Konflik di Tempat Pesta

OLEH FRANS OBON

EMPAT orang menderita luka-luka dalam perkelahian di sebuah rumah gendang di Golo Worok, Desa Golo Worok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Minggu (20/11/2011). Empat orang yang menderita luka-luka dirawat di rumah sakit umum milik pemerintah di Ruteng. Menurut polisi, kasus ini dikategorikan sebagai kasus penganiayaan yang melibatkan banyak orang (Flores Pos edisi 22 November 2011).

Acara disco di Kampung Nara, Kecamatan Cibal, Manggarai, akhir September 2011.

Pemicu kasus ini adalah perkelahian pada waktu pesta nikah, Kamis (17/11/2011). Pada saat acara bebas – begitu masyarakat setempat menyebut acara disco dan dansa usai acara resmi – dua pemuda bersenggolan, yang memicu terjadinya perkelahian. Seorang pemuda dari kampung tetangga dipukul oleh kelompok pemuda lainnya karena dianggap biang dari keributan itu.

Namun keluarga korban meminta klarifikasi kepada tua genda Wesang (pemimpin adat setempat), tempat pesta diselenggarakan, namun tidak terlaksana karena tua gendang Wesang lagi sibuk. Tiga kali keluarga korban datang dan pada kali ketiga perkelahian ini terjadi.

Perkelahian di tempat pesta di antara kelompok pemuda di kampung-kampung di Manggarai sudah seringkali terjadi. Pemicunya mulai dari hal-hal sepele: masalah di antara anak muda. Pada tiap kali pesta, baik pesta pengumpulan dana bagi biaya pendidikan tinggi (disebut pesta sekolah) di Manggarai maupun pesta nikah sering menjadi ajang baru perkelahian antara kaum muda.

Perkelahian antarkelompok pemuda, yang biasanya datang dari kampung-kampung dan desa-desa tetangga sekitar, sudah amat sering terjadi. Dalam penyelenggaraan pesta sekolah dan pesta nikah, tuan pesta dan seluruh warga kampung mencemaskan masalah keamanan pesta pada tempat pertama.

Pesta yang digelar di sebuah kampung merupakan hajatan dari seluruh kampung. Oleh karena itu tanggung jawab sukses dan gagalnya pesta adalah tanggung jawab seluruh kampung. Itulah sebabnya bisa dimengerti bila ada keributan di antara pemuda dalam pesta, warga kampung ikut “memberikan pelajaran” bagi kaum muda yang menjadi biang keributan agar pada pesta berikutnya di kampung tersebut kelompok pemuda yang sama “sudah bertobat”.

Tapi kadang pula keributan di satu kampung bisa dibawa-bawa ke pesta di kampung lain. Kelompok pemuda yang sama yang terlibat keributan pada saat pesta di satu kampung bisa mencari kesempatan baru ketika ada pesta di tempat lainnya di lingkungan yang sama.
Situasinya memang memungkinkan untuk terjadi keributan. Karena pesta akan berlangsung sepanjang malam hingga pagi hari. Di sepanjang malam itu, ada alkohol, yang umumnya menjadi pemicu keributan. Jumlah undangan yang menghadiri pesta begitu banyak. Kemah/tenda pesta di halaman kampung cukup padat.

Semua keruwetan hidup bisa ditumpahkan di sini. Mulai dari masalah pacar yang umumnya terjadi di antara kaum muda sampai sentimen dari konflik-konflik sebelumnya, yang terpendam.

Pesta sekolah dan pesta nikah di kampung-kampung di Manggarai membawa kecemasan dan kegusaran. Nilai-nilai gotong royong yang mau dihidupkan dalam menanggung biaya pendidikan tinggi agar menghantar semakin banyak orang Manggarai ke pendidikan tinggi sudah dinodai oleh konflik. Demikian pula pesta nikah.

Konflik di tempat pesta menggambarkan betapa rapuhnya masyarakat kita. Benih-benih konflik itu sudah begitu menyebar dan masuk ke dalam darah daging generasi muda kita. Sampai saat ini memang belum ada perkelahian antarkampung yang dipicu perkelahian di tempat pesta. Tapi bibit dan potensi ke arah itu bisa terjadi. Ini sebuah perkembangan yang mengerikan kita semua. Ini adalah fenomena rumput kering, yang akan berpotensi hangusnya kebersamaan dalam masyarakat kita. Konflik di tempat pesta, dengan demikian, mencerminkan makin terfragmentasinya kaum muda kita, generasi masa depan Nusa Bunga. Perkembangan yang menyedihkan.

Bentara, Harian Flores Pos, edisi 23 November 2011

2 pemikiran pada “Konflik di Tempat Pesta

  1. Ya begitulah kehidupan di tanah kelahiran seseorang, dan mereka menggangap itu hal biasa, seandainya mereka saling menghargai dan saling beranggapan bahwa meraka adalah satu keluarga/saudara, maka tidak akan terjadi perkelahian. kalo menurut saya penyebab konflik itu ialah sikap sombong dan egois yang tinggi.

    “ase kae kaut raha tau apalagi hot toe ase kae”

  2. 272189

    Konflik dapat juga terjadi akibat hilangnya komunikasi yang baik. Komunikasi merupakan salah satu alternatif yang sangat penting untuk menghindari diri dari konflik. Selain itu, konflik terjadi akibat beranggapan bahwa dirinya selalu hebat. mai ite neki ca, oke taungs sangget rasa demdam dite.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s