Kinglake

Di sebuah rumah makan di daerah Kinglake, Melbourne utara.

Oleh FRANS OBON

Sisa-sisa kebakaran di Kinglake, Melbourne utara, Australia masih terlihat ketika saya bersama para wartawan dari Asia Pasifik berkunjung ke daerah pedesaan tersebut, Oktober 2009 lalu. Gosong. Hitam pekat. Areal yang terbakar kira-kira dua ribuan hektare luasnya. Saya bisa membayangkan betapa ngeri kebakaran tersebut. Masyarakat setempat menyebutnya black Saturday, Sabtu kelam pada Februari 2009.
Sepuluh wartawan dari Asia Pasifik mendapat beasiswa dari Australian Leadership Awards Fellowships (ALAF) untuk mengikuti lokakarya menulis soal ekonomi dan perdagangan internasional, yang diselenggarakan Asia Pasific Journalism Centre, pimpinan John Wallace, selama lima minggu. Program ini didanai Aus-AID (Australian Agency International Development).

Bencana kebakaran di Kinglake ini bukan kasus pertama. Konon kebakaran yang mengerikan pernah terjadi tahun 1922 di Gippsland, 1939 di Hobart Tasmania, 1967 di pedesaan Victoria, 1983 di Victoria selatan. Banyak orang meninggal. Ribuan tempat tinggal hangus terbakar.

Tiba di Kinglake sekitar pkl. 11.00 waktu setempat. Hujan turun. Dingin. Para wartawan mendengar cerita kebakaran di tempat ini dari seorang anggota polisi Johl Ellks. Dia menceritakan betapa peristiwa itu mengerikan. Dalam keadaan seperti ini informasi bisa simpang siur. Karena sistem peringatan dini yang dibangun pemerintah tidak memadai. Akibatnya banyak yang terjebak. Polisi melakukan uji forensik untuk mengetahui identitas korban yang terbakar karena terjebak dalam api.

Bergambar bersama dengan peserta lain di rumah makan di Kinglake.

Kami juga melihat rekonstruksi yang dilakukan pemerintah setempat. Rumah-rumah yang dibangun di sebuah lapangan untuk menampung para korban. Cuaca pegunungan yang dingin. Kita bisa membayangkan betapa susahnya kondisi para korban.

Di tingkat negara (Victoria) para politisi ramai mendebatkan cara terbaik memberikan peringatan dini kepada masyarakat untuk menghindari bahaya kebakaran. Pemerintah negara bagian Victoria pada saat itu mengambil kebijakan bahwa handphone bisa digunakan untuk menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat. Tapi partai oposisi mengkritik cara ini karena dinilai tidak efektif.

Dari kantor polisi itu, kami pergi ke sebuah media lokal, Mountain Monthly. Pemimpin Redaksi Tim Huiggins menerima kami dengan ramah. Di sebuah rumah dengan ruangan sempit berjejer komputer. Kelihatannya ruang redaksi itu adalah kamar tamu dari rumah tinggal. Stafnya tidak sampai sepuluh orang. Tim Huiggins menjelaskan cara kerja dan cara mendapatkan berita. Ini biasa bagi kami para jurnalis. Tidak ada yang baru. Proses kerja mengumpulkan, menulis dan menyiarkan berita.

Mendapat penjelasan dari John Ellks.

Namun Mountain Monthly melakukan praktik citizen journalism. Maka jadilah majalah ini milik masyarakat setempat. Dengan budaya baca dan menulis yang tinggi, banyak warga setempat mengirim tulisan ke majalah ini. Mountain Monthly memberikan bimbingan menulis bagi warga setempat yang ingin menyumbangkan tulisannya ke majalah ini. Bahkan dalam budaya baca dan tulis yang cukup baik, proses ini tidak terlalu sulit. Masyarakat setempat mengirim tulisan dan tim editor mengedit naskah. Seperti merawat dan menggunting bunga di taman agar terlihat indah.

Tim Huiggins dan kawan-kawannya sungguh menjadikan Mountain Monthly sebagai community newspaper. Koran ini mensponsori berbagai kegiatan di dalam komunitas tersebut. Semua kegiatan yang mau membangkitkan semangat masyarakat untuk bangkit kembali dari keterpurukan bencana terkover dengan baik. Koran ini mensponsori berbagai kegiatan olahraga, seni budaya, dan memfasilitasi berbagai pertemuan yang mendorong kebangkitan kembali Kinglake dari bencana kebakaran. Mountain Monthly sungguh berperan tidak saja menyebarkan informasi, tetapi membangkitkan moral dan semangat masyarakat setempat untuk bangkit kembali dari keterpurukan.

Yang menarik adalah koran ini memberikan space gratis kepada para pemasang iklan, khusus yang mau berinvestasi di Kinglake. Media ini memberikan bonus, asalkan pebisnis tersebut berinvestasi di Kinglake. Dengan itu ekonomi masyarakat setempat bangkit kembali. Media menjadi faktor pendorong kebangkitan kembali mentalitas masyarakat yang tertimpa bencana.

Saat itu Tim Huiggins dan kawan-kawan sudah punya agenda: mereka ingin menerbitkan buku kisah tentang pengalaman orang-orang setempat mengenai kebakaran.

Kinglake memberikan saya dua pengalaman sekaligus: peran media dan kebangkitan masyarakat lokal. Secara klasik media berperan untuk memberikan informasi, mendidik dan memberi hiburan. Bagaimana content (isi) media tentu tergantung pada agenda setting yang dibangun bersama di ruang Redaksi. Tentu kita tidak ingin seperti Mountain Monthly, yang menggratiskan pemasangan iklan bagi pebisnis yang menanamkan modalnya di Kinglake. Tetapi keunggulan media lokal adalah kedekatannya dengan masyarakat lokal.

Seperti dikatakan Thom Rosenstiel anggapan bahwa di era internet ini media tradisional (cetak) akan kehilangan pembacanya tidaklah benar seratus persen. Pendapatan iklan media cetak tetap tertinggi dibandingkan dengan media online. Masih banyak juga orang yang membaca media cetak. Meskipun tren membaca internet jauh lebih tinggi di kalangan anak muda.

Pelajaran yang bisa kita petik dari Mountain Monthly adalah bagaimana media membantu masyarakat setempat untuk bisa membuat keputusan yang tepat atas masalah yang mereka hadapi. Media lokal adalah medium di mana masyarakat setempat belajar berdemokrasi, belajar membuat keputusan yang tepat. Dengan demikian, telah menjadi keharusan bagi media lokal untuk tidak saja memberikan informasi kepada masyarakat pembacanya tetapi membantu masyarakat pembaca menarik makna dari sebuah peristiwa. Karena itu pula model penulisan berita lempang (stright news) tidak lagi memadai di era internet seperti sekarang ini, tapi lebih pada interpretative news, yang membuat masyarakat bisa menimba makna dari sebuah peristiwa. Hal ini mengharuskan pengelola media untuk terus meningkatkan kemampuan dan kompetensi mereka melalui proses pembelajaran yang tiada henti. Kecepatan tidak lagi menjadi ukuran. Tapi apa makna dari peristiwa tersebut untuk pembaca, agar dia bisa mengambil pelajaran penting daripadanya.

Hal kedua adalah respons masyarakat setempat terhadap bencana. Saya melihat bagaimana masyarakat setempat bangkit dari keterpurukan mereka. Kebakaran terjadi Februari 2009. Delapan bulan kemudian (Oktober) tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat. Masyarakat Kinglake sebagai sebuah komunitas membangun rasa setia kawan. Sebagai sebuah komunitas, mereka ingin bangun kembali daerah mereka dalam kebersamaan. Dan media mendorong rasa setiakawan seperti ini.

Masyarakat tidak mau menadahkan tangan mereka menunggu bantuan dari luar. Tidak juga tiap orang sibuk dengan dirinya sendiri. Tapi tiap orang bersama dengan yang lain dalam kebersamaan membangun Kinglake. Ada rasa senasib dan sepenanggungan.

Saya membayangkan bila saja pengalaman Kinglake ini menjadi pengalaman dari komunitas umat basis kita di Flores. Sejak tahun 1970-an, telah dikembangkan komunitas umat basis di Flores. Hampir tiga puluhan tahun kita menghidupi komunitas basis kita. Tapi semua usaha itu seakan tidak mencukupi untuk terbangunnya kebersamaan dalam menghadapi masalah. Mungkin karena cara kerja kita yang memproyekkan setiap bencana. Kita menggunakan bencana untuk meraup dana dari pusat, tapi ketika dana tiba, kita tidak tahu lagi ke mana uang mengalir. Bencana kita gunakan sebagai kesempatan mendapatkan banyak dana dari pusat, tapi tidak banyak kita gunakan untuk kepentingan masyarakat korban bencana.

Membangun dengan kekuatan sendiri haruslah menjadi cita-cita dari pengembangan komunitas basis kita di Flores. Menghilangkan mentalitas ketergantungan terhadap bantuan adalah usaha panjang bersama kita. Tapi tetap saja tidak mudah. Kita memerlukan media yang komit mendorong kemandirian itu.

Asal Omong, edisi 16 April 2011

Satu pemikiran pada “Kinglake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s