Tobat untuk Hidup Baru

@fransobon

Peserta Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende, Flores, 6-11 Juli 2010.

Oleh FRANS OBON

Hari Rabu pekan ini, umat Katolik di seluruh dunia memasuki masa 40 hari berpuasa. Masa tobat itu dimulai dengan perayaan Hari Rabu Abu. Tiap umat Katolik ditandai dahinya dengan abu sebagai simbol dimulainya pertobatan. Saya menyaksikan betapa banyak umat menjejali gereja-gereja untuk mengikuti perayaan Rabu Abu itu. Ini pemandangan yang biasa di gereja-gereja di Flores. Pada hari itu, banyak umat Katolik meninggalkan sejenak kesibukan mereka untuk mengikuti perayaan dimulainya masa puasa (prapaskah).

Secara teologis, tidaklah terbantahkan bahwa manusia perlu terus menerus menata dan membarui dirinya. Gereja Katolik, dengan mengacu pada keterbukaan diri manusia terhadap rahmat Allah, menyediakan masa 40 hari, yang diambil dari tradisi perjalanan bangsa Israel selama 40 hari dari Mesir menuju Tanah Terjanji sebagai momen membenahi diri. Seperti sebuah handphone, manusia memang perlu mengisi kembali batereinya agar berfungsi kembali dengan baik. Demikian pula, manusia dengan low battery tidak akan berperan maksimal untuk menciptakan kesejahteraan bersama yang lebih baik dan lebih bermutu.

Pertobatan tidak saja dibangun untuk membarui diri secara pribadi, tapi manusia dipanggil bersama manusia lainnya untuk membarui, memperbaiki, dan menata lingkungan sosialnya, termasuk relasi di antara manusia.

Anda jangan salah mengerti, seolah-olah pertobatan pribadi itu tidak penting. Pertobatan pribadi itu mutlak dilakukan. Karena akar dari dosa ada pada tiap-tiap pribadi manusia, yang bersumber di dalam inti dirinya yang paling dalam yakni hati nuraninya. “Koyaklah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah pada Tuhan Allahmu” (Yoel 2:13a).

Karena itu puasa sejati adalah perubahan radikal di dalam inti diri manusia yakni hatinya sebagai pusat dan inti diri. Karena semua ungkapan perkataan, dan perbuatan serta sikap tindakan berasal dari dalam hati manusia (lihat Mateus 15:18).

Dalam konteks teologi, pertobatan menjadi kesempatan untuk makin memurnikan hati kita karena hati kita adalah bait Roh Kudus dan milik Allah (bdk 1 Kor. 6:19). Jika demikian, pertobatan tidak lain semacam menyediakan tempat dan ruang di mana Allah menyapa manusia. Karena itu pertobatan adalah proses pemurnian suara hati kita agar suara hati kita menampakkan suara Allah. Itulah pertobatan sejati yakni manusia menyingkirkan semua penghalang dalam dirinya dan membiarkan Allah menyapanya sehingga manusia dalam pengertian Kristen menjadi “rupa dan gambar Allah” dan “bait Roh Kudus”.

Pembaruan diri personal itu, yang mengasah hati nurani agar tajam membedakan yang baik dan buruk, harus dilakukan secara bersama-sama di dalam komunitas. Harus dilakukan dalam konteks kebersamaan. Tujuannya tentu sama yakni untuk pembaruan kehidupan sosial bersama agar kehidupan bersama menjadi lebih manusiawi. Karena itu selama masa 40 hari ini, puasa kita harus dilihat pula dalam konteks pembaruan kehidupan sosial kita.

Dalam pertemuan pastoral Gereja Katolik Regio Nusa Tenggara di Ruteng (22-27 Agustus 1999), para uskup dalam seruan akhir pertemuan mendesak dan mendorong umat Katolik di Nusa Tenggara (Bali, NTB, dan NTT) melakukan pertobatan agar tercipta tata hidup baru di Nusa Tenggara dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya (lihat John M Prior dan Amatus Woi (Ed) Membaca Tanda Zaman pada Akar Sebuah Zaman, Maumere: Puslit Candraditya, 2003).

Ada enam butir seruan para uskup Nusa Tenggara tersebut. Pertama, umat Katolik harus terus menerus mengupayakan pembaruan diri dalam bentuk pertobatan dengan mengarahkan diri pada Tuhan dan SabdaNya, dan membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi. Kedua, meningkatkan semangat persaudaraan dengan sesama anggota masyarakat dalam kemajemukan demi terciptanya masyarakat yang saling menghargai. Ketiga, menghidupkan persekutuan-persekutuan yang menghayati nilai-nilai Kerajaan Allah demi menggerakkan kemampuan masyarakat untuk mencintai dan mengembangkan lingkungan hidup secara manusiawi sesuai dengan rencana Sang Pencipta. Keempat, para pemimpin gereja dan masyarakat meningkatkan pengabdian dalam semangat demokratis, memihak rakyat, penuh pengorbanan, ketulusan dan kejernihan hati. Kelima, umat Katolik bersama segenap lapisan masyarakat mengembangkan nilai budaya yang baik, semakin berkepribadian yang utuh, tidak terasing dari budaya sendiri, dan hidup dalam suasana yang aman, bebas, dan bertanggung jawab. Keenam, membangun segala bidang kehidupan sehingga masyarakat Nusa Tenggara makin sejahtera dan bebas dari kekurangan dan ketertinggalan.

@frans obon

Ajakan tobat untuk hidup baru dalam pertemuan tersebut tidak lain adalah menata kembali struktur-struktur di dalam masyarakat agar lebih manusiawi setelah berada 32 tahun di bawah kekuasaan Orde Baru. Ajakan itu tentu saja merupakan refleksi Gereja Katolik Nusa Tenggara dalam konteks reformasi politik di Indonesia. Sebab gurita kekusaan Orde Baru itu telah masuk ke dalam struktur kehidupan masyarakat, termasuk dalam kehidupan umat Katolik di Nusa Tenggara.

Kita masih ingat Surat Gembala Uskup Agung Ende, Mgr Vincent Sensi Potokota yang berjudul “Jangan Salah Pilih” diterbitkan menjelang Pemilihan Umum April 2009 lalu. Surat gembala itu diterbitkan dalam masa puasa, menyongsong pemilihan anggota legislatif mulai dari daerah hingga nasional.

Bersamaan dengan seruan pertobatan pada masa prapaskah tahun itu, Uskup Sensi menegaskan penting dan mutlak dilakukan pertobatan sebagai pembaruan hati nurani umat Katolik agar dengan cerdas menjatuhkan pilihan politiknya demi mendapatkan wakil rakyat yang berkualitas. Bahkan peranan Gereja Katolik dalam menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara itu direfleksikan melalui katekese yang dilakukan di komunitas-kumintas umat basis.

Reformasi politik untuk tatanan hidup baru itu, sebagaimana diserukan oleh para uskup Nusa Tenggara pada pertemuan di Ruteng tersebut, juga menuntut diperlukannya orang Katolik menunjukkan jati diri dalam politik. Seperti dikatakan oleh John M Prior dalam buku yang sama tadi, orang Katolik perlu menunjukkan jati dirinya. Dia bilang, “Sambil menolak fundamentalisme budaya dan fanatisme agama yang tribalistik dan sambil berlawanan dengan arus brutalisasi budaya dan kehidupan sosial, kita perlu menemukan jati diri baru yang utuh-terbuka bersama dengan umat Protestan, dan umat Pantekosta, serta para penganut agama Islam dan Hindu”.

Menurut John Prior, jati diri orang Katolik ke depan adalah jati diri yang utuh-terbuka. “Kita perlu membongkar rumusan identitas yang terlalu eksklusif dan berani melintas tapal batas identitas budaya dan agama sambil mendengar suara-suara beranekaragam, malah mendengar suara-suara yang seakan-akan saling bertentangan namun sesungguhnya membangun simfoni serasi bersama. Dan hasil yang kita capai adalah relasi baru dengan Allah, sesama dan alam ciptaan yang sudah dibebaskan dari dominasi totalistik-otokratik dan fragmentasi tribalistik fanatik. Zaman menantang kita untuk menemukan jati diri majemuk sambil menegosiasi pluralitas”.

Di dalam konteks Flores, saya kira seruan itu masih teramat relevan. Gereja Katolik menyebut keterlibatannya dalam menata struktur manusiawi ini dengan sebutan pastoral tata dunia. Kendati dalam musyawarah pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende Juli 2010 lalu, keterlibatan dalam tata dunia ini dinilai masih jauh panggang dari api. Karena itu kita perlu lakukan tobat untuk hidup baru di dalam komunitas-komunitas basis kita sehingga komunitas basis di Flores sungguh menjadi motor penggerak bagi kehidupan bersama yang lebih manusiawi. Dengan begitu orang Katolik Flores sungguh terlibat di dalam pastoral tata dunia dan mengambil bagian bersama orang lain dalam mengatasi masalah-masalah dunia.

Asal Omong, edisi 12 Maret 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s