Kongsi Politik

Oleh FRANS OBON

DARI Jakarta hingga sudut-sudut di Flores, orang selalu bicara soal kongsi dalam politik. Dalam praktiknya bisa berbeda, tetapi polanya hampir sama. Kongsi politik tidak bertahan lama dan umumnya berantakan di tengah jalan. Ini disebabkan karena kongsi memang dibikin dan dirancang untuk kepentingan meraih kekuasaan. Pada saat mau mendapatkan dan meraih kekuasaan, kongsi melakukan konsolidasi dan berjalan hampir selalu solid. Tapi kongsi berantakan ketika kekuasaan sudah di tangan dan mulai digunakan. Karena di sana mulai tampak kekuasaan digunakan untuk apa dan demi kepentingan siapa serta mendapatkan apa dari kekuasaan tersebut. Karena itu memang untuk menilai kongsi, haruslah dilihat sebelum dan sesudah kekuasaan didapat dan bagaimana kekuasaan itu digunakan.

Hampir menjadi pengalaman umum mulai dari Jakarta hingga daerah-daerah, kongsi politik berantakan. Mengapa kongsi berantakan?

Pertama, kongsi dibikin bukan pertama dan terutama karena adanya kesamaan platfom kerja untuk kepentingan rakyat, melainkan dibikin untuk menggalang dukungan massa dalam meraih kekuasaan. Jauh di bawah permukaan, tiap-tiap partai tidak memiliki kesamaan platform kerja, meski di permukaan terutama dalam pernyataan-pernyataan publik para politisi selalu disebutkan bahwa kongsi politik yang dibikin itu dibangun di atas kesamaan visi-misi dan platform yang sama. Jadi, seolah-olah kongsi dibentuk karena adanya kesamaan platform kerja.

Kongsi seperti ini menggenapkan pameo bahwa politik adalah seni menggunakan segala kemungkinan untuk mendapatkan kekuasaan. Bahwa pertemanan dalam politik selalu bersifat pragmatis karenanya tidak pernah abadi.

Karena tujuannya adalah meraih kekuasaan, maka tugas berikutnya setelah kekuasaan diperoleh adalah membagi kekuasaan tersebut. Partai-partai politik yang berjasa dalam kepentingan meraih kekuasaan itu berhak mendapatkan jatah kursi kekuasaan. Pembagian itu tidak lain adalah di tingkat pusat kursi-kursi menteri diberikan kepada partai-partai politik tertentu. Sementara kongsi di tingkat daerah adalah pembagian kursi kepala dinas kepada gerbong pengikut kongsi tersebut. Biasanya diberikan kepada pendukung bupati dan wakil bupati. Karena masing-masing bupati dan wakil bupati memiliki pendukung (kongsi) tersendiri. Karena itu perpecahan dimulai ketika pembagian kekuasaan tidak seimbang. Karena ini menyangkut pula pendanaan dan daya tawar untuk kekuasaan periode berikutnya.

Kekuasaan yang ada di tangan anggota kongsi bergantung pada kreativitas pribadi sang pejabat. Melalui pembagian kursi kekuasaan inilah, partai mendapatkan dua hal: sumber pendanaan partai dan klaim kepada massa rakyat. Kabinet menjadi warna warni. Karena itu pula teknokrasi yang brilian ramai-ramai masuk partai jika tidak ingin ketinggalan dalam perebutan kursi kekuasaan menteri. Karena itu komposisi di pemerintahan lebih bersifat akomodatif daripada takaran kemampuan.

Ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak cara bagaimana partai mendapatkan dana dari pembagian kekuasaan tersebut. Meski ada pula banyak cara partai mendapatkan dana dari pemilik modal dengan imbalan melindungi kepentingan bisnis. Karena itu amat mudah kita dapat menduga, satu isu bisa bergulir dan berhenti bergulir tergantung pada kepentingan siapa yang terganggu. Karena itu pula kekuasaan politik selalu melindungi jalur pendanaan partai dan pendanaan kekuasaan politik. Hal ini akan menjadi lebih kental lagi ketika politik dan modal bersatu. Dalam konteks ini politik adalah juga menyangkut seni saling melindungi kepentingan bersama. Ada simbiosis mutualisme di dalam relasi anggota kongsi.

Kondisi pasar Mbongawani Ende, Flores, yang penuh becek.

Penggunaan kekuasaan ini oleh anggota kongsi dapat pula dipakai untuk sebuah klaim kepada rakyat. Pengalaman kita pada Pemilu 2009, tiap-tiap partai koalisi masing-masing memperebutkan klaim kesuksesan pemerintah di departemen-departemen. Tampaknya praktik kampanye Orde Baru dengan klaim keberhasilan pembangunan diwariskan dan diteruskan oleh partai politik di masa Reformasi sekarang ini (lihat Asal Omong, Flores Pos edisi 23 Mei 2009). Jelas ini menimbulkan kegerahan politik.

Kedua, koalisi pragmatis ini dalam perjalanannya mengalami perbenturan ideologi. Perbenturan ideologis ini jarang sekali terekspose ke publik. Karena hal ini ditutupi oleh permainan politisi di parlemen yang saling menyerang dengan isu-isu yang mengganggu kepentingan pragmatis sesama anggota kongsi. Karena itu bola politik di parlemen bergerak ke sana kemari untuk menyerang kepentingan partai dan kekuasaan.

Kalau Partai A mengangkat isu tertentu dan mengganggu kepentingan politik kekuasaan Partai B, maka Partai B mengangkat isu tertentu yang dapat mengganggu kepentingan Partai A. Kalau dalam pelaksanaannya berjalan seimbang, maka bola panas politik itu terhenti. Untuk jeda dari politik seperti ini, muncullah isu lain. Media baik cetak, online, maupun televisi berperan mengalihkan perhatian rakyat ke isu lainnya. Media mengejar yang lagi hangat, kemudian melupakan apa yang telah diperdebatkan sebelumnya. Bangsa kita yang pendek ingatannya akan dengan mudah pula melupakan yang telah lewat dan kembali jatuh pada pengalaman yang sama.

Karena itu politik pragmatis seringkali mencerminkan sebuah sandiwara. Panggung politik tidak lagi menjadi medium pendidikan politik, tapi berubah menjadi sebuah arena permainan dan saling olok antara para politisi. Di sini politik adalah sebuah kejenakaan. Meskipun unsur humor perlu ada dalam politik karena politik adalah sebuah seni. Namun ketika politik menjadi sebuah humor, maka politik menjadi dangkal.

Di sisi lain, adalah benar bahwa koalisi yang dibangun tidak didasarkan pada kesamaan ideologis, tapi lebih karena alasan pragmatis. Tapi bukan berarti ideologi tidak ada di dalam partai-partai. Banyak orang menilai partai-partai kita memang tidak jelas dalam hal ideologi, sehingga sulit sekali membedakan antara partai satu dengan partai lainnya. Namun jika kita jeli sesungguhnya terdapat perbedaan yang jelas dalam ideologi dan perjuangan partai-partai.

Indonesia punya pengalaman di masa Orde Lama di mana figur sentral dalam politik Indonesia Bung Karno mau bikin gado-gado dalam politik partai di Indonesia – barangkali saat ini kita sebut koalisi pelangi – yakni menggabungkan nasionalisme, agama dan komunisme (Nasakom). Tiga wujud ideologi yang berbeda, yang saling bertolak belakang digabungkan dalam satu koalisi kerja sama. Jelas sekali hal ini menimbulkan kesulitan luar biasa.

Di zaman Reformasi terutama di daerah-daerah ideologi partai seringkali tidak diperhatikan. Karena itu orang-orang di daerah seringkali memahami secara keliru dinamika politik di Jakarta. Masalah ideologi di dalam koalisi pelangi tetap saja menimbulkan kesulitan.

Bergabungnya partai berbasis agama dan berbasis ideologi terbuka bukanlah tanpa kesulitan. Secara pragmatis, dalam konteks politik kepentingan kekuasaan, belum tampak kerumitannya. Tetapi dalam menanggapi masalah kebangsaan, terutama dalam menyikapi masalah-masalah sosial di tingkar massa akar rumput, tampak ada perbedaan serius antara partai berbasis agama dan berbasis ideologi terbuka.
Kesulitan ini barangkali tidak ditemukan di negara-negara di mana urusan negara dan agama sama sekali berbeda. Tapi di negara-negara di mana agama memainkan peranan penting di dalam pembentukan karakter bangsa, pertarungan ideologi tetap saja ada.

Kongsi politik di daerah tentu saja berbeda dengan konteks nasional. Kongsi politik di daerah lebih ditentukan oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek kekuasaan. Apakah kongsi yang ada dapat menjamin keberlanjutan kekuasaan atau tidak. Konteksnya tentu akan selalu dilihat dalam soal konsolidasi untuk periode berikutnya. Intinya sama bahwa kongsi politik adalah sebuah pragmatisme dalam hal mendapatkan dan menggunakan kekuasaan.

Asal Omong, edisi 7 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s