Hentikan Tambang di Flores

FRANS OBON

TERIAKAN untuk menghentikan tambang kembali disuarakan. Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ende melakukan demonstrasi ke DPRD Ende untuk meminta pemerintah menghentikan tambang pasir besi di Desa Nggorea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Tambang, menurut PMKRI, bertentangan dengan program prioritas pemerintah daerah Kabupaten Ende yakni swasembada pangan (Flores Pos edisi, 11 November 2011). Pemberian izin pertambangan kepada investor menunjukkan bahwa telah terjadi disorientasi pembangunan di Kabupaten Ende.

Pemberian izin pertambangan oleh pemerintah, menurut PMKRI, tidak didahului dengan studi analisis dampak lingkungan (Amdal). Sebab itu aktivitas pertambangan ini akan bisa membahayakan keutuhan lingkungan dan ekosistem di kawasan pertambangan.

Namun Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Ende Barnabas Wangge menjawab bahwa seluruh prosedur sudah ditempuh sebelum pemerintah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU). Sebelum aktivitas tambang dimulai, pemerintah sudah melakukan sosialisasi sebanyak empat kali. Proses tambang sudah dilakukan selama tiga tahun.

Menyikapi tuntutan mahasiswa DPRD Ende meminta pemerintah menghentikan seluruh aktivitas pertambangan dan melakukan negosiasi ulang dengan investor. Alasan negosiasi ulang itu adalah karena aktivitas tambang, terutama di Nggorea itu, merusak ekosistem dan membayakan kehidupan warga karena terlalu dekat dengan pemukiman.
Kepala Dinas Pertambangan juga sudah mengatakan bahwa sejak Oktober 2011, pemerintah sudah mengeluarkan surat penghentian tambang pasir besi di Nggorea. Meski permintaan untuk menghentikan aktivitas pertambangan ini adalah pendapat pribadi anggota Dewan dan belum merupakan pendapat lembaga, namun perlu kiranya pemerintah melakukan langkah-langkah progresif.

Dari pengalaman yang kita pelajari dalam kasus tambang di Flores pada umumnya, salah satu sumber masalah adalah standar ganda yang dilakukan pemerintah. Standar ganda ini bisa mengambil rupa-rupa bentuk yang dilatari oleh berbagai “mimpi kesejahteraan”, dan kepentingan termasuk kepentingan politik kekuasaan.

Karena rupa-rupa bentuk kepentingan itulah, maka analisis dampak lingkungan (Amdal) yang dilakukan sekadar prosedural. Amdal yang kita hasilkan adalah “Amdal pesanan” yang kita sudah tahu hasilnya. Demikian pula sosialisasi yang kita lakukan, juga sekadar prosedural. Kita menghitung yang hadir, tanda tangan. Tidak adanya suara-suara kritis saat sosialisasi, dianggap masyarakat sudah paham dan sudah memberikan persetujuannya. Masyarakat yang sederhana di pedesaan memang mudah dikibuli oleh bahasa-bahasa indah. Sosialisasi yang berlangsung di sana jauh dari proses peningkatan kesadaran dan proses penyadaran mengenai kepentingan dan kebaikan umum yang diperoleh dari sebuah investasi.

Kita tidak pernah menukik pada substansi dari proses pertemuan dengan masyarakat tersebut, yakni risiko-risiko yang terjadi. Kita tidak pernah berbicara secara jelas dan terbuka mengenai risiko. Yang kita bicarakan hanyalah yang enak-enak didengar.

Karena itu pemerintah daerah di Flores perlu melakukan analisis investasi yang benar-benar tidak merugikan eksosistem, tidak merusak lingkungan, dan tidak meniadakan hak-hak kultural, sosio-ekonomi masyarakat setempat. In artinya pemerintah perlu mempertimbangkan keselamatan warga, kepentingan umum dan masa depan dari masyarakat Flores. Dengan ini kita ingin menegaskan lagi bahwa kualitas investasi perlu masuk dalam pertimbangan pemerintah dalam memberikan izin.

Dalam kaitan dengan investasi tambang, sudah lama disuarakan agar pemerintah menghentikannya. Tambang adalah investasi yang terlalu berisiko bagi ekosistem, lingkungan, dan kemaslahatan orang Flores.*

Bentara, Flores Pos, edisi 12 November 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s