Air Bersih

Oleh FRANS OBON

BARANGKALI dianggap berlebihan kalau ada warga yang mengatakan bahwa masalah air bersih di Labuan Bajo, sebuah kota yang akan berkembang menjadi salah satu kota pariwisata di Flores, adalah sebuah ratapan panjang. Dalam sebuah seminar di Labuan Bajo belum lama ini, dikatakan bahwa pemerintah setempat telah menggelontorkan dana untuk pengadaan air bersih sebesar Rp22 miliar lebih yang bersumber dari dana APBD senilai Rp6 miliar dan dari APBN senilai Rp16 miliar (Flores Pos edisi 8 Desember 2011).

Mantan Kepala Dinas PU Manggarai Barat Petrus Lengo dalam seminar itu membantah spekulasi atau informasi yang menyebutkan bahwa dana pengadaan air bersih di Kota Labuan Bajo senilai Rp24 miliar lebih atau bahkan Rp30 miliar.

Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula pernah mengatakan kepada media bahwa dana pengadaan air bersih di Manggarai Barat sudah Rp30 miliar, tetapi air bersih tetap menjadi masalah serius di Labuan Bajo. Sebelum menjabat bupati saat ini, Agustinus Ch Dula menjabat wakil bupati berpasangan dengan Bupati Fidelis Pranda (Flores Pos edisi 12 November 2011)

Untuk menambah deretan keluhan air bersih ini, warga sebuah kampung di Kabupaten Manggarai terpaksa meninggalkan kampung mereka dan membangun kediaman di tempat di lokasi yang airnya cukup tersedia. Warga Kampung Cimpar, Kecamatan Cibal, terpaksa pindah ke Bea Denger karena di kampung itu mereka mengalami kesulitan air bersih (Flores Pos edisi 9 Desember 2011).

Keluhan mengenai air bersih, boleh dibilang, keluhan umum di seluruh Flores dan Lembata. Dengan kata lain air adalah pelayanan dasar publik yang paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Perusahaan Daerah Air Minum (PADM) di seluruh Flores seringkali menjadi sasaran kritik masyarakat. Namun masalah air dan pelayanan air bersih masih belum terpecahkan dengan baik.

Beberapa infrastruktur dasar telah dibenahi perlahan-lahan. Soal isolasi, misalnya, sudah lama masyarakat di Flores secara gotong royong membuka jalan raya dari kampung ke kampung. Sejak tahun 1970-an, menggali jalan raya secara swadaya yang menghubungkan kampung dengan kampung, desa dengan desa dilakukan. Namun dalam hal masalah air, tidak terlihat sedikitpun swadaya seperti ini. Hal ini disebabkan karena sebagian besar bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membangun sarana air bersih diperoleh dari industri. Apalagi letak mata air yang jauh dari pemukiman sudah pasti membutuhkan dana yang besar.

Kalau kita perhatikan dan cermat, memang pembenahan pelayanan dasar soal air masih jauh dari harapan. Salah satu sebabnya adalah prioritas yang diberikan oleh perencana pembangunan kita di elite birokrasi.

Di beberapa kabupaten di Flores dan Lembata, kita lihat dan saksikan mobil-mobil mewah meluncur di jalan yang juga masih buruk, yang dipakai elite politik dan elite birokrasi. Pembelian mobil mewah ini diprotes mahasiswa dan masyarakat, tetapi pemerintah lokal kita jalan terus. Gedung-gedung bagus juga dibangun pemerintah. Fasilitas publik perkantoran dan sarana transportasi yang dipakai elite birokrasi dan elite politik bagus-bagus.

Pilihan ini sudah jelas memberikan kontras dengan kehidupan masyarakat biasa. Kemegahan dan kesuksesan pembangunan dicerminkan oleh fasilitas publik pemerintahan tapi bukan oleh pelayanan dasar publik yang dinikmati oleh kebanyakan warga negara. Karena itu jangan heran air bersih akan tetap menjadi masalah.

Bentara, 10 Desember 2011

Satu pemikiran pada “Air Bersih

  1. Ping-balik: Kepemimpinan dan Manajemen PDAM – Flores Inside

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s