Ribuan Pelayat Antar Jenazah Uskup

Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota bersama para uskup yang hadir memberkati jenazah Uskup Donatus Djagom, SVD.

Oleh FRANS OBON

RIBUAN orang dengan wajah sedih sepanjang 1,5 kilometer mengantar jenazah mantan Uskup Agung Ende Mgr Emeritus Donatus Djagom SVD ke tempat pemakaman imam-imam praja di istana Keuskupan Ndona, sekitar 8 kilometer dari Kota Ende ke arah timur, Jumat (2/12).

Jenazah uskup pribumi kedua di Keuskupan Agung Ende ini diarak dari Gereja Christo Regi Katedral Ende setelah misa Requiem yang dipimpin Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota.

Sebelum peti jenazah ditutup, selama lima menit seluruh umat mengheningkan cipta sambil menundukkan kepala. Kemudian Uskup Vincent Sensi Potokota, Uskup Dioses Ruteng Mgr Hubertus Leteng, Provinsial SVD Ende Pater Leo Kleden SVD, Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Yosef Nganggo (Kepala Kementeian Agama Kabupaten Ende), dan Martinus Nomak dari keluarga almarhum, memaku peti jenazah.

Tarian orowoko, sebuah tarian tradisional suku Lio, Flores untuk menjemput dan mengantar raja-raja setempat mengiring perarakan jenazah Uskup Donatus hingga di pintu gereja. Di pelataran gereja, jenazah dinaikkan ke mobil terbuka untuk dibawa ke Ndona, diiringi ribuan umat.

Menurut Amatus Peta, salah satu panitia acara pemakaman, tarian orowoko tidak bisa dipentaskan di sembarang tempat, karena terkait dengan upacara adat di Lio. Namun, karena Uskup Donatus Djagom sudah dianggap sebagai mosalaki, maka tarian orowoko dipentaskan.
Namun sebelum digelar pada acara pamakaman ini, diadakan upacara “minta restu leluhur” di kampung Tenda, sebuah kampung di Lio, agar tarian ini dapat dipentaskan di luar kampung tersebut.

Begitu peti jenazah diarak keluar dari pelataran gereja, seorang penari memegang tombak mengayun-ayukan tombak dengan irama yang ritmik. Sementara satu penari lagi memegang perisai dan parang. Enam penari perempuan dengan baju hitam dan kain tenun lio berada di depan peti jenazah. Para penari yang terdiri dari pria yang mengenakan kain tanpa baju berjalan mundur.

Uskup Vincent Sensi Potokota dalam kotbahnya mengatakan, selama 27 tahun masa pontifikatnya, Uskup Donatus telah memberikan dirinya secara total untuk pengembangan gereja lokal Keuskupan Agung Ende. Dia pergi dari kampung ke kampung, dari satu paroki ke paroki lainnya, bahkan dengan berjalan kaki.

“Dia menghayati spiritualitas pemberian diri tanpa pamrih dan secara total mengikuti teladan Yesus Kristus. Dia bekerja keras dan tekun agar semakin banyak orang diselamatkan,” katanya.

Uskup Donatus dilahirkan di Bilas, Manggarai, 10 Mei 1919 dan ditahbiskan menjadi imam di Teteringen, Belanda 28 Agustus 1948. Tanggal 11 Juni 1969 dia ditahbiskan menjadi Uskup Agung Ende dengan moto Praedicamus Christum crucifixum (Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: (1 Kor: 1:23).

Menurut Uskup Sensi, spiritualitas memberi diri secara total Uskup Donatus tercermin di dalam moto tahbisan uskupnya. “Pemberian diri sampai habis itu dilakukan agar semua orang diselamatkan tanpa kecuali,” ujarnya.

Spiritualitas memberi ini, lanjut Uskup Sensi, adalah panggilan orang Kristen. “Memberi adalah komitmen iman dari setiap orang, sebab iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati,” katanya.

Provinsial SVD Ende Pater Leo Kleden SVD dalam sambutannya menyampaikan ucapan belasungkawa dari Pater Anton Pernia SVD, Superior General SVD di Roma. Pater Anton Pernia memuji karakter kepemimpinan Uskup Donatus yang cerdas, tegas, dan cepat mengambil keputusan serta memiliki komitmen religius yang kuat. Pater Anton beberapa kali bertemu Uskup Donatus, yang disebutnya sebagai generasi pertama yang sukses dari Gereja Asia “yang membuat misi berakar di Asia seperti Eropa dan benua lainnya” dan “generasi yang patut menjadi teladan bagi generasi muda Asia”.

Pater Leo menyebut generasi Uskup Donatus sebagai “tonggak-tonggak sejarah lintas batas” yang sukses mengembangkan gereja lokal, terutama dalam hal kemandirian tenaga pastoral. Uskup Donatus juga sukses mengalihkan tongkat kepemimpinan kepada imam-imam praja, yang diawali dengan kepemimpinan almarhum Uskup Longinus da Cunha dan Uskup Agung Ende saat ini Mgr Vincent Sensi Potokota.

Bupati Ende Don Bosco M Wangge dalam sambutan pada perayaan pemakaman mengatakan, Uskup Donatus amat dekat dengan orang miskin dan sederhana. Uskup pernah memintanya mencarikan satu lokasi agar sebuah rumah sakit Katolik bisa berdiri.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya kepada media mengatakan, Uskup Donatus adalah tokoh yang memiliki integritas pribadi yang patut dicontohi

“Bapak uskup ini seorang pekerja keras nan disiplin. Ia adalah seorang pengabdi sejati. Kita kehilangan seorang tokoh yang sangat saya kagumi. Saya tahu dia seorang yang sangat luar biasa. Ia memberikan seluruh hidupnya untuk masyarakat dan umat tanpa pamrih,” katanya.

Yakobus Ari, seorang Katolik mengatakan, Jumat (2/12) Uskup Donatus adalah orang baik. “Dia gembala yang baik dan dia uskup terbaik yang saya kenal. Dia memiliki perhatian pada keluarga-keluarga Katolik dan saya sangat terkesan dengan itu,” katanya.

Ketika memasuki Ndona, hujan lebat turun. Namun umat yang hadir tidak beranjak dari tempat mereka dan hanya menggunakan daun pisang untuk melindungi diri. Di samping pemakaman itu ada sebuah kapela, tapi ketika hujan turun umat tidak belari melindungi diri ke kapela tersebut.

Sementara itu media-media lokal memanen iklan ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s