Satu Perutusan, Banyak Pelayanan

Oleh FRANS OBON

Sejak Musyawarah Pastoral (Muspas) I (1987) hingga Muspas VI (2010), Keuskupan Agung Ende menggunakan pola proses dalam merumuskan reksa pastoralnya. Selain sebagai medium menjaring aspirasi umat, pola proses ini telah membantu umat memahami dengan lebih baik duduk perkara reksa pastoral keuskupan. Berbagai tema yang mencerminkan situasi dan kondisi riil umat Katolik di wilayah ini dibahas oleh para pakar dan mendapat masukan-masukan dari para peserta. Hampir 80 persen peserta Muspas adalah para awam Katolik yang terlibat di dalam berbagai bidang karya, meskipun terdapat kritikan bahwa representasi perempuan dari Muspas ke Muspas masih terbilang sedikit.

Salah satu fokus dan duduk perkara reksa pastoral Gereja Keuskupan Agung Ende yang telah mendapat perhatian serius adalah soal pastoral tata dunia, yang tidak lain adalah keterlibatan umat Katolik di dalam masalah-masalah sosial politik kenegaraan dan kehidupan bermasyarakat. Menurut penilaian banyak kalangan, keterlibatan umat Katolik di dalam pastoral tata dunia masih terdengar sayup-sayup. Ini artinya kehidupan Gereja Katolik Flores masih bersifat kultis atau masih berkutat di sekitar altar perayaan. Perayaan-perayaan kultis begitu semarak tapi tanggapan terhadap masalah-masalah sosial seperti pelanggaran hak asasi manusia dan hak-hak sosial budaya dan masalah lingkungan hidup masih terlalu sepi diperbincangkan dan disuarakan ke arena publik.

Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota dalam kotbah ekaristi pembukaan Muspas VI, Juli 2010 mengajak umat Katolik untuk terlibat secara aktif dalam mencari dan menemukan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi dunia dewasa ini. “Kita mesti menemukan jalan dan cara bagaimana mengajak Gereja Keuskupan Agung Ende menjadi gereja yang bersaksi secara meyakinkan ke tengah dunia yang luas dan bertindak secara bertanggung jawab dalam perutusannya dalam dunia yang semakin profan dan semakin sekular,”kata Uskup Sensi.

Uskup Agung ini dalam sambutan pembukaan Muspas VI di Paroki Mautapaga juga menilai bahwa tanggapan-tanggapan umat Katolik terhadap masalah hak asasi manusia, politik, dan lingkungan hidup masih jauh panggang dari api. “Keterlibatan Gereja dalam isu-isu sensitif seperti HAM, politik, lingkungan adalah penjabaran ajakan Yesus agar kita berani dan siap menjadi terang dan garam dunia. Tapi dampak dan hasilnya masih jauh panggang dari api,” kata Uskup Agung.
Keprihatinan yang sama kembali muncul di dalam rangkuman akhir Muspas. Mengenai pastoral tata dunia, dikatakan: “Sebagian KUB mengalami masalah sosial, krisis moral, dan krisis nilai dalam kehidupan. Sementara itu warga KUB dalam kerasulan tata dunia belum cukup, masih ada dikotomi antara urusan agama atau iman dan urusan dunia”.
Hal ini sejalan dengan hasil temuan tim peneliti dari Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende yang menunjukkan bahwa kendati kehidupan komunitas umat basis mengalami kemajuan, namun ada disparitas antara perayaan kultis dan aspek kerygma (pewartaan). Tim peneliti memperlihatkan bahwa tidak jarang umat di komunitas umat basis tidak menggunakan Kitab Suci sebagai inspirasi untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial di komunitas umat basis. “Kitab suci belum menjadi jantung kehidupan umat. Sebab umat kita baru mendalami Kitab Suci pada bulan September,” kata Herman Tambuk, Ketua Komisi Katektik kepada saya di sela-sela Muspas.

Dikotomi
Masalah lain yang muncul adalah dikotomi dalam memandang keterlibatan di dalam karya kerasulan tata dunia. Fenomena ini sangat kuat di dalam diri para awam Katolik. Dualisme dalam sikap iman itu adalah bahwa kehadiran para awam Katolik di dalam bidang karyanya tidak dilihat dalam konteks panggilan kristiani untuk memberikan kesaksian iman melalui karya. Akibatnya iman tidak menjadi inspirasi di dalam pelaksanaan karya para awam Katolik. Karena itu di dalam rangkuman akhir Muspas VI pada sub judul pastoral tata dunia dianjurkan agar “dikotomi peran di dalam diri fungsionaris pastoral terbaptis yang mengemban tugas dan panggilan di tengah tata dunia dan kesadarannya sebagai anggota Gereja dianjurkan beberapa prinsip bermisi: menyadari diri bahwa di manapun kita bekerja, kita tetap anggota Gereja yang diutus oleh Allah untuk bermisi di tengah tata dunia”.

“Keterlibatan fungsionaris pastoral terbaptis di tengah tata dunia dalam menangani isu-isu sosial, hendaknya dibimbing oleh etika dan moral kristiani; hendaknya kita menjadi garam dan terang dunia dan kekuatan utama adalah kesaksian hidup sebagai orang beriman, dengan berpedoman pada enam dimensi iman yaitu pengetahuan, kepercayaan, konsekuensi, pengalaman, keterlibatan, dan persekutuan. Ini berarti sebagai insan beriman setiap orang mesti memiliki pengetahuan tentang imannya, mempercayai apa yang dia ketahui dan percaya, sanggup memberikan kesaksian tentang pengalaman hidup pribadinya akan Allah, tidak enggan melainkan melibatkan diri dalam kehidupan bersama dan bersedia hidup dalam persekutuan”.

Mengapa disparitas ini terjadi? Romo Sipri Sadipun kepada saya di sela-sela Muspas menyebutkan beberapa alasan (Flores Pos edisi 19-22 Juli 2010). Menurut dia, keengganan untuk terlibat dalam tata dunia itu terutama pada bidang-bidang agak kritis dan berisiko. Gereja juga sama. Demikian pula komunitas umat basis. Dalam masalah politik, misalnya, umat enggan masuk karena menganggap politik itu urusan politisi. Kalaupun ada yang masuk dalam urusan politik, itu hanya orang perorangan tapi belum menjadi gerakan bersama.

Dia menyebutkan ada tiga alasan yakni pertama, belum ada kesadaran kritis kolektif. Kedua, organisasi-organisasi Katolik tidak tangguh dan belum melakukan fasilitasi hingga ke masyarakat akar rumput. Apalagi komunitas umat basis juga belum kuat. Ketiga, peluang-peluang politik sering tidak digunakan karena tokoh-tokoh Katolik hanya merasa Katolik namun tidak memperjuangkan nilai-nilai Katolik karena merasa tidak dikaderkan oleh Gereja.

Romo Domi Nong melihat kultur dan mentalitas menjadi alasan mengapa tidak banyak awam Katolik terlibat di dalam pastoral tata dunia. Di sela-sela Muspas, dia mengatakan kepada saya bahwa sikap peduli terhadap persoalan-persoalan komunitas dan persoalan masyarakat masih rendah dan karena itu tanggapan-tanggapan konkret terhadap masalah-masalah tersebut tidak tampak. Romo Domi menekankan peranan fungsionaris pastoral untuk meningkatkan keterlibatan umat Katolik di dalam pastoral tata dunia. Fungsionaris pastoral yang dilatih dan dididik dengan baik tidak saja akan berperan baik di dalam komunitas umat basis tetapi juga cakap, mampu dan terampil untuk menangani masalah-masalah di tengah masyarakat.

Cover Majalah Penyalur edisi Januari-April 2011.

Pater Robert Mirsel SVD, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero kepada saya pada saat Muspas VI mengatakan awam Katolik yang terlibat di dalam bidang tata dunia sering merasa bahwa mereka bukan bagian dari gereja. “Seakan-akan kalau mereka menduduki suatu posisi di dalam institusi sosial politik atau ekonomi, mereka adalah mitra pimpinan gereja yang mesti bersinergi, berkolaborasi untuk mengurus kepentingan umat/rakayat. Mereka tidak melihat dirinya sebagai orang yang diutus Kristus ke tengah dunia sebagai rasul awam. Mereka tidak melihat dirinya kader-kader Gereja yang dipanggil dan diutus sebagai garam dan terang di tengah dunia di mana mereka bekerja.”

Dikotomi seperti ini muncul di dalam penekanan pada batas-batas wewenang di mana tiap pihak tidak boleh diintervensi. Namun ketika kader Katolik itu maju dalam pencalonan politik kekuasaan, mereka menyebut dirinya kader gereja. Ini menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam bersikap. Gambaran diri yang keliru demikian, menurut dia, mengakibatkan tokoh-tokoh Katolik yang mengemban jabatan politik dan jabatan publik tidak mau dikoreksi dan lupa bahwa mereka harus membawa nilai-nilai kristiani seperti keadilan, kebenaran, damai sejahtera,dan cinta kasih ke dalam kerasulan tata dunia.

Optimisme
Telah menjadi kenyataan bahwa hubungan awam Katolik yang terlibat di dalam bidang tata dunia terutama kader-kader Katolik yang menempati jabatan publik dengan gereja seringkali berada dalam ketegangan. Pada akhir Muspas VI, saya bertanya kepada Uskup Sensi mengenai peranan awam Katolik di dalam reksa pastoral keuskupan pascaMuspas VI. Uskup Agung ini menegaskan lagi optimismenya mengenai keterlibatan awam Katolik yang makin meningkat dari waktu ke waktu. Keuskupan sendiri, kata Uskup Sensi, merasa terdapat kemauan baik untuk bekerja sama bergandengan tangan. Namun kerja sama kemitraan ini tidak mengarah pada sikap kompromistis, tapi ada keleluasaan untuk menemukan titik temu sambil tidak menutup mata terhadap kelemahan-kelemahan dan kendala.

“Sebagai uskup saya senang dan telah menjadi impian saya agar tokoh-tokoh Katolik meningkatkan keterlibatan mereka dalam bidang tata dunia dan meningkatkan kemampuannya. Gereja akan merangkul mereka dan mengajak kerja sama. Mereka ini orang Katolik yang selama ini tidak kita jaring sehingga mereka menjadi enggan,” kata Uskup Agung.
Uskup Sensi menilai bahwa sikap saling menjauh tidak memberikan keuntungan bagi pastoral gereja. Karena itu keuskupan akan mencari kemasan kerja sama merangkul “agar tidak ada yang lari”. Namun daya rangkul seperti ini tidak akan menghilangkan fungsi etis dan kritis gereja. Karena sikap etis dan kritis ini merupakan keharusan bagi gereja, namun Uskup Sensi melihat “ada lorong-lorong baru” ke arah kerja sama yang mampu meningkatkan kontribusi Gereja bagi kesejahteraan bersama.

Pastoral Jejaring
Sepanjang sejarah Muspas, konferensi pers baru pertama kali dilakukan pada Muspas VI. Panitia pengarah (steering committee) Romo Cyrilus Lena, Romo Aleks Tabe, drg. Dominikus Minggu Mere, Ketua Komunikasi Sosial (Komsos) Romo Reginald Piperno dan Romo Feri Deidhae berbicara di depan para wartawan yang bertugas di Ende mengenai hasil penelitian terhadap kehidupan komunitas umat basis, arah dasar pastoral keuskupan, dan banyak hal lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa gereja Katolik ingin selalu memanfaatkan semua potensi yang tersedia di dalam masyarakat untuk memaklumkan warta keselamatan Allah ‘dari atas atap rumah”sebagaimana diserukan oleh mendiang Paus Johanes Paulus II. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa keuskupan hendak menarik satu jejaring baru ke dalam jejaring-jejaring yang telah dibina dan dibentuk selama ini. Sebab bagaimanapun keuskupan mau menggunakan media publik untuk menjangkau begitu banyak orang demi memenangkan pendapat publik. Karena itu amatlah tepat ketika Direktur Pusat Pastoral periode 2005-2010 Romo Cyrilus Lena mengatakan bahwa Muspas VI sukses karena sebuah jejaring. Karena pendekatan jejaring itu juga maka Muspas VI amat kaya warna.

Romo Cyrilus, yang sekarang menjabat Vikjen Keuskupan Agung Ende di depan para wartawan mengatakan, perkembangan kehidupan masyarakat menuntut keterlibatan gereja di tengah tata dunia sebagai garam, terang, dan nabi. Gereja tidak bisa mengambil jarak atas kenyataan hidup bermasyarakat di bidang politik, hak asasi manusia, hukum, dan lingkungan hidup. Untuk mencapai tugas yang berat ini, menurut dia, sudah waktunya Gereja Keuskupan Agung Ende membantu pastoral jejaring yakni membangun kerja sama dengan berbagai komponen masyarakat termasuk dengan pemerintah sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip nilai yang benar dan nabi di tengah tata dunia.

Pendekatan jejaring dalam memenangkan strategi pastoral sesungguhnya mencerminkan hakikat dari gereja itu sendiri. Seperti yang saya tulis dalam kolom Asal Omong Harian FloresPos (edisi 24 Juli 2010) keuskupan telah menegaskan bahwa umat adalah subjek dari pastoral gereja dan ladang rakyat adalah lokus dari karya pastoral. Karena itu terdapat pergeseran dalam pendekatan pastoral dari gereja hirarki-institusi ke pemberdayaan umat Allah dalam wadah komunitas umat basis di bawah bimbingan para gembala. Hal ini tentu saja sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II, yang melihat gereja sebagai umat Allah (people of God).

Perubahan ini tentu membawa beberapa konsekuensi. Pertama, pendekatan ini akan melahirkan kepemimpinan awam yang kuat dan tangguh. Salah satu tujuan jangka panjang dari pengembangan komunitas umat basis adalah tumbuhnya kepemimpinan awam yang tangguh dan bertanggung jawab. Kendati dari evaluasi terhadap kehidupan umat basis masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam diri fungsionaris pastoral terutama fungsionaris pastoral awam, namun dalam jangka panjang pelatihan, up grading dan pendidikan kepemimpinan yang mulai tekun dilaksanakan gereja akan membuahkan hasil. Proses kaderisasi semacam ini pada akhirnya akan menghasilkan kader-kader awam yang terlatih, tangguh dan penuh komitmen. Prosesnya memang memakan waktu mengingat banyak fungsionaris pastoral tidak mendapat teologi formal. Namun pemahaman yang memadai mengenai gereja akan cukup membantu peran mereka di dalam tata dunia.

Kedua, pastoral jejaring merefleksikan hakikat gereja dalam menjalankan perutusannya. Di dalam dokumen Apostolicam Actuositatem (dekrit tentang Kerasulan Awam) dari Konsili Vatikan II Nomor 2 menegaskan bahwa hanya ada satu perutusan tapi ada banyak pelayanan. “Dalam Gereja ada perbedaan pelayanan tetapi ada kesatuan perutusan. Para rasul dan pengganti mereka diberi Kristus tugas mengajar, menguduskan dan memimpin atas nama dan dengan kekuasaanNya. Akan tetapi para awam, yang mengambil bagian di dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja menjalankan peranannya dalam perutusan umat Allah di dalam gereja dan di dalam dunia. Mereka benar-benar menjalankan kerasulan dengan kegiatannya untuk penginjilan dan pengudusan manusia serta untuk meresapkan dan memantapkan semangat Injil ke dalam tata ikhwal duniawi sekian hingga kegiatan mereka di bidang ini jelas-jelas memberikan kesaksian tentang Kristus dan melayani kebutuhan manusia. Karena adalah khas bagi status awam bahwa mereka hidup di tengah dunia dan urusan-urusan duniawi, maka mereka dipanggil Allah untuk menunaikan kerasulannya sebagai ragi di dalam dunia dengan semangat kristen yang berkobar-kobar”.

Proses menciptakan fungsionaris pastoral yang teratur dan terarah ini pada titik terjauh akan memperkuat kesaksian dan kehadiran gereja di tengah tata dunia. Para awam yang tangguh yang lahir dari proses yang diciptakan dari pengembangan komunitas umat basis itu akan menjalankan peran mereka sebagai orang Katolik di dalam bidang-bidang karya yang digelutinya. Karena itu dalam nada optimisme demikian, reksa pastoral gereja (keuskupan) hanyalah berfungsi sebagai arah dasar yang akan diimplementasikan di bidang-bidang karya di mana para awam terlibat. Strategi pastoral jejaring dengan demikian akan menghemat anggaran, lebih efisien dan efektif dalam mencapai sasarannya.

Ketiga, pastoral jejaring akan memperkuat konsep gereja sebagai umat Allah dan dengan demikian mendorong lahirnya kharisma-kharisma dalam diri anggotanya. Hakikat gereja sebagai umat Allah akan diperkuat di mana kharisma anggota tercermin di dalam “kepelbagaian pelayanan” yang mengalir dari “satu perutusan” AA No. 2). Sebab bagaimanapun “Gereja melalui semua anggotanya, walaupun dengan cara yang berbeda-beda, karena panggilan kristen dari kodratnya adalah juga panggilan untuk kerasulan. Seperti dalam kesatuan badan yang hidup, tidak ada satu anggotapun bersikap melulu pasif tapi serentak mengambil bagian dalam kehidupan tubuh dan berperan serta dalam kegiatannya” (AA No. 2).

Keempat, pastoral jejaring menghendaki adanya perubahan dalam pendekatan. Paradigma ini mengharuskan adanya kemampuan di level pengambil kebijakan (pemimpin-pemimpin awam dan hirarki) untuk merangkul dan memberdayakan semua potensi di dalam jejaring tersebut tanpa kehilangan fungsi kritis kenabian yang menjadi panggilan gereja dalam tata dunia. Kerja sama pada setiap level karya tidak boleh membungkam fungsi kritik dan kritis dari gereja. Karena hakikat gereja adalah menegur di bawah empat mata bila ada yang berjalan di luar jalur yang membahayakan imannya. Fungsi kritis kenabian itu diperlukan agar kehidupan bersama kita menjadi lebih berkualitas.

Kelima, pastoral jejaring menuntut adanya koordinasi dan bimbingan. Agar reksa pastoral menjadi terarah pada tujuan-tujuan yang sejalan dengan pengembangan tubuh mistik gereja, maka diperlukan koordinasi dari pemimpin gereja. Demikian halnya pula fungsi kegembalaan hirarki agar selalu membimbing dan mengarahkan seluruh anggota tubuh Gereja ke dalam gerak kesatuan menuju tujuan bersama. Fungsi koordinasi dan bimbingan ini diperlukan agar seluruh karya awam Katolik baik yang dilakukan oleh orang perorangan maupun organisasi-organisasi terintegasikan dengan baik.

Dekrit Apostolicam Actuositatem Nomor 23 berkata: “Tidak kurang pentingnya kerja sama di antara berbagai karya kerasulan yang harus diatur oleh hirarki secara serasi. Karena untuk memajukan semangat kesatuan, untuk memancarkan cinta kasih persaudaraan dalam seluruh kerasulan Gereja, untuk mencapai tujuan bersama, dan menghindarkan persaingan yang saling merugikan, dituntut bahwa semua bentuk kerasulan dalam Gereja saling menghargai dan dikoordinasikan dengan baik, sambil mempertahankan ciri masing-masing”. Sebab tugas hirarki memupuk kerasulan awam, memberikan asas-asas dan bantuan rohani, dan menata pelaksanaan kerasulan itu sendiri demi kepentingan umum Gereja, dan menjaga agar ajaran dan tertib hidup ditaati (bdk AA N0. 24).

Kita semua tentu saja bermimpi bahwa pengembangan komunitas umat basis yang terarah dan terencana akan melahirkan pemimpin-pemimpin awam yang tangguh, yang memiliki komitmen untuk menata ulang terus menerus segala aspek kehidupan kita agar kualitas kehidupan bersama kita makin lebih baik dan kita menikmati bersama kesejahteraan rohani dan jasmani. Untuk jangka panjang strategi pastoral yang terencana, terarah dan terukur yang kita usahakan di dalam komunitas basis kita akan mampu menciptakan bumi dan langit baru di Flores. Sebab perubahan-perubahan yang kita lakukan di tengah tata dunia dimulai dari akarnya. Jika kita mulai dari akar dan menyembuhkan akar duluan, maka kita boleh menaruh harapan bahwa kehadiran Gereja Katolik di wilayah ini akan makin dirasakan. Seperti yang dikatakan oleh Pastor Ferdi Meo, salah satu peninjau dari Keuskupan Pangkalpinang dalam kesaksiannya pada akhir Muspas VI di Mautapaga bahwa Keuskupan Agung Ende tidak boleh berhenti untuk memberikan inspirasi bagi keuskupan lainnya. Gereja Katolik Flores memang harus tetap memberikan inspirasi bagi Gereja Katolik lainnya di Indonesia.

Artikel ini dimuat Majalah Penyalur edisi Januari-April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s