Tokoh Koperasi

Oleh FRANS OBON

Agus Beu Mude (tengah), salah satu perintis gerakan koperasi kredit di Flores.

GERAKAN koperasi kredit di Flores dan Nusa Tenggara Timur sudah berusia 40 tahun. Pada tahun 1971 dibentuk Biro Konsultasi Koperasi Kredit – saat itu digunakan istilah credit union. Credere dalam bahasa Latin artinya percaya. Karena itu koperasi kredit pada hakikatnya adalah perkumpulan orang-orang dari berbagai latar belakang yang saling percaya. Biro Konsultasi Koperasi Kredit itu menyebarluaskan gagasan credit union ke daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Krisis ekonomi warisan Orde Lama masih menghantui Indonesia. Birokrat-teknokrat Orde Baru mulai perlahan-lahan menata kebijakan ekonomi Indonesia. Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) mulai dirancang untuk memulihkan dan membangun kembali fondasi ekonomi Indonesia di bawah Orde Baru. Dalam semangat itulah, koperasi kredit mendapatkan momentum yang tepat.

Pertanyaan bagi koperasi kredit adalah melalui medium apa koperasi kredit ini disebarluaskan ke daerah-daerah. Apakah melalui pemerintah daerah atau melalui lembaga apa? Sejarah memang selalu terulang. Koperasi di masa Orde Lama dihambat oleh kebijakan politik pemerintah. Hal yang sama kemudian dialami oleh koperasi kredit di bawah Orde Baru.

Agus Beu Mude mengatakan kepada saya dalam kesempatan wawancara untuk penulisan buku kenangan koperasi kredit yang berjudul Koperasi Kredit: Membangun Peradaban Bermartabat, bahwa semula gerakan koperasi kredit ini mau diperkenalkan melalui pemerintah daerah. Tetapi hal itu kemudian urung dilakukan.
Pilihan kemudian jatuh ke Delegatus Sosial (Delsos) Gereja Katolik. Di Ende pada waktu itu Delegatus Sosial (Delsos) dijabat P B J Baack SVD. Delsos mendorong agar wadah baru bagi masyarakat untuk menghimpun kekuatan ekonomi baru di masa Orde Baru itu berkembang dan bertumbuh di Flores. Karena itu tidaklah mengherankan kalau koperasi kredit pertama di Flores dibentuk di lembaga-lembaga pendidikan atau lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Gereja Katolik.

Gagasan koperasi kredit mulai disebarkan ke seluruh Flores diawali dengan pertemuan di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula, yang pada masa itu masih menjadi PTPM. Tokoh-tokoh awam Katolik di berbagai daerah di Keuskupan Agung Ende hadir untuk mendengarkan wadah baru bernama credit union itu. Pertemuan berikut dilanjutkan di Detusoko. Dari situlah dibentuk berbagai credit union di Keuskupan Agung Ende. Singkat kata bahwa Delsos Keuskupan Agung Ende adalah garda terdepan dari pengembangan credit union ini.

Haruslah diakui bahwa banyak koperasi kredit dibentuk setelah pertemuan Ende dan Detusoko tapi banyak pula yang jatuh tak bangun kembali. Tapi pengalaman jatuh bangun itu tidak menghentikan langkah dan mematikan prakarsa dari tokoh-tokoh di dalam masyarakat untuk membentuk koperasi kredit.

Kisah jatuh bangun, keringat dan air mata dalam gerakan koperasi kredit sebagian kecil direkam di dalam buku kenangan 40 tahun gerakan koperasi kredit yang diterbitkan Puskopdit Flores Mandiri yang berjudul Koperasi Kredit, Membangun Peradaban Bermartabat.

Hampir semua kisah awal pendirian koperasi kredit lahir dari kepedulian dan kepekaan terhadap situasi ekonomi di lingkungan sekitarnya. Ambil contoh. Kopdit Serviam lahir dari keprihatinan dan kepedulian guru-guru dan dosen STPM Santa Ursula Ende. Kopdit Setiawan di Bajawa lahir dari kepedulian para pegawai yang menyaksikan bahwa banyak pegawa minta panjar gaji dan beras pada bendahara kantor. Kopdit Sangosay bertumbuh di kalangan para guru di Yasukda Ngada. Intinya adalah koperasi kredit dibentuk karena adanya solidaritas untuk membantu orang lain yang mengalami kesulitan biaya pendidikan anak-anak, kesulitan dana kesehatan, menolong orang yang ijon uang pada rentenir, dan orang yang minta panjar gaji dan beras pada kantor.

Dari kisah dan cerita Agus Beu Mude dan Moses J Mogo dalam buku yang sama tadi, kita mendapatkan kesan yang mengagumkan bahwa komitmen, tanggung jawab, empati dan peduli dengan kesulitan orang lain menjadi sumber kekuatan bagi para aktivis koperasi kredit untuk memperkenalkan gagasan-gagasan baru wadah ekonomi yang bernama credit union itu. Mereka berjalan dari kampung ke kampung, dari kota ke kota untuk memperkenalkan wadah baru ekonomi tersebut. Tanpa lelah, tanpa uang saku dan uang jalan.

Masih banyak kisah yang tidak tertulis mengenai orang-orang yang berjuang untuk memperbaiki nasib orang lain melalui koperasi kredit. Tidaklah mudah untuk membangun koperasi kredit. Membentuknya mudah, tapi merawat, mempertahankan, dan membesarkannya tidak terlalu mudah. Karena begitu banyak cara pikir dan cara pandang dari anggota.

Untuk menghargai jasa dan pengabdian dari orang-orang yang mendedikasikan hidupnya bagi pengembangan koperasi kredit, gerakan koperasi kredit sejak tahun 2003 pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Mauponggo mememberikan anugerah cincin penghargaan. Tradisi itu terus dilasanakan sampai saat ini.

Koperasi kredit juga memberi penghargaan yang tinggi pada peran Gereja Katolik Flores yang memelopori, memberi semangat dan memberi arah bagi pembangunan ekonomi Flores. Setelah 40 tahun gerakan koperasi kredit di Flores, kita melihat dengan mata jelas dan dengan mata iman bahwa Gereja Katolik telah meletakkan dasar bagi pembangunan ekonomi umat di Flores. Sejarah koperasi kredit mencatatanya dengan jelas dan dengan tintas emas di dalam hati orang-orang yang melihat mengenai peran penting Gereja Katolik. Karena itu gerakan koperasi kredit di Flores, terutama pada perayaan 40 tahun koperasi kredit, mengundang Yang Mulia Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota memimpin ekaristi syukur dan meluncurkan buku kenangan 40 tahun koperasi kredit. Inilah sepenggal dari rasa cinta dan rasa hormat pada kepeloporan Gereja Katolik dalam gerakan ini. Dengan ini kita makin tahu dan sadar bahwa di dalam agama dan Kitab Sucinya, terkandung tugas dan tanggung jawab untuk memajukan ekonomi umat.

Kalau sekarang pemerintah daerah mau menjadikan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai provinsi koperasi dan di Flores beberapa kabupaten diikrarkan menjadi kabupaten koperasi, maka momentumnya menjadi tepat. Sudah 40 tahun gerakan koperasi kredit di Nusa Tenggara Timur umumnya dan di Flores khususnya. Peran regulator pemerintah akan menjadi lebih mudah. Karena inisiatif mendirikan koperasi kredit tumbuh dan lahir dari masyarakat sendiri. Bahkan ada begitu banyak koperasi di Nusa Tenggara Timur lahir dan besar serta berkembang baik dan sehat tanpa bantuan pemerintah. Ini sesuatu yang baik.

Namun saya melihat ada bahaya dari ikrar kabupaten dan provinsi koperasi di daerah kita. Pemerintah seperti biasanya ingin menciptakan pahlawan bagi dirinya sendiri untuk kepentingan politik pencitraan. Pemerintah memberikan penghargaan kepada pejabat publik pemerintahan sebagai tokoh koperasi. Bupati sebagai tokoh koperasi di kabupaten. Apa perannya dalam menumbuhkan gerakan koperasi karena usia jabatannya hanya 5 tahun atau 10 tahun. Alokasi anggaran juga tidak banyak. Kecuali untuk dinasnya sendiri. Kepentingannya tentu saja hanya berguna untuk politik pencitraan. Tetapi kalau penghargaan itu diberikan kepada tokoh-tokoh pergerakan koperasi maka jauh lebih bermanfaat dan berguna. Ini artinya pemerintah menghargai insisiatif-inisiatif masyarakat untuk menolong orang-orang lain yang mengalami kesulitan ekonomi. Penghargaan yang diberikan oleh pemerintah itu akan melahirkan inisiatif-inisiatif baru di tengah masyarakat untuk mengatasi kesulitan ekonomi. Bukan sebaliknya menciptakan pahlawan untuk dirinya sendiri dengan mengklaim keberhasilan orang lain sebagai keberhasilan kebijakan politiknya.

Asal Omong edisi 28 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s