memandang suku dan agama, membangun kesejahteraan ekonominya. Koperasi kredit telah mengajarkan orang Flores untuk menabung, memiliki akses terhadap lembaga keuangan (acces to finance) dan menjadi pemilik dari lembaga keuangan tersebut.

Dengan ketekunan, konsistensi dan komitmen yang tinggi, gerakan koperasi kredit akan dapat menyejahterakan orang Flores. Tugas Puskopdit Flores Mandiri sebagai lembaga intermediate adalah mendinamisasi gerakan koperasi kredit dan menjadikan koperasi kredit sebagai lembaga keuangan profesional.

Orang-orang Flores, terutama masyarakat pedesaan dan semua orang yang punya komitmen untuk mengentaskan kemiskinan Flores barangkali beruntung karena Gereja Katolik baik para imam maupun awam yang berwawasan ke depan, memperkenalkan koperasi kredit di daerah ini. Dalam usia 40 tahun koperasi kredit di daerah ini, kita mendorong agar koperasi kredit menjadi lembaga keuangan yang profesional. Hanya dengan itu orang-orang Flores memiliki akses terhadap lembaga keuangan untuk membiayai ekonomi produktif mereka.

Asal Omong, edisi 12 Februari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s