Melawan Prasangka


Pelantikan pengurus lingkungan dan komunitas basis di Paroki Onekore, Keuskupan Agung Ende, Flores.

Oleh FRANS OBON

MINGGU lalu saya berada di sebuah kampung di Manggarai. Masyarakat di Kampung Ponto, Desa Ladur, Kecamatan Cibal mendiskusikan dengan hangat isu yang menyebutkan bahwa ada orang yang sedang mencari organ tubuh anak. Dari mana datangnya isu itu? Tidak terlalu jelas. Tapi saya melihat kekhawatiran dan kecemasan terpancar kuat dari wajah-wajah mereka.

Tampaknya teknologi telah memproduksi isu sedemikian luas menjadi sesuatu yang sosial. Pengalaman pribadi menjadi pengalaman sosial. Isu tersebut disebarkan melalui short message system (SMS). Sebaran itu begitu cepat lantaran masyarakat pedesaan sudah memiliki handphone. Persentase yang memiliki handphone memang masih kecil, tapi informasi SMS itu disebarkan dari mulut ke mulut begitu cepat sejalan dengan mobilitas yang makin tinggi. Sepeda motor telah merambah sampai di desa-desa. Banyak pemuda desa menjadi tukang ojek di tengah keterbatasan lapangan kerja.

Isu seperti ini mempertebal prasangka sosial terhadap sesuatu yang asing. Saya kira itulah yang terjadi dengan kasus di Kewapante, Kabupaten Sikka. Masyarakat mencurigai sebuah mobil yang sedang diparkir, yang diduga membawa kepala manusia. Ternyata mobil itu hanya membawa boneka mainan, tas, dan barang-barang dagangan lainnya (Flores Pos edisi 19 Februari 2011). Tapi massa mendatangi halaman Polisi Sektor Kewapante. “Kami sudah cek, mobil yang sudah diamankan di Markas Brimob itu hanya membawa mainan dan barang dagangan lainnya,” kata Kepala Kepolisian Sektor Kewapante AKP M Arif Sadikin. Bila kita mencermati pemberitaan media massa (Flores Pos edisi 19 Februari 2011), disebutkan bahwa pelakunya adalah pria asing tak dikenal. Di Danga, Kabupaten Nagekeo seorang siswa sekolah dasar mengaku dibuntuti oleh orang tak dikenal, yang dideskripiskan sebagai pria bertato pada dahi dan leher (Flores Pos edisi 19 Februari 2011).

Mengapa isu itu begitu mudah dipercaya? Mengapa isu ini yang dipilih oleh orang-orang yang biasa kita sebut sebagai orang yang tidak bertanggung jawab? Apa pula sasaran yang hendak diperoleh. Siapa yang akan mengail di air keruh dari isu seperti ini?

Orang yang kita sering sebut tidak bertanggung jawab ini tahu betul bahwa cerita mencari tumbal untuk pembangunan di Flores merupakan cerita lama. Dulu ceritanya, ada orang yang mencari kepala manusia. Telah banyak peneliti melakukan penelitian tentang rumors atau isu mencari kepala (headhunting) ini. Antara lain disebutkan Janet Hopkins (ed) Headhunting and the Social Imagination in Southeast Asia, 1996; Robert Barnes, “Construction Sacrifice, Kidnapping and Head-Hunting Rumors on Flores and Elswhere in Indonesia” Oceania 64 (2), 1993; Pieter Middel-kopp, Headhunting in Timor and Its Historical Implications, 1963.

Untuk apa mencari kepala manusia? Menurut cerita-cerita itu, kepala-kepala itu ditaruh di dasar jembatan agar jembatan itu kuat. Banjir tidak akan merusak jembatan karena kekuatan roh dari korban tadi menolaknya. Robert Barnes juga menulis demikian. Pelakunya? Ya tetap saja orang asing, yang tidak jelas. Siapa orang asing itu? Juga tidak ada jawaban yang jelas.

Mengapa isu ini begitu mudah dipercaya? Jika Anda melihat ritus-ritus mendirikan rumah di Flores, maka Anda akan menemukan jawabannya. Kalau orang Flores mendirikan rumah, diperlukan darah binatang. Darah itu ditaruh di dasar tiang pokok rumah dan dioleskan pada kayu-kayu rumah. Kalau rumah selesai dibangun, ada upacara – dalam bahasa Manggarai disebut kebeng. Saya menduga bahwa kultur inilah yang memudahkan isu-isu semacam ini mudah dipercaya.

Bila memperhatikan isu yang sedang beredar sekarang, kita lihat ada pergeseran. Bukan hanya kepala, tapi organ lainnya. Jadi, bukan lagi hanya tumbal bagi pembangunan, tapi mengarah pada masalah kesehatan modern yakni transplantasi organ tubuh. Orang mencari hati dan jantung. Bukankah hal ini ada kaitannya dengan transplantasi organ tubuh?


Pelantikan pengurus lingkungan dan komunitas basis di Paroki Onekore, Keuskupan Agung Ende, Flores.

Isu-isu ini melahirkan prasangka sosial. Kerumunan massa memang sulit dikendalikan karena di sana ada ledakan emosi. Karena itu ujung akhir dari sini adalah kerusuhan sosial dengan sasaran orang yang dianggap asing. Kita masih ingat ketika rabies pertama kali muncul di Flores menjelang awal tahun 2000. Ada isu bahwa rabies itu ditularkan lewat makanan. Padahal sama sekali tidak benar bahwa rabies ditularkan lewat makanan.Tapi kekerasan terjadi di Ruteng dengan sasaran orang yang dianggap asing.

Karena itu saya kira isu itu di satu sisi memperkuat dan mempertebal prasangka terhadap sesuatu yang dianggap asing. Sikap masyarakat terhadap reformasi politik di Indonesia ikut memberi kontribusi pada sikap anti sesuatu yang asing ini. Kita lihat bagaimana isu pendatang dan yang asli muncul selama masa reformasi. Perebutan sumber daya politik, ekonomi, dan budaya memperkuat sentimen anti sesuatu yang asing itu. Perebutan sumber daya politik, seperti jabatan-jabatan politik, menggunnakan isu asli dan pendatang. Demikian juga dalam perebutan sumber daya ekonomi. Dalam konteks sosial budaya, ada ketakutan dominasi dari yang disebut pendatang itu terhadap yang asli. Namun yang asing itu tetap saja tidak jelas (anonim). Artinya pendatang itu bisa dikenakan pada siapa saja (their group), asalkan bukan merupakan kelompok kita (our group). Padahal semua kita adalah anak sah dari republik ini. Kita bisa mencari pekerjaan di mana saja. Kita bisa mengabdi di mana saja. Kita berhak hidup di mana saja.

Masyarakat Flores, seperti juga Indonesia umumnya, begitu rentan dengan isu-isu semacam ini. Indonesia sering digambarkan indah, tapi juga menyembunyikan sesuatu yang rapuh. Indonesia adalah bejana tanah liat yang indah yang dihiasi mutu manikam, tapi serentak pula rapuh (fragile) dan mudah berantakan, yang disebabkan oleh kemajemukannya.

Bila kita mempelajari kerusuhan sosial yang terjadi di Tanah Air, hampir sebagian besar bermula dari hal-hal yang sepele. Kita memang khawatir bahwa isu-isu yang diembuskan orang yang tidak bertanggung jawab ini menyulut kerusuhan sosial. Orang yang tidak bertanggung jawab ini memang menggunakan isu-isu yang hidup di dalam suatu komunitas masyarakat untuk mencapai tujuannya.

Kita di Flores telah dibebani oleh begitu banyak masalah. Begitu banyak dana sudah dikucurkan tapi kita masih bergerak lamban.
Kemiskinan masih akut. Kita dihadapkan dengan masalah HIV/AIDS. Masalah rabies belum tuntas. Beban-beban ekonomi, budaya, dan politik mengimpit kita. Situasi-situasi yang sulit ini tidak boleh membuat masyarakat Flores lengah dan tidak cerdas untuk menanggapi berbagai isu, yang hanya akan menambah beban sosial.

Meski kita sulit, tapi kita perlu melawan dengan sekuat tenaga prasangka-prasangka sosial yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Kita di Flores harus cerdas untuk tidak mudah diadudomba. Para pemimpin dan rakyat Flores harus cerdas agar Flores tidak terlalu mudah jatuh di dalam konflik-konflik yang kita sendiri tidak tahu untuk apa dan dari mana datangnya.

Kita memiliki komunitas umat basis. Kita mendiskusikan semua masalah ini dengan kepala dingin dan jernih. Komunitas umat basis harus menjadi tempat kita mendiskusikan semua persoalan dengan cerdas. Semua orang dalam semangat solidaritas harus membantu yang lemah ingatannya, yang lemah jiwanya, dan yang mudah diprovokasi agar mereka kuat. Hanya dengan cara-cara cerdas, perjalanan rakyat Flores menuju kehidupan yang lebih sejahtera akan berlangsung damai. Karena itu kita harus melawan segala bentuk prasangka.

Asal Omong, edisi 26 Februari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s