Tanpa Kehadiran Petugas Medis

Oleh FRANS OBON

FAKTA yang terlihat dengan mata kepala publik bahwa Theresia Teze (30), warga Dhadhowawo, Desa Jawakisa, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo meninggal dunia dalam perjalanan menuju Puskesmas Danga. Ia meninggal dunia karena melahirkan anaknya (Flores Pos edisi 24 Oktober 2011). Jiwanya tidak tertolong karena dia keburu meninggal sekitar 30 menit sebelum tiba di Puskesmas Danga di Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo.

Dari autopsi verbal, begitu kata dokter, diketahui bahwa dia dalam melahirkan buah hatinya, lebih banyak ditolong oleh dukun. Diketahui pula bahwa dia jarang memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan. Bahkan dalam kasus terakhir, dia tidak pernah memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan. Padahal, jarak antara kediamannya dan sarana kesehatan tidak terlalu jauh.

Bahkan dikatakan, dia pernah dipanggil oleh camat agar memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan. Dia menyanggupi, namun dia tidak pernah datang.

Dengan melihat kejadian ini, apakah kita lantas mengatakan bahwa itulah akibatnya kalau tidak mau memeriksakan kesehatan selama kehamilan, ataukah kita mesti merefleksikan kembali cara, pendekatan, program, dan komitmen kita dalam menolong masyarakat sederhana di pedesaan agar menggunakan fasilitas kesehatan yang telah dibangun pemerintah, proaktif memeriksakan kesehatan pada petugas kesehatan?
Barangkali ada sebagian dari kita mempersalahkannya karena lalai memeriksakan kesehatannya selama kehamilan. Padahal, sudah diperingatkan.

Menyalahkan sang korban adalah sebuah bentuk ketidakdilan dalam bersikap. Dari rekaman media, kita tahu dan mendapat kesan bahwa petugas kesehatan kita bersikap menunggu di tempat. Mengapa petugas kesehatan kita tidak proaktif mendekati masyarakat. Mengapa kita tidak bisa berjalan dari kampung ke kampung memberikan penyuluhan kesehatan dan melayani masyarakat.

Petugas kesehatan patut dipersalahkan juga dalam kasus ini dalam konteks sikap proaktif melayani masyarakat. Jumlah petugas kesehatan kita makin banyak. Fasilitas juga makin baik seperti ada kendaraan dinas. Anggaran juga sudah mulai memadai. Kita bertanya mengapa di tengah kemajuan fasilitas kesehatan yang sudah baik, masih ada kasus-kasus kematian ibu melahirkan akibat tidak tertolong oleh petugas medis baik selama proses kehamilan maupun saat melahirkan.

Kepala Dinas Kesehatan Nagekeo dokter Martha Lamanepa sendiri mengatakan bahwa kejadian ini merupakan kejadian luar biasa di Nagekeo. Karena kasus serupa sudah terjadi empat kali. Kita tidak tahu jangan sampai kasus serupa akan terjadi lagi pada tahun ini.
Kita tidak bisa menilai sebuah kasus dari segi jumlahnya, tapi dari bobot masalahnya. Dalam tahun ini terjadi empat kasus serupa, sudah jelas menunjukkan bahwa mesti ada yang salah dalam pelayanan kesehatan di Nagekeo. Kesalahan dan kekeliruan itu tidak saja disebabkan oleh masyarakat, tetapi juga oleh mentalitas birokrasi kita, mentalitas petugas kesehatan kita, dan kebijakan kesehatan yang kita ambil.

Maka baiklah kasus ini menjadi refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan di Nagekeo. Kalau kita memang sama-sama melihat kasus ini sebagai kejadian luar biasa, maka seluruh pemangku kepentingan harus pula selalu bersikap awas, tanggap dan peka. Kita yang sadar akan pentingnya pemanfaatan sarana kesehatan tidak boleh dikalahkan oleh kultur masyarakat setempat. Tugas kita membimbing masyarakat agar bertindak dengan benar dan tepat.

Kasus ini harus menjadi cermin bagi kita untuk mengukur kembali komitmen, tanggung jawab dan cara kita melayani masyarakat.

Bentara, Flores Pos edisi 25 Oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s