Setelah 40 Tahun Kemudian

Gubernur NTT Frans Lebu Raya menyerahkan perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga kepada Ketua Puskopdit Flores Mandiri Yoseph Dopo.

Oleh FRANS OBON

Tanggal 27 Mei 2011 Gubernur NTT Frans Lebu Raya akan meresmikan gedung baru Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri di Ende. Gedung megah berlantai dua di Jln Melati itu, menurut Manajer Puskopdit Flores Mandiri Mikhael Hongkoda Jawa, merupakan visualisasi pencapaian gerakan koperasi kredit di Flores dalam kurun waktu 40 tahun.

Dia bilang kepada saya suatu kesempatan bahwa bukan soal berapa besar dana dialokasikan untuk membangun gedung baru ini, tapi gedung baru ini bercerita tentang keringat dan air mata, jatuh dan bangun dari orang-orang yang terlibat dalam gerakan koperasi kredit untuk menolong satu sama lain. Karena itu gedung baru ini mencerminkan tiga pilar dari gerakan koperasi kredit yakni pendidikan, swadaya, dan solidaritas. Karena itu tepat pada 40 tahun gerakan koperasi kredit di Indonesia dan di Flores, Puskopdit Flores Mandiri membangun gedung baru yang cukup representatif. Acara peresmian akan dimeriahkan dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Yang Mulia Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota.

Di gedung baru ini nanti bukan saja menjadi tempat manajemen bekerja tiap hari, tapi akan dijadikan pusat pendidikan dan pelatihan bagi anggota gerakan koperasi kredit di Flores. Sebab gerakan ini harus terus menerus melakukan proses konsientisasi bagi para anggotanya melalui pendidkan dan pelatihan atau peningkatan capacity building baik di kalangan pengurus, pengawas maupun para anggotanya.

Gubernur Frans Lebu Raya juga pada kesempatan ini akan menyerahkan perubahan anggaran dasar dan rumah tangga Puskopdit Flores Mandiri hasil amandemen pada rapat anggota khusus gerakan koperasi kredit pada 5-6 Februari 2011 lalu, yang berlangsung di Ende.

Amandemen anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ini selain mengatur soal hak suara dalam rapat koperasi kredit baik berdasarkan jumlah kekayaan maupun jumlah anggota namun juga soal perubahan nama Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, dan Nagekeo menjadi Puskopdit Flores Mandiri yang dilandaskan pada semangat dasar dari gerakan koperasi kredit yakni melampaui batas suku, agama dan ras. Bahwa jati diri gerakan koperasi kredit yang dilandaskan pada tiga pilar utama yakni pendidikan, swadaya, dan solidaritas tidak boleh terikat pada agama, suku dan ras, tapi harus dilandasi pada kepentingan bersama dan kebaikan umum secara ekonomis.

Pada awal gerakan koperasi kredit di Flores pada tahun 1970-an, sejalan dengan pembentukan Biro Konsultasi Credit Union di Jakarta, yang bertugas melakukan koordinasi dan konsolidasi gerakan credit union (sebutan pada waktu itu) ke daerah-daerah, maka di Flores dibentuk Badan Koordinasi Gerakan Koperasi Kredit. Flores dibagi dua yakni Flores bagian barat yang mencakup Ende, Ngada, Manggarai, Sumba dan Flores bagian timur (Sikka, Flores Timur dan Lembata). Badan koordinasi di Flores bagian barat berpusat di Ende yang diberi nama Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) NTT Barat. Sejalan dengan peralihan tongkat estafet kepemimpinan dan kepengurusan di BK3D Ende-Ngada, maka pada 22 Agustus 1998 diganti namanya menjadi Pusat Koperasi Kredit Bekatigade Ende-Ngada. Ketika Nagekeo dimekarkan menjadi kabupaten baru, maka diganti menjadi Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, Nagekeo (Puskopdit BENN).

Pergantian nama dari Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, Nagekeo menjadi Puskopdit Flores Mandiri merupakan tonggak baru di dalam gerakan koperasi kredit di Flores ketika gerakan koperasi kredit berusia 40 tahun. Sebelumnya Puskopdit menggunakan nama yang mencerminkan etnisitas. Karakter etnis ini tentu saja menghambat gerakan koperasi kredit untuk melakukan ekspansi bisnis. Karena itu gerakan koperasi kredit mau keluar dari keterkungkungan etnis dan ingin menjangkau lebih luas lagi semua orang yang ingin mengorganisasikan dirinya untuk kepentingan ekonomi.

Pergantian nama ini mengandung harapan, optimisme, dan komitmen untuk meninggalkan embel-embel etnis di dalam gerakan ekonomi di Flores. Pembagian kabupaten di Flores yang dilakukan berdasarkan sejarah etnis di masa lalu, coba dijembatani melalui gerakan koperasi kredit agar Flores menjadi satu kekuatan kawasan ekonomi dengan jembatan baru koperasi kredit. Pertumbuhan koperasi kredit yang begitu bagus dan pesat di Flores membersitkan haparan baru bahwa masyarakat Flores ingin membangun kekuatan ekonomi dalam konteks kawasan. Pembangunan dalam konteks kawasan ini mendorong agar masyarakat Flores bersatu dan memikirkan bersama masa depannya.

Gubernur Frans Lebu Raya didampingi Yoseph Dopo dan Manajer Puskopdit Flores Mandiri, Mikhael Hongkoda Jawa.

Nama Flores memang tepat dipilih untuk menunjukkan bahwa Flores sebagai sebuah entitas wilayah dan entitas kultural tidak boleh bergerak dan melangkah dalam kotak-kotak primordialisme suku dan agama, melainkan mengembangkan koperasi menjadi wadah ekonomi yang bisa mengentaskan kemiskinan di Flores.

Di berbagai kesempatan rapat anggota tahunan koperasi kredit di bawah Puskopdit Flores Mandiri, dari pidato dan sambutan para manajer dan pengurus, saya sudah sering mendengar pernyataan bahwa Flores memiliki potensi sumber daya manusia dan sumber daya ekonomi yang cukup potensial, tetapi masyarakat Flores miskin cara berpikir. Ini tidak lain mau menunjukkan bahwa cara berpikirlah yang menentukan apakah masyarakat Flores tetap tinggal di dalam kubangan kemiskinan atau mengubah cara pikirnya dan kreatif mencari cara-cara baru untuk mengelola potensi yang ada dan mengatur secara ekonomis, efisien dan efektif potensi sumber daya yang tersedia.

Tiga Pilar
Sudah lama saya mengikuti dan melakukan reportase tentang gerakan koperasi kredit di Flores. Dari pengamatan, perbincangan dan diskusi dengan para aktivis, pengurus, dan manajer koperasi kredit, faktor utama yang membuat koperasi kredit berkembang baik adalah karena kesetiaan pada filosofi dasar gerakan koperasi kredit yakni pendidikan, swadaya dan solidaritas. Tiga filosofi dasar ini dipegang teguh dan menjadi spirit dasar dalam mengelola gerakan kopersi kredit.

Kalau mempelajari sejarah gerakan koperasi kredit di Flores, koperasi kredit yang melakukan pendidikan secara teratur bagi para anggotanya akan mengalami kemajuan pesat dan berkembang baik, serta bertumbuh menjadi koperasi yang sehat. Saat ini koperasi kredit di bawah Puskopdit Flores Mandiri mengadakan pendidikan tujuh jam bagi anggota baru. Kemudian pendidikan dan pelatihan lanjutan. Koperasi kredit melakukan studi banding di Jawa, Sumatera,dan di luar negeri. Membangun jaringan kerja sama dengan berbagai lembaga dan organisasi. Peningkatan capacity building diberi perhatian utama. Karyawan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang teratur dan calon karyawan mengikuti on job traning. Pendek kata pendidikan menjadi salah satu pilar yang menopang pertumbuhan koperasi.

Kedua, swadaya. Sudah lama gerakan koperasi kredit di bawah Puskopdit Mandiri menghindari dirinya sebagai wadah penyalur dana bergulir dari pihak luar. Karena ketika koperasi kredit menerima dana dari luar, maka aspek keswadayaan mulai tergerus. Koperasi kredit punya pengalaman bahwa ketika ada dana bergulir, banyak orang datang. Begitu dana habis, semua pergi. Hal ini tentu akan melahirkan mentalitas merpati (koperasi merpati): ada jagung merpati datang, jagung habis merpati pergi. Gerakan koperasi kredit ingin menghindari ini dan mendorong keswadayaan. Keswadayaan akan mendidik orang untuk menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk ditabung pada koperasi, sehingga orang yang bersangkutan tidak saja menjadikan koperasi tempat meminjam uang, tapi menjadi tempat perencanaan masa depannya.

Ketiga, aspek solidaritas. “Kau susah aku bantu, aku susah kau bantu” adalah komitmen dasar dari gerakan koperasi kredit sejak diperkenalkan di Flores. Dari publikasi di media, kita sering temukan kata-kata ini. Karena koperasi kredit adalah kumpulan orang-orang yang merasa senasib dan sepenanggungan untuk saling menolong satu sama lain. Karena itu koperasi kredit sering disebut sebagai wadah orang-orang kecil dan sederhana untuk saling menolong satu sama lain.

Terbit Buku
Untuk menyeringkan sebagian dari perjalanan koperasi kredit di bawah Puskopdit Flores Mandiri, gerakan koperasi kredit menerbitkan buku berjudul: Koperasi Kredit, Membangun Peradaban Bermartabat. Buku ini rencananya akan diluncurkan oleh Yang Mulia Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota pada saat peresmian gedung baru Puskopdit.

Dari buku inilah kita barangkali belajar banyak mengenai alasan-alasan mendasar mengapa masyarakat mendirikan koperasi kredit. Pada umumnya koperasi kredit lahir dari kepahitan hidup, kesulitan ekonomi, dan kepekaan akan kesulitan orang lain. Penggagas-penggagas awal adalah tokoh-tokoh dalam masyarakat. Sebagian besar para penggagas itu tidak pernah tidur nyenyak dalam kenyamanan pribadi, tetapi sebaliknya gelisah dengan kesulitan-kesulitan ekonomi orang-orang di sekitar mereka. Karena itu pada umumnya gerakan koperasi kredit pada awalnya adalah berbentuk Kelompok Studi Tabungan (KST). Kepekaan dan kepedulian itu dipadukan dengan ketekunan dan komitmen untuk menjaga dan merawat wadah baru tersebut. Ada banyak koperasi kredit yang hilang dan tumbuh. Namun itu semua memberikan kita pelajaran bahwa tidak mudah mengelola organisasi ekonomi dengan melibatkan anggota dari berbagai latar belakang pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Sejarah 40 tahun gerakan koperasi kredit di Flores bukanlah jalan lapang. Tapi jalan berliku yang penuh debu dan lumpur, bertikung terjal berbatu cadas. Namun oleh kerja keras, keringat, air mata, komitmen, tanggung jawab, kepekaan dan kepedulian membuat koperasi kredit menjadi harapan baru bagi pengembangan ekonomi masyarakatdi Flores. Profisiat gerakan koperasi kredit!

Flores Pos edisi 27 Mei 2011

Satu pemikiran pada “Setelah 40 Tahun Kemudian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s