Memperkuat Akar Rumput

Gubernur NTT Frans Lebu Raya didampingi Ketua Puskopdit Flores Mandiri Yoseph Dopo dan Manajer Puskopdit Mikhael Hongkoda Jawa meninjau gedung baru Puskopdit.

Oleh FRANS OBON

GERAKAN koperasi kredit di Flores dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah berusia 40 tahun, terhitung sejak dibentuknya Biro Konsultasi Credit Union di Jakarta pada tahun 1971. Gerakan koperasi kredit di Indonesia sudah ada sebelumnya, namun politik pemerintah seringkali tidak menguntungkan gerakan tersebut. Gerakan ini seakan mendapatkan momentum yang bagus ketika Orde Baru masih baru. Ketika Orde Baru masih membuka lembaran barunya dan berusaha memenuhi janjinya untuk membarui politik Indonesia dan membangun kembali ekonomi yang morat marit selama Orde Lama.

Politik Orde Baru pun berusaha merangkul sebanyak mungkin kekuatan di dalam masyarakat untuk menopang dirinya. Namun pada akhirnya juga Orde Baru jatuh pada kecenderungan otoritarianisme yakni mengkooptasi semua kekuatan-kekuatan independen di dalam masyarakat. Politik yang kooptatif memang tidak menghendaki adanya kekuatan alternatif di luar kekuatan yang dikendalikan oleh negara. Koperasi kredit di dalam sejarahnya juga mengalami perlakuan seperti itu. Namun koperasi kredit sebagai sebuah gerakan alternatif masyarakat akar rumput untuk mengorganisasikan dirinya secara ekonomi tetap bertahan di Flores.

Bertahan dalam kondisi jatuh bangun. Namun karena ketekunan, komitmen, tanggung jawab dan dipadukan dengan keinginan yang kuat dari masyarakat untuk memperbaiki kehidupan ekonominya membuat gerakan ini bertahan dan bertumbuh perlahan-lahan. Gerakan sosial ekonomi seperti koperasi kredit ini memang bertahan karena lahir dari empati dan kepedulian di antara masyarakat setempat untuk menolong sesamanya. Hal itu bisa terlihat dari sejarah berdirinya koperasi-koperasi kredit di Flores (lihat buku Koperasi Kredit: Membangun Peradaban Bermartabat, editor Mikhael H Jawa, dkk. yang diterbitkan Puskopdit Flores Mandiri (2011) dalam rangka mengenang 40 tahun gerakan koperasi kredit di Flores).

Memang pantas jika gerakan koperasi kredit di bawah Puskopdit Flores Mandiri merayakan kenangan 40 tahun gerakan koperasi kredit di Flores dalam suasana yang cukup meriah pada tanggal 27 Mei 2011. Gubernur NTT Frans Lebu Raya meresmikan gedung baru berlantai dua ini dan Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota memimpin perayaan ekaristi syukur.

Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota disambut saat peresmian gedung baru Puskopdit Flores Mandiri dan perayaan 40 tahun gerakan koperasi kredit di Flores.

Gerakan koperasi kredit memang pantas memberikan apresiasi kepada peranan Gereja Katolik Flores atas kepeloporannya dalam gerakan koperasi kredit di Flores. Sebab gerakan ini pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat Flores melalui Delegatus Sosial (Delsos) – sekarang Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) — Keuskupan Agung Ende. Gerakan koperasi kredit dibangun di atas tiga pilar utama yakni pendidikan, swadaya dan solidaritas.

Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota baik dalam kotbah maupun dalam sambutannya pada perayaan tersebut menegaskan lagi komitmen Gereja Katolik Flores dalam memberdayakan masyarakat secara ekonomi untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Dalam kotbah dia mengatakan, biji yang kecil pada masa awalnya kini bertumbuh menjadi pohon yang besar yang memberikan perlindungan kepada semua orang di dalam gerakan ini tanpa memandang suku, agama, dan ras. Gereja Katolik Flores gembira bahwa apa yang dirintisnya ditumbuhkan dan dikembangkan oleh “putra-putri bangsa”, sebuah frasa yang digunakan uskup dalam sambutannya.

Dengan demikian sebenarnya melalui gerakan koperasi kredit Gereja Katolik menyediakan wadah ekonomi baru di dalam masyarakat Flores untuk memperkuat masyarakat akar rumput yang tidak lain adalah mayoritas rakyat Flores. Untuk memperkuat akar rumput itu, diperlukan gerakan ekonomi yang tidak mengharapkan bantuan dari luar. Inilah yang memicu keterbukaan Gereja Katolik terhadap gerakan koperasi kredit. Pertanyaan adalah sampai kapan ekonomi Flores ditopang oleh bantuan dari luar? Karena itu sejak awal ditanamkan agar gerakan koperasi kredit menjadi gerakan otonom dan mandiri.

Komitmen itu ditegaskan lagi pada perayaan 40 tahun, 27 Mei 2011 lalu. Dengan kata lain, perayaan 40 tahun gerakan koperasi kredit memperkuat kembali semangat dasar ini di dalam gerakan koperasi kredit dengan mempertegaskan lagi jati dirinya sebagai gerakan yang berlandaskan pada pilar pendidikan, swadaya dan solidaritas.

Komitmen dan penegasan itu disampaikan lagi pengurus Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) Jakarta, Dede, yang mengatakan bahwa gerakan koperasi kredit tidak boleh membebani anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Hal itu memang benar untuk mengingatkan kembali visi awal dari gerakan koperasi kredit yakni melepaskan masyarakat dari ketergantungan pada bantuan dari luar. Sebaliknya gerakan ini harus dibangun di atas fondasi kekuatan sendiri dalam semangat solidaritas dan keswadayaan.

Sepanjang yang saya tahu – karena sudah lama saya membuat reportase mengenai gerakan koperasi kredit – gerakan koperasi kredit sudah mengambil kebijakan atau menarik garis pisah untuk tidak menerima dana-dana dari luar yang disalurkan melalui koperasi kredit. Ataupun dana-dana dari APBD untuk digulirkan di kalangan anggota koperasi kredit. Karena itu kekayaan (aset) dan uang yang ada di gerakan koperasi kredit adalah milik anggota.

Saya kira ada dua hal penting, yang dapat kita tarik dari pengalaman ini. Pertama, sudah terlalu lama anggaran negara atau APBD dibenani oleh politik. Anggaran pendapatan dan belanja daerah kita dibebani oleh berbagai kepentingan politik. Alokasinya juga memperhitungkan kepentingan politik di tingkat aktor negara baik pemerintah maupun DPRD. Konflik politik muncul dari sini terutama soal distribusi anggaran baik dalam bentuk proyek maupun dalam bentuk bantuan lainnya.

Konflik merebut aset demi kepentingan politik ini lalu merembet ke akar rumput, yang secara ekonomis miskin dan sentimen primordialnya tinggi. Padahal alokasi anggaran untuk kepentingan publik hanya sekitar 40 persen. Sedangkan selebihnya atau sekitar 60 persen digunakan untuk kepentingan birokrasi pemerintahan (belanja pegawai). Yang diperebutkan adalah anggaran 40 persen ini, yang akan dipakai untuk membangun infrastruktur, air bersih, listrik, jalan raya, dan lain-lain. Celakanya lagi, yang dikorupsi adalah justru anggaran 40 persen ini. Dengan kata lain kalau ada cerita korupsi, ya yang 40 persen inilah yang dikorupsi itu. Karena itu jangan heran bila tidak ada kemajuan berarti di daerah-daerah.

Kedua, saya kira Gereja Katolik di Flores harus tetap konsisten dengan gerakan memperkuat akar rumput. Karena mayoritas dari umatnya ada di akar rumput. Gerakan koperasi kredit di Flores sekarang ini harus tetap diarahkan untuk memandirikan masyarakat secara ekonomis dengan membangun dari kemampuan masyarakat sendiri. Gereja Katolik sebagai salah satu kekuatan moral dalam pembangunan di Flores harus terus menerus menyuarakan, memotivasi, mendorong, dan mempelopori gerakan kemandirian masyarakat dalam bidang ekonomi.

Saya kira selalu ada bahaya dan godaan bagi agama untuk selalu minta keistimewaan dari negara terutama dalam hal dukungan finansial. Godaan itu tidak lain bahwa agama ikut membebani anggaran negara. Padahal anggaran negara yang sedikit itu adalah hak rakyat, yang semestinya digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan publik. Saya kira Katolik sebagai mayoritas di Flores tidak boleh jatuh dalam bahaya dan godaan untuk ikut membebani APBD. Sebaliknya mendorong agar APBD digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Gereja Katolik tetap pada semangat memperkuat massa akar rumput. Karena Gereja punya tanggung jawab untuk itu.

Asal omong, edisi 4 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s