Cermin Retak Herokoe

Oleh FRANS OBON

DUA orang pelaku pembunuhan dalam konflik Herokoe dan Langke Norang, Desa Ruang, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, telah divonis oleh pengadilan. Dua dari lima pelaku yakni Kanis Tep dan Paulus Gantur dari Langke Norang divonis 14 tahun penjara – keduanya mengajukan banding atas putusan pengadilan (Flores Pos edisi 10 November 2011). Sedangkan tiga tersangka lainnya sedang ada dalam proses persidangan.

Dalam konflik antara Herokoe dan Langke Norang, tiga orang meninggal dunia yakni Matias Jemila dan Petrus Jemali dari pihak Herokoe dan Gerardus Gambut dari Langke Norang. Ada 10 orang lainnya dalam kasus ini mengalami luka-luka dan terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bajawa dan Maumere.

Hampir sebulan lamanya setelah kejadian, polisi baru menetapkan tersangka. Karena begitu lama menetapkan tersangka, kelompok dari Herokoe bersama para mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (Stipas) Ruteng menggelar aksi demonstrasi yang isinya menuntut polisi segera menetapkan tersangka (Bentara Flores Pos edisi 3 Juni 2011). Lamanya polisi menetapkan tersangka memang menimbulkan prasangka dan praduga bahwa ada yang tidak beres dalam kasus ini.

Bagaimana mungkin ada kasus pembunuhan, tapi tidak ada pembunuhnya. Polisi akhirnya menetapkan lima tersangka dari kedua belah pihak yakni dari Herokoe dan Langke Norang.

Kasus Herokoe dan Langke Norang ini adalah konflik perebutan tanah komunal. Kasus ini hanyalah satu dari sekian banyak konflik pertanahan di Kabupaten Manggarai, termasuk Manggarai Timur dan Manggarai Barat. Kasus terakhir terjadi di Lembor, Manggarai Barat. Kasusnya sama yakni perebutan lahan sawah. Satu tewas dipotong dengan parang, padahal kedua belah pihak masih bertalian darah.

Konflik merebut lahan pertanian berujung kematian sudah lama terjadi di Manggarai dan Flores pada umumnya. Konflik perebutan lahan pertanian terjadi di kalangan para petani. Orang-orang yang terlibat di dalam konflik itu sebagian besar masih bertalian keluarga. Namun ikatan kekeluargaan tidak bisa meredam kemarahan, rasa dengki dan emosi untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan konflik lahan pertanian di kalangan para petani.

Kasus Herokoe dan Langke Norang pada satu sisi adalah cermin retak yang menggambarkan wajah Flores, terutama wajah Manggarai. Tidak lama lagi, Gereja Manggarai merayakan 100 tahun (satu abad) kehadirannya di tanah Manggarai. Sudah banyak orang pandai dihasilkan, sudah banyak politisi hebat dilahirkan, sudah banyak pejabat dikaderkan, dan sudah banyak sekolah dibuka untuk menumbuhkan kesadaran baru dalam kehidupan bersama.

Namun wajah Manggarai masih retak. Mengapa budaya mencintai kehidupan itu tidak tumbuh subur? Mengapa kita lebih memeluk budaya kematian daripada budaya kehidupan?

Penduduk makin bertambah. Tanah makin sempit dan nilai ekonomis tanah makin tinggi. Kita mendorong sekali lagi umat Katolik di wilayah itu — barangkali dalam usia satu abad kehadiran Gereja Katolik di Manggarai – untuk mengambil prakarsa lebih besar lagi untuk mengatasi konflik pertanahan di kalangan petani dengan cara-cara damai dan dengan cara mengedepankan budaya mencintai kehidupan. Bukankah ajaran cinta kasih itu pada intinya adalah mencintai kehidupan?

Cermin retak Herokoe dan cermin retak konflik lahan pertanian di kalangan petani di Manggarai hendaknya menjadi salah satu agenda refleksi dalam satu abad Gereja Katolik di Manggarai.

Bentara, Flores Pos, edisi 11 November 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s