Wela Bombang Pariwisata

Presentasi makalah (kiri-kanan) Pius Baut, Frans Obon, dan P Dr Hubert Muda SVD.

Oleh FRANS OBON

SEKITAR seratus penyuluh agama bukan pegawai negeri sipil dari Katolik, Protestan, Islam, dan Hindu berkumpul selama tiga hari (17-19 Maret 2011) di Hotel Pelangi Labuan Bajo untuk membahas peranan mereka dalam konteks pengembangan pariwisata Manggarai Barat.

Sejak tahun lalu, sebuah lembaga swadaya masyarakat berbasis di Swiss, New Seven Wonders of Nature mengadakan voting objek wisata di dunia, yang menurut masyarakat internasional menjadi salah satu keajaiban dunia. Salah satu dari objek wisata kelas dunia yang difavoritkan menjadi salah satu keajaiban dunia itu adalah binatang komodo (Varanus komodoensis) yang terdapat di Manggarai Barat. Pemenang lomba ini akan diumumkan November mendatang.

Bersamaan dengan kampanye New Seven Wonders of Nature itu, terjadi peningkatan kunjungan wisatawan (domestik dan internasional) ke Manggarai Barat. Apalagi objek wisata di Manggarai Barat memang bukan hanya komodo. Masih ada objek wisata budaya dan ekoturisme. Sehingga Forum Pariwsata Manggarai Barat mengkampanyekan dalam website mereka: Komodo and so much more.

Menurut data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat, dalam setahun terakhir terjadi lonjakan kunjungan wisatawan sekitar sepuluh ribu lebih. Para wisatawan juga makin betah dan lama tinggal di Labuan Bajo. Dari hasil survei Swisscontact, sebuah lembaga nirlaba asal Swiss yang bekerja di Labuan Bajo, rata-rata lama tinggal para wisatawan di Labuan Bajo sekitar 4,58 hari. Selama tahun lalu (2010), masih menurut survei yang sama, total uang yang dibelanjakan para wisatawan di Manggarai Barat sebesar Rp152 miliar lebih. Sebesar Rp1,2 miliar adalah pendapatan pemerintah Manggarai Barat dari sektor pariwisata. Perkiraan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat, ke depan akan makin banyak wisatawan datang ke Manggarai Barat dan akan makin lama tinggal di sana.

Pemerintah Manggarai Barat telah mencanangkan bahwa pariwisata adalah leading sector. Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula dan wakil bupati Maksimus Gasa sudah mengambil kebijakan bahwa lima tahun ke depan, pemerintahan keduanya akan menjadikan pariwisata sebagai leading sector. Sedangkan sektor lainnya harus bisa mendukung sektor utama ini.

Tampaknya Kementerian Agama Manggarai Barat ingin memberikan kontribusinya bagi pengembangan pariwisata Manggarai Barat. Maka dibikinlah pertemuan dua hari bagi para penyuluh agama bukan pegawai negeri sipil itu.

Kepala Kementerian Agama Manggarai Barat Kristo Mahal dalam acara pembukaan kegiatan berbicara mengenai kontribusi yang bisa diberikan para penyuluh agama bukan pegawai negeri sipil dalam konteks pengembangan pariwisata. Para penyuluh agama ini datang dari tujuh kecamatan di Manggarai Barat. Ini berarti para penyuluh bergerak di akar rumput. Dengan itu diharapkan, masyarakat lokal dibantu untuk mendapatkan benefit dari pengembangan pariwisata di Manggarai Barat.

Kristo Mahal, jebolan dari Seminari Tinggi Ritapiret ini bilang pariwisata di satu sisi adalah peluang tapi di sisi lain tantangan. “Peluang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan, tapi juga bisa bikin orang resah dan bikin masalah”.

Agama, begitu menurut dia, di mana di dalamnya penyuluh agama bisa berperan, bikin kuat ketahanan mental dan moral masyarakat agar “ekspor budaya dan nilai-nilai yang dianut para wisatawan itu tidak bikin kita gegar budaya”.

Bupati Mabar Agustinus Ch Dula (bertopi) saat rehat setelah acara pembukaan.

Menutup sambutannya, Kristo membacakan puisi wela bombang. Wela bombang dalam bahasa Manggarai gelombang laut ganas, yang bisa menyapu apa dan siapa saja yang dijumpainya. Wela bombang dalam konteks yang luas adalah derasnya pengaruh luar yang menghancurkan identitas lokal. Wela bombang memang ibarat tsunami yang menyapu semua identitas lokal.

Dalam puisi itu, pariwisata sebagai bagian dari peradaban modern, tidak saja bikin kita senang, tapi wela bombang modernitas itu akan menggilas nilai-nilai dan kultur lokal bila tidak dikelola dengan baik.

Dia bilang, sebelum pertemuan teknis pada hari berikunya yang akan menghasilkan kerangka kerja bagi masing-masing agama, pada hari pertama pertemuan diisi dengan masukan-masukan dari para pakar di bidangnya. Kementerian Agama Manggarai Barat mengundang Pater Dr Hubert Muda SVD. Pater Hubert pernah menjadi dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere. Kini dia jadi dosen Sekolah Tinggi Pastoral (Stipas) Santo Sirilus Ruteng dan Ketua Lembaga Penelitian Van Bekkum-Verheyen berbasis di Ruteng. Mewakili perspektif pemerintah, Pius Baut, dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai Barat. Moderatornya Frans Obon, wartawan Harian Flores Pos

Acara seremoni dibuka Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula. Bupati bilang pertemuan para penyuluh agama itu strategis dalam konteks rencana besar pemerintah yang menjadikan pariwisata sebagai leading sector pembangunan Manggarai Barat. Bupati menganggap pertemuan ini sebagai awal yang baik sebagai “keinginan bersama untuk menghasilkan manusia yang sejahtera rohani dan jasmani”.

“Ini awal yang baik. Hasil akhir yang baik harus dimulai dengan awal yang baik,” begitu dia memuji pertemuan tersebut.

“Saya jujur. Saya hadapi orang-orang terpilih, yang mau menjadi penyuluh agama. Pertemuan ini sangat strategis dan syarat makna”.

Dia senang bahwa para penyuluh agama mau ambil bagian di dalam pengembangan pariwisata. Karena pariwisata erat kaitannya dengan modernitas dan membawa nilai-nilai baru, maka mau atau tidak mau, suka atau tidak suka “kita harus hadapi. Dunia pariwisata membuat pola hidup kita berubah”.

Pertemuan ini, ujarnya, menunjukkan bahwa ada orang yang mau mengantisipasi pengembangan pariwisata. “Jangan sekali-kali kita protes mengapa kabupaten ini menjadi kabupaten pariwisata. Tapi sebaliknya bagaimana kita memberdayakan dan mengembangkan potensi yang ada,” ujarnya.

Bupati juga bicara soal lingkungan hidup, yang menurut dia, sangat erat kaitannya dengan pengembangan pariwisata di Manggarai Barat. Sebab objek wisata Manggarai Barat bukan hanya komodo, tapi masih banyak. Kalau lingkungan hidup berubah, maka struktur berubah pula.

Lingkungan sosial juga harus kondusif yang menjadi prasyarat dari pariwisata. Dia bilang, masyarakat perlu menjaga stabilitas daerah. Dia bersyukur hingga saat ini hubungan antaragama di daerah itu baik.
“Yang khawatir adalah ada provokasi dari luar”, sehingga dia ajak peserta pertemuan untuk belajar dari kasus-kasus konflik agama di tempat lain di Indonesia. Agama dan pemerintah perlu bekerja sama sebab keduanya bekerja melayani jemaat atau rakyat yang sama.

“Selain kembangkan ekonomi umat, para penyuluh agama juga mesti membangun ketahanan mental dan moral masyarakat,” katanya.
Bupati mengusulkan agar di Labuan Bajo ada tempat ibadat yang doanya menggunakan bahasa asing demi melayani kepentingan rohani para wisatawan.

Berbasis Rakyat

Break setelah acara pembukaan. Bupati duduk sejenak dan snack bersama, lalu berangkat untuk acara lain. Dia bilang hari itu dia akan meletakkan batu pertama pembangunan sebuah hotel bintang tiga di Labuan Bajo. Hotel tersebut menambah deretan hotel di pantai Pede yang berdiri anggun di antara sapi-sapi yang berkeliaran.

Kepala Kementerian Agama Manggarai Barat, Kristo Mahal.

Labuan Bajo lagi hujan, meski tidak lebat. Namun cukup untuk menyiram debu jalan raya yang belang bonteng di pinggir laut itu. Sesekali kami dengar storm kapal masuk dari pelabuhan. Sebab tempat pertemuan terletak di pinggir laut yang masih akrab dengan bau tak sedap dari got-got yang mampet. Sinyal handphone hilang muncul. Turis lalu lalang di jalan di tepi laut dan menghirup bau gorengan dari warung-warung yang masih sederhana yang berjejer di tepi laut. Sesekali hirup debu kendaraan yang lalu lalang tak hentinya.

Kapal-kapal feri yang masuk itu selain mengangkut truk-truk ekspedisi tapi juga membawa buah-buahan dan sayur-sayuran dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Karena sampai saat ini masyarakat setempat belum bisa memasok kebutuhan sayur dan buah-buahan untuk kebutuhan pariwisata Manggarai Barat. Suatu keluhan umum yang kita dengar selama berada di Labuan Bajo.

Saya persilakan Pius Baut dari Dinas Pariwisata Manggarai Barat bicara pertama dalam sesi kedua. Sesi ini dimaksudkan agar para penyuluh agama mendapatkan perspektif pemerintah dan dari pakar agama soal arena yang bisa dimanfaatkan para penyuluh agama untuk bisa berkontribusi.

Pius Baut bicara kebijakan pemerintah mengenai pariwisata yang berbasis kerakyatan, yang mengandaikan adanya tanggung jawab masyarakat lokal dalam mengelola aset wisata di Mabar, yang juga didasarkan pada kearifan masyarakat setempat. Potensi budaya dan kreativitas masyarakat lokal akan diberdayakan.

Konsep pengembangan wisata Mabar itu juga berbasiskan ekowisata, sebab objek wisata Mabar yang turistik dan memesona tidak hanya binatang komodo, tapi juga budaya dan alamnya yang indah.

Tugas pemerintah, katanya, adalah menata objek wisata, mengoptimalkan promosi, memerdayakan masyarakat lokal, dan meningkatkan kapasitas lembaga-lembaga pemerintah dan pebisnis paariwisata.

Data pemerintah memang menunjukkan grafik kunjungan wisatawan ke Manggarai Barat dari tahun ke tahun meningkat. Tahun 2006, ada 17.673 wisatawan, 2007 sebanyak 20.069 orang, 2008 sebanyak 21.773, 2009 sebanyak 32.037, dan 2010 sebanyak 44.672 orang.

Menurut survei lembaga nirlaba asal Swiss, Swisscontact, rata-rata lama tinggal 4,58 hari dengan rata-rata pengeluaran 82,90 dolar per hari, dan hampir 75 persen wisatawan mengatakan, mereka akan datang kembali ke Mabar, dengan rata-rata tingkat pendidikan wisatawan sarjana hingga doktor 84 persen. Baru pertama kali kunjung ke Mabar 93 persen dan 93 persen berasal dari Eropa, dengan tiga negara utama Belanda, Prancis dan Jerman. Total uang yang dibelanjakan di Mabar selama tahun 2010 sebesar Rp152 miliar lebih. Pendapatan pemerintah dari sektor pariwisata Rp1,2miliar.

Dari data yang disajikan itu, segera timbul pertanyaaan, apakah masyarakat lokal mendapatkan benefit dari pembelanjaan wisatawan di Manggarai Barat. Tentu saja. Tapi seberapa besar? Itulah pertanyaan pokok. Jika sayur dan buah-buahan sebagai contoh didatangkan dari luar Mabar, maka besar kemungkinan benefit tidak jatuh pada masyarakat lokal. Cara pikir ini tentu saja bukan untuk melanggengkan primordialisme sempit, tapi sebagai pelecut agar masyarakat lokal mendapatkan keuntungan dari proyek besar pengembangan pariwisata Mabar.

Dalam diskusi, peserta memang khawatir bahwa ketidaksiapan masyarakat lokal baik dari segi sumber daya manusia maupun mentalitasnya bisa membuat masyarakat setempat kehilangan peluang untuk mendapatkan keuntungan dari kampanye besar pengembangan pariwisata tersebut.

“Orang kita bisa jadi penonton dari gedung-gedung yang sangat tinggi itu,” kata Mersi dari Ranggu.

“Jangan kita makin melarat, makin miskin,” ujarnya.

Pius mengaku bahwa sampai sekarang ini memang sayur dan buah-buahan didatangkan dari luar (Bima). Begitu juga daging yang memenuhi standar turisme.

“Apa masyarakat kita sudah tanam lombok. Hal yang sederhana. Jangan sampai kalau tidak ada feri dari Bima, kita tidak dapat tomat. Jangan sampai kita jadi penonton. Demikian juga daging. Daging sapi didatangkan dari luar karena daging sapi di Mabar tidak sesuai dengan standar wisatawan. Wisatawan bisa rasakan dari makanan yang dicicipi, ini sapi gemuk atau sapi kurus,” kata Pius.

Ibarat dua sisi dari mata uang sama. Begitu juga dengan pengembangan wisata di Manggarai Barat. Masyarakat lokal dituntut untuk mengasah diri dan kompetensi agar memetik keuntungan dari pariwisata, tetapi di sisi lain, mentalitas masyarakat juga mesti berubah. Sebab pariwisata menuntut dengan mutlak lingkungan yang bersih, lingkungan alam dan lingkungan sosial yang bagus. Mentalitas hidup bersih, pelayanan yang ramah, kota yang bersih, fasilitas dan prasarana yang terpelihara dengan baik menjadi tuntutan dasar.

Dalam diskusi, ada peserta yang terlibat di berbagai organisasi mau berpartisipasi dalam membersihkan sampah-sampah di Labuan Bajo. Kristo Agung, seorang peserta yang terlibat dalam gerakan pramuka menyatakan keinginan untuk ambil bagian dalam kampanye Labuan Bajo yang bersih dan bebas dari sampah.

Pemeritnah, sebagaimana presentasi Pius Baut, memang berjanji akan melakukan pembenahan objek wisata, memberdayakan sumber daya manusia di kalangan masyarakat lokal, serta meningkatkan sarana dan prasarana dan membangun berbagai fasilitas yang dapat mengoptimalkan potensi wisata.

Di tingkat perencanaan pembangunan, seluruh sektor dibangun dan dirancanng dengan konteks sasaran kemajuan wisata. Hal ini menuntut koordinasi di tingkat pemerintah dalam perencanaan pembangunan, tapi juga peran pemerintah mendinamisasi partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan objek wisata.

Lingkaran setan

Pater Hubert dari Lembaga Pusat Studi Agama dan Budaya Van Bekkum-Verheyen Ruteng bilang pertemuan para penyuluh agama tersebut aktual, urgen, dan relevan. Menurut dia, tema posisi agama dalam konteks pengembangan wisata dan nili-nilai yang dibawa globalisasi merupakan perbincangan mondial dan dibicarakan di mana-mana, di Thailand, di Amerika, di Eropa. “Hanya konteksnya saja yang berbeda”.

Pertemuan ini aktual juga karena akan membahas “komunitas terbayang” (imagined community) Manggarai Barat sebagai kabupaten baru menjadi kabupaten pariwisata, bahkan diniatkan menjadi ibu kota Provinsi Flores akan datang. Urgen karena dikaitkan dengan makin meningkatnya kepeduliaan pada lingkungan hidup “yang mengutamakan budaya hidup daripada budaya kematian” (culture of life instead of the culture of death).

Dia bercerita, sekali kesempatan dalam sebuah penerbangan ke Labuan Bajo, ada orang dari luar Flores bilang, “Flores itu masih primitif sehingga tak laku dijual”.

“Ini teror informasi yang sengaja dibuat”.

Namun orang tidak peduli dengan informasi seperti ini. Karena “teror informasi itu” mau memblok go east”. “Itulah informasi yang mereka terima”.

Pater Hubert menyebutkan lima lingkaran setan yang melekat dalam pengembangan pariwisata. Pertama, kemiskinan yang berdampak sistemik. Karena miskin ada penindasan, pelacuran, HIV/AIDS.

Pariwisata yang dikendalikan kapitalisme yang hedonis itu tidak bisa dihindarkan. Karena itu dia bilang “para penyuluh agama mesti berjuang masuk ke dalam akar masalah musibah manusiawi ini dan ikut bergumul dengan semua yang menderita akibat dampak pariwisata”. Penyuluh agama, katanya, harus up to date dengan informasi, akrab dengan data sebab “tidak ada lagi nabi tanpa data”.

Kedua, kekerasan atau kekuasaan. Masalah kemiskinan adalah masalah dunia ketiga termasuk dari dampak negatif pariwisata. Manusia didikte sesuai dengan norma dan mekanisme pasar bebas di mana “keuntungan sebesar-besarnya dan pekerja mendapat porsi yang tidak terlalu berarti bagi dirinya”.

Ketiga, alienasi rasial dan kultural di mana manusia tidak lagi meracik prinsip keberakaran dan keterbukaan. “Orang cemplung dalam budaya global dengan segala nuansanya dan pada saat yang sama tidak lagi berakar pada budaya sendiri. Ada ketakutan kehilangan jati diri dan tersingkir”.

Keempat, pencemaran dan lingkungan hidup manusia. Lingkaran setan ini terkait dengan budaya kematian yang tidak berpihak pada kebutuhan manusia.

“Tidak ada manusia hidup tanpa udara bersih, air bersih, dan kehijauan. Karena itu peduli dengan lingkungan hidup berarti berpihak pada martabat manusia dan kemanusiaan”.

Pariwisata terkait dengan “kesadaran planetaria” yang dideklarasikan di Hungaria, Budapest. “Penyuluh agama itu haruslah orang yang bertipe eco-friendly”.

Kelima, mati rasa, apatis dan indiferentisme iman. Ini paham keliru dan berat sebelah mengenai iman karena terjadi “privatisasi iman”. Padahal beriman berarti keterlibatan. Iman adalah praksis atau aksi tindakan “yang bersifat publik dan politis, kritis, liberatif dan ekologis”.

“Penyuluh agama adalah salah satu pilar petugas pastoral yang bertugas meningkatkan mutu iman. Karena mereka sendiri harus tahu citra basis iman agar dapat diketahui titik tolaknya sekaligus titik tibanya. Fenomen pariwisata melibatkan praksis iman yang publik, politis, kritis, liberatif, dan ekologis”.

Ia mengajak penyuluh agama untuk melintasi batas (beyond boundaries) “karena banyak sekali kebijakan yang berkaitan dengan harmoni manusia dengan alam dunia”. Demikianlah dalam membangun pariwisata itu, harus ada kerja sama antara agama sehingga “menimbulkan sinergi lintas batas”.

Pater Hubert kelahiran Ngada. Namun keterlibatan dan interaksinya dengan masyarakat lokal Manggarai serta aktivitasnya di lembaga penelitian agama dan budaya Van Bekkum-Verheyen membuat dia pandai dan cerdas dalam syair-syair adat masyarakat setempat.

Dia menekankan pentingnya pemeliharaan lingkungan hidup dalam konteks pengembangan pariwisata. Dia mengatakan kultur lokal Manggarai sendiri terutama dalam pembangunan rumah adat, konsep pemeliharaan lingkungan hidup sangat kuat dipegang teguh: roko molas poco (untuk menyebutkan tiang pokok rumah adat yang dibawa dari hutan).

“Penyuluh agama tidak boleh absen dari gerakan kemanusiaan ini”.
Di akhir makalah Pater Hubert menderetkan hal-hal sederhana mulai dari diri sendiri, rumah, di pasar, hingga ruang publik yang bisa dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih.

Konsientisasi

Dia juga menekankan betapa diperlukan proses konsientasi dalam menyiapkan masyarakat setempat. Peran penyuluh agama dalam konteks kerukunan dan perdamaian (stabilitas) haruslah berperan memberikan konsientisasi kepada umat, bukan menjadi provokatur.

“Penyuluh agama membela kemanusiaan, bukan membela Tuhan. Siapa sih Anda sehingga berani-beraninya membela Tuhan”.

Penulis dan Pak Kristo Mahal di salah satu hotel di Pantai Pede.

Dia bilang kita jangan takut dengan globalisasi dan sekularisme, “sebab agama-agama besar berasal dari Asia. Milik orang Asia. Sehingga penyuluh agama tidak boleh bekerja dan bersikap memarjinalkan agama, melainkan menjadikan iman itu publik, politis, kritis, liberatif, dan ekologis”.

Menghadapi globalisasi itu, katanya, kita harus menekankan lagi keberakaran dan keterbukaan kita. Dalam pariwisata, prinsip keterbukaan dan keberakaran ini juga perlu diperhatikan.
“Manggarai ditulis begitu banyak oleh para peneliti asing”.

Dia menyebut salah satu peneliti asing yang pernah tinggal di Wae Rebo. Dia tidak menyebutkan namanya. Tapi sejauh yang saya tahu, namanya Catherine Allerton. Kata Pater Hubert, menurut peneliti ini, gendang merujuk pada suara hati, keadilan, dan menghargai hak orang lain dan persaudaraan.

“Eme data, data muing, eme daku daku muing. Eme weta, weta muing, eme ase, ase muing”.

Cathrine Allerton (2003) menulis artikel “Authentic housing, authentic culture?: transforming a village into a ‘tourist site’ in Manggarai, eastern Indonesia”, dalam Indonesia and the Malay World 31: 119-128. Tesis doktoralnya di University of London (2001) tentang perkawinan di Manggarai, “Places, paths, and persons: The landscape of kinship and history in southern Manggarai, Flores, Indonesia”.

Pater Hubert menyebutkan peneliti ini dalam konteks bahwa Manggarai memiliki kekayaan kultur yang luar biasa. Nilai-nilai kultur setempat dapat digunakan oleh penyuluh agama untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata, ketahanan diri dari gempuran budaya globalisasi dan sekularisme yang dibawa serta dalam pariwisata internasional.

Keterlibatannya di lembaga penelitian Van Bekkum-Verheyen membuat Pater Hubert mengenal begitu banyak syair-syair adat-budaya Manggarai dan memahami ekologi pikiran orang Manggarai.

Yayasan Van Bekkum-Verheyen mengambil nama dua pastor Katolik dari Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD) yang menulis begitu banyak tentang Manggarai. Wilhelm van Bekkum adalah uskup pertama Keuskupan Ruteng, sukses dengan inkulturasi doa dan nyanyian liturgis Dere Serani dalam bahasa Manggarai. Sedangkan Verheyen menulis Kamus Manggarai dan penelitian linguistik, budaya dan etnologi tentang Manggarai.

Iman yang dewasa

Sesi kedua setelah makan siang, saya memoderatori presentasi para pemimpin agama (Katolik, Protestan, dan Islam). Sayang saat itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Manggarai Barat tidak bisa mempresentasikan bahannya karena masih bertemu dengan Bupati Manggarai Barat. Hanya dua yang hadir yakni dari Katolik dan Protestan. Sayangnya juga, saya hanya memimpin setengah dari sesi kedua tapi dilanjutkan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Manggarai Barat, Pak Kristo Mahal karena saya harus segera meninggalkan Labuan Bajo. Pada pukul 15.00 saya meninggalkan ruangan diskusi karena setengah jam kemudian pesawat akan berangkat dari Labuan Bajo menuju Ende. Tapi seperti umumnya di Indonesia, jadwal pesawat tidak selalu tepat. Kami molor hampir dua jam.

Vikep Labuan Bajo, Romo Bene Bensi Pr

Vicaris episcopus (Vikep) Labuan Bajo Romo Bene Bensi Pr bicara soal agenda yang bisa menjadi bahan penyuluhan bagi para penyuluh agama. Dia bilang penyuluhan agama dimaksudkan agar umat memiliki pengetahuan (learning to know), cakap dan terampil dalam karya dan tindakan (learning to do), mampu hidup bersama dengan orang lain (learning to live together) dan membentuk diri dan menghayati hidup sesuai dengan ajaran agama (learning to be).

Namun dia mengingatkan, umat beragama tidak boleh hanya memiliki pengetahuan mengenai agama, tapi iman yang mengalir dari pengalaman hidup seseorang.

Penyuluhan, dengan demikian, mau membentuk kepribadian orang agar dewasa dalam iman. “Kematangan iman mengandaikan orang memiliki sikap bati yang melihat dirinya dan segala sesuatu di luar dirinya dengan kaca mata imannya. Dengan kaca mata imannya orang mampu melihat, menanggapi, dan bertindak dalam seluruh situasi hidupnya sesuai dengan inspirasi imannya,”katanya.

Dia juga bicara pembinaan hati nurani. Kesadaran dalam diri sesorang tentang yang baik dan buruk. Kesadaran ini, katanya, diterangi akal budi sehingga kesadaran mengenai yang baik dan buruk itu dapat dipertanggungjawabkan.

“Hati nurani berfungsi prospektif, karena mendahului sebuah tindakan. Hati nurani dalam fungsi ini mengajak kita untuk melakukan sesuatu, hati nurani yang melarang kita melakuan sesuatu yang buruk. Hati nurani prospektif ini tidak boleh dilawan. Hati nurani ini sering disebut hati nurani dalam arti sesungguhnya,” katanya.

Medan lain yang menjadi arena penyuluh berkontribusi adalah mendorong orang lain untuk mencintai kerja dan membina persaudaraan sejati.

“Konsep persaudaran sejati itu melampaui batas suku, ras, agama dan golongan, yang dilandaskan pada prinsip, manusia yang satu menyelamatkan manusia lain (homo homini salus).

Dia juga bicara mengenai pentingnya lingkungan hidup menjadi medan bakti seorang penyuluh agama. Pada akhir presentasinya, Romo Bene mengusulkan tujuh tema yang bisa menjadi materi penyuluhan: teman iman (dalam relasi dengan Tuhan dan sesama), hati nurani, persaudaran sejati, mencintai kerja, kerukunan, lingkungan hidup dan pelestarian budaya (lokal).

Saya menarik beberapa poin penting dari sesi Romo Bene, terutama soal hati nurani. Setelah itu Pak Kristo menjadi moderator karena saya harus berangkat menuju bandara.

Sehari sebelumnya, Pak Kristo membawa saya keliling Labuan Bajo. Dari perbincangan kami, Labuan Bajo yang sekarang kelihatannya masih lengang sebenarnya sudah terisi penuh oleh pemilik modal. Ini artinya sepuluh tahun lagi atau mungkin tidak sampai sepuluh tahun, Labuan Bajo sudah sesak oleh aktivitas pariwisata.

Baik sebelum pergi maupun sesudah meninggalkan Labuan Bajo, ada satu pertanyaan yang selalu timbul dalam hati saya: masyarakat lokal. Sudah saatnya kita tidak lagi bertanya: sudah siapkah masyarakat lokal? Tapi kita mulai bertanya: apa yang bisa kita buat agar masyarakat lokal tidak terhempas oleh wela bombang pariwisata melainkan mendapatkan benefitnya.

Labuan Bajo adalah negeri dengan seribu keindahan dan seribu janji. Tapi juga seribu kemungkinan.

Flores Pos edisi 24-26 Maret 2011

3 pemikiran pada “Wela Bombang Pariwisata

  1. elvri Teresia Simbolon

    Syalom dan Salam Kenal. Saya tetarik dengan tulisan bapak dan saat ini saya akan mengadakan penelitian tentang agama dan pariwisata. Saya mohon bantuan bapak untuk membrikan beberapa informasi referensi/buku tentang tulisan dengan topik yang akan saya teliti. Saya dosen pada Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri di Tarutung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s