BOS Hanya untuk Bos

Oleh FRANS OBON

Sebanyak 25 orang tua dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wate, Desa Ria, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada melayangkan surat kepada Bupati Ngada untuk meminta pihak terkait melakukan audit penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Tuduhannya adalah pengelolaan dana BOS di sekolah tersebut tidak transparan dan disalahgunakan (Flores Pos, edisi 26 Oktober 2011).

Ketua Komisi C DPRD Ngada Yoseph Dopo meminta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Ngada untuk segera menangani protes dan keluhan orang tua murid SDN Wate ini. Kalau Dinas PPO tidak menanganinya dengan baik, maka kasus ini akan diserahkan kepada penyidik.

Cerita tentang ketidakberesan pengelolaan dana BOS hampir kita temukan di semua kabupaten di Flores. Hanya saja orang tua dari SDN Wate berani melayangkan surat protes kepada bupati yang isinya mempersoalkan pengelolaan dana BOS tersebut. Padahal banyak juga pengelolaan dana BOS di berbagai sekolah di Flores, disinyalir tidak beres.

Masalahnya sama saja yakni pengelolaannya tidak transparan. Kalau tidak ada transparansi dalam pengelolaan uang, hampir dapat dipastikan bahwa ada sesuatu yang mau disembunyikan. Sebab apa susahnya diberitahukan kepada masyarakat mengenai penggunaan uang tersebut. Sebab sudah ada aturan dan pedoman pelaksanaannya.

Pengelolaan dana pendidikan yang buruk ini, salah satunya adalah pengelolaan dana BOS, menjadi pemicu tidak adanya dampak positif dari penggelontoran dana yang makin tahun makin naik di sektor pendidikan. Dengan kata lain, anggaran pendidikan yang terus meningkat tiap tahun seakan tidak punya dampak positif bagi perbaikan sarana dan prasarana dan mutu pendidikan kita. Sekolah masih banyak yang reot, gedung sekolah yang roboh, dan mutu pendidikan yang tidak maju-maju.

Di dalam sejarah pendidikan dasar di Flores, telah diciptakan satu sistem yang memungkinkan partisipasi semua pihak dalam pengelolaan pendidikan. Apa yang kita sebut sekarang school based management (manajemen berbasis sekolah/MBS) telah lama dipraktikkan di dalam pengelolaan pendidikan di Flores. Praktik MBS sudah dimulai sejak Gereja Katolik membuka lembaga pendidikan dasar di Flores.

Dalam sistem ini masyarakat dilibatkan secara penuh di dalam pengelolaan pendidikan kita terutama dalam penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana yang menunjang keberlanjutan dari lembaga pendidikan. Itulah sebabnya pendidikan dasar di Flores bertahan dan terus berkembang saat ini.

Benih-benih kebersamaan dalam pengelolaan pendidikan itu telah dilupakan dan dilepaskan dari seluruh pengelolaan pendidikan kita di Flores. Itu hanya karena orang ingin mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Padahal, salah satu roh yang menghidupkan semangat kebersamaan dan gotong royong adalah keterbukaan, transparansi dalam soal apa saja, terutama dalam masalah keuangan.

Karena roh kebersamaan itu sudah dilepas, maka dalam pengelolaan dana BOS, misalnya, yang dihidupkan adalah sikap tertutup. Dengan ini peluang untuk melakukan manipulasi, kuitansi fiktif menjadi terbuka lebar. Jalan ke arah penyelewengan makin mulus. Pada akhirnya dana BOS hanyalah untuk bos dan koleganya. Fenomena seperti ini makin kuat dan berurat akar di Flores.

Bentara, Flores Pos 27 Oktober 2011

2 pemikiran pada “BOS Hanya untuk Bos

  1. 1). Ada banyak Kasek yg sering mengubah RAPBS yang sudah disepakati dg alasan “poin ini menurut dari atas” diganti dgn ini, dstx…. 2). Pencairan dana BOS selalu terlambat, sehingga pembelanjaan pun mandek2an….. 3). Semoga dana BOS bukan menjadi milik Bos dan kroni2nya. Trims….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s