Bertani Tanpa Pestisida

@christian science monitor

Oleh FRANS OBON

Pertanian tanpa pestisida telah menjadi wacana global. Tapi perusahaan-perusahaan yang memproduksi pestisida selalu memiliki koneksi dengan politik, sehingga kebijakan publik gagal melindungi masyarakat dari bahaya pestisida pada buah-buahan dan sayur-sayuran yang ada di pasar-pasar internasional. Mungkin juga telah melanda sayur-sayur dan buah-buahan di pasar-pasar lokal kita.

PengadilanTinggi India, tulis British Broadcasting Corporation (BBC), telah memerintahkan pejabat pemerintah untuk meneliti sayur-sayur dan buah-buahan di pasar-pasar India untuk memastikan laporan sebuah survei lembaga swadaya masyarakat setempat, Suara Konsumen bahwa sayur-sayuran dan buah-buahan di pasar-pasar India tercemar bahan beracun yang menimbulkan kepala sakit, mempengaruhi kesuburan, dan merusak ginjal dan hati.

Pengadilan memerintahkan pejabat berwenang agar secara random mengambil buaha-buahan dan sayur-sayuran untuk membuktikan kebenaran dari laporan tersebut. “Kita ingin memastikan apakah terdapat pestisida pada sayur-sayuran yang dijual di New Dehli atau tidak,” kata Dipak Misra, Ketua Pengadilan kepada media. Pejabat berwenang diberi kesempatan selama lima minggu untuk memastikan ada tidaknya penggunaan pestisida di atas ambang toleransi.

Kecemasan yang sama melanda Amerika. Tiga wartawan Christian Science Monitor, Laurent Belsie, Peter Ford, dan Sara Miller Llana menulis tentang keamanan makanan: bagaimana menu global masuk dalam daftar list pemerintah agar bisa dikontrol pejabat berwenang. Bahan makanan impor membanjiri pasar-pasar Amerika tapi bagaimana bisa dipastikan aman dikonsumsi. Karena saat ini barang-barang makanan yang diimpor itu sudah mengubah pola konsumsi dan produksi makanan dilakukan di pertanian mahaluas yang jauhnya seribu mile dari Amerika. Telur bisa dari Kanada, tomat dan bawang dari Meksiko. Karena itu rakyat Amerika minta pejabat berwenang untuk melakukan perlindungan bagi konsumen dengan membuat regulasi yang bisa menjamin hal-hal tersebut. Selain itu bagaimana para pejabat berwenang di perbatasan bisa bekerja maksimal untuk menangkal impor makanan ilegal ke Amerika. Dengan demikian isu keamanan produk makanan telah menjadi diskusi luas dan menjadi kekhawatiran rakyat Amerika, sehingga mendorong kongres dan senat memeninjau kembali regulasi tentang keamanan makanan.

Masih wartawan Christian Science Monitor, Gloria Goodale menulis Farmer Market: how to make sure you are buying local for Thanksgiving. Pertanyaannya yang muncul dalam artikel ini adalah jika pasar-pasar Amerika dipenuhi produk-produk impor, bagaimana rakyat Amerika dapat memastikan bahwa produk-produk pertanian tersebut diproduksi di Amerika sehingga bisa dipakai untuk perayaan Hari Raya Thanksgiving. Dengan kata lain bagaimana bisa membedakan produk impor dan produk lokal.

Ini artinya bagaimana rakyat Amerika merayakan Hari Raya Thanksgiving yang tidak lain adalah perayaan syukur menggunakan produk makanan yang diimpor. Apa yang mau disyukuri. Apakah dia mensyukuri sayur-sayuran dan buah-buahan dan gandum yang ditanam dan dipetik dari negara lain? Bukankah Hari Raya Thanksgiving berarti bersyukur karena memanen dan memetik di tanah sendiri? Banyak pengamat menganjurkan agar diperlukan sertifikasi bagi produk-produk lokal untuk memastikan bahwa buah-buahan dan sayur-sayuran yang dijual di toko-toko grosir dan swalayan berasal dari Amerika dan sertifikasi dapat mencegah manipulasi yang diakal-akali oleh para pedagang bahwa seolah-olah produk makanan yang dijual itu berasal dari Amerika padahal produk makanan tersebut adalah hasil impor.

@christian science monitor

Sederhananya begini, kalau konteks Flores. Kita merayakan pesta syukur dan kasih makan nenek moyang tidak pakai beras dari ladang-ladang kita sendiri, tetapi kita pakai beras raskin. Kita mau bersyukur tapi sayur dan buah-buahan sudah tidak kita tanam lagi melainkan didatangkan dari luar. Apanya yang mau disyukur dari pertanian kita? Selain karena kebun-kebun kita sudah dipenui tanaman perdagangan, tapi juga kita sudah tidak tertarik lagi untuk bertani.

Pertanyaan semacam ini pula yang akan dihadapi oleh orang Flores. Dapatkah mereka merayakan pesta-pesta adat terkait pertanian dengan produk makanan impor jika mereka tidak lagi menanam dan memetik dari kebun mereka sendiri?

Beberapa tahun lalu, sertifikasi produk lokal Flores pernah diperkenalkan oleh Swiscontact, lembaga nirlaba asal Swiss dalam soal jambu mete. Untuk menjamin bahwa jambu mete Flores bebas dari pupuk, maka dibuatlah sertifikat IMO. Tujuannya adalah agar pasar-pasar Eropa dan Amerika, restoran di New York, Paris, Bonn,dan Jenewa, misalnya, mendapat jaminan bahwa mete dari Flores adalah mete organik.

Ini tidak lain adalah usaha negara-negara maju untuk melindungi konsumen mereka. Pemerintah di negara-negara maju berusaha menjamin kesehatan rakyatnya dengan membuat regulasi mengenai keamanan makanan. Rakyat mereka ingin mendapatkan kepastian bahwa pemerintah menjamin keamanan bahan-bahan makanan yang ada di atas piring-piring di meja makan dan yang ada di dapur-dapur mereka. Ini juga bertujuan menjamin kualitas generasi masa depan yang sehat dan cerdas.

Pertanyaan mengenai jaminan kesehatan dari bahan makanan yang ada di atas meja dan di dapur-dapur kita belum muncul di daerah-daerah kita. Business as usual. Karena rakyat tidak mempertanyakan hal-hal ini, maka pemerintah dan pejabat berwenang juga tidak menjadikan kesehatan makanan ini isu utama dalam operasi pemerintahan kita.

Apakah sayur-sayur dan buah-buahan yang ada di pasar Ende, Maumere, Larantuka, Lewoleba, Bajawa, Mbay, Ruteng dan Labuan Bajo baik yang didatangkan dari luar daerah maupun diproduksi penduduk lokal sudah bebas dari penggunaan pestisida? Kita semua tidak tahu dan kita mungkin tidak punya mekanisme untuk mengetahui dan mengecek keamanan makanan kita.

Kita tidak punya alat untuk mengeceknya. Itu benar. Tapi bukan karena kita tidak bisa membelinya. Ini soal visi dan kemauan pemerintah kita. Jika pengecekan keamanan makanan menjadi prioritas karena akan berisiko terhadap kesehatan masyarakat, maka pemerintah akan mengadakan peralatan tersebut. Masalahnya apakah masalah keamanan makanan menjadi perhatian pemerintah atau tidak.

Beberapa waktu lalu, saya pegi ke kampung di Manggarai. Sudah lama saya dengar bahwa para petani di desa-desa menggunakan pestisida jenis polaris dan round up untuk menyiangi rumput di ladang-ladang mereka. Tidak ada alat pelindung ketika mereka menyemprot. Para petani itu tidak tahu risiko yang akan mereka hadapi tanpa pelindung saat menyemprot. Ladang-ladang itu bukanlah perkebunan komoditas tok . Tapi di ladang itu ada sayur, yang ditanam di antara padi dan jagung. Pada sore harinya para petani itu membawa ke rumah mereka sayur daun singkong, daun pepaya, kacang-kacangan dan macam-macam. Itulah yang mereka masak dan sajikan untuk keluarga mereka. Bagaimana bisa mensterilkan lahan pertanian itu dari pengaruh pestisida itu?

Kampung-kampung itu sepi dengan pertanyaan mengenai keamanan makanan yang mereka konsumsi. Saya tahu bahwa mereka tidak tahu karena memang tidak ada yang memberitahukannya. Seperti juga pemerintah-pemerintah mereka tidak mempersoalkan dan mempertanyakan hal-hal tersebut. Kalau demikian, siapa yang memberitahu para petani ini?

Yang pertama dan utama tentu saja tugas pemerintah dan pejabat berwenang untuk memastikan bahwa pestisida mempengaruhi kesehatan manusia. Karena hanya pemerintahlah yang memiliki kewenangan untuk melarang, mengontrol penjualan, dan mengawasi pemakaiannya. Pihak-pihak partikulir hanya bisa memberitahukan efek sebagai informasi. Tapi wewenang yang bisa melakukan larangan sebagai bentuk law enforcement, itu hanyalah pemerintah.

Dengan demikian pertanyaan mengenai keamanan makanan tidak saja dilakukan di pasar-pasar tradisional kita di kota-kota tapi juga sudah sampai di kampung-kampung kita. Ini menjadi masalah serius karena risiko terhadap kesehatan masyarakat jauh lebih besar.

Risiko kesehatan yang lebih besar yang timbul dari hal-hal demikian di dalam masyarakat yang rentan secara ekonomis akan lebih berbahaya. Masalah kesehatan yang timbul dari bahan makanan yang tercemar pestisida akan ikut membebani ekonomi masyarakat pedesaan. Padahal tingkat kemiskinan masyarakat kita di pedasaan sudah tinggi.

Ini ibarat lingkaran setan di dalam kebijakan pemerintah. Politik yang populis ikut menyuburkan ketidakpedulian seperti ini. Karena kita akan lebih mudah menawarkan kesehatan gratis daripada melakukan tindakan law enforcement dan tindakan preventif dengan mengontrol penggunaan pestisida di ladang-ladang pertanian kita. Saya kira pemerintah dan pejabat berwenang harus segera bertindak dan mengontrol penggunaan pestisida di ladang-padang kita di Flores.

Ini akan jauh lebih penting untuk menjaga kesehatan masyarakat dan generasi masa depan kita. Kita tentu tidak ingin mewariskan kebijakan yang terus menerus membenani anggaran kesehatan kita. Karena sampai saat ini masyarakat kita di pedesaan juga tidak punya ansuransi kesehatan selain dari program kesehatan yang dibuat pemerintah, yang kita semua tahu tingkat kebocorannya tinggi.

Asal Omong, Flores Pos edisi 26 Maret 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s