Memberdayakan Awam Katolik

Oleh FRANS OBON

SALAH SATU warisan berharga  Mgr Donatus Djagom SVD adalah pemberdayaan kelompok awam Katolik. Sebagai uskup pribumi kedua yang memimpin Keuskupan Agung Ende selama 27 tahun – setelah uskup pribumi pertama Mgr Gabriel Manek SVD — Uskup Donatus memikul tanggung jawab yang besar.

Peralihan kepemimpinan dari uskup-uskup berkebangsaan Eropa ke uskup-uskup yang lahir dari rahim tanah Flores dan sekaligus hasil didikan para misionaris Eropa, bukanlah perkara gampang. Di mana pun baik dalam kepemimpinan sekular maupun kepemimpinan religius, masa transisi dari suatu paradigma ke paradigma lain, selalu menimbulkan persoalan.

Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota melayat jenazah Uskup Emeritus Donatus Djagom SVD.

Pada masa awal kepemimpinannya pada tahun 1969,  Uskup Donatus ditantang oleh tuntutan baru dalam kehidupan menggereja di bawah semangat Konsili Vatikan II dan tuntutan baru setelah Tahta Suci Vatikan menyetujui dan mensahkan hierarki Gereja Katolik Indonesia pada tahun 1961. Ini berarti 8 tahun setelah peresmian hirarki Gereja Katolik Indonesia, Uskup Donatus diberi tugas untuk mengisi fase baru dalam kehidupan gereja Indonesia di Flores. Sayangnya ketika hierarki Indonesia berusia 50 tahun, dia pergi ke pangkuan Allah dan beristirahat dalam damai untuk selamanya.

Tuntutan pertama adalah kemandirian Gereja Katolik Indonesia baik dalam hal finansial maupun dalam hal tenaga. Uskup-uskup Indonesia terutama Gereja Katolik Flores sukses memenuhi tuntutan kemandirian soal tenaga. Hal ini dimungkinkan oleh keberanian yang visioner yang diambil para gembala Gereja Katolik Flores.

Gereja Katolik Flores memang beruntung karena Uskup Arnold Verstraelen SVD (1922-1932) berani membuka seminari kecil pertama di Lela (1926) yang kemudian dipindahkan ke Matoloko (1929). Padahal dari segi usia misi Serikat Sabda Allah di Flores masih terbilang belia. Sementara di satu sisi iman Katolik belum berakar kuat pada masa itu di Flores. Para uskup pengganti Mgr Verstraelen  kemudian membuka seminari kecil lainnya di Flores dan Timor serta dua Seminari Tinggi (Seminari Santo Paulus Ledalero dan Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret Maumere). Jadilah Flores tempat yang subur bagi panggilan imam dan birawan-birawati.

Umat Katolik dengan pakaian tradisional melayat jenazah Uskup Donatus Djagom SVD.

Hal kedua adalah keterlibatan awam dalam urusan gereja. Gereja Keuskupan Agung Ende dalam sejarahnya sudah sejak awal memiliki perencanaan pastoral. Manuale Pastorale 1938 di Ndona merupakan sebuah road map menuju kemandirian Gereja Katolik di Flores.

Perencanaan pastoral yang terukur itu dijaga, dipelihara, dan dijadikan komitmen dasar bagi pengembangan Gereja Katolik di Flores. Selama masa kepemimpinan Uskup Donatus, tiga kali digelar Musyawarah Pastoral (Muspas) dan sampai sekarang tetap dipelihara, dijaga dan  dilanjutkan oleh para penggantinya. Yang paling menarik dari sini adalah keterlibatan para awam dalam forum perencanaan pastoral tersebut melalui Muspas. Hampir 80 persen peserta Muspas  adalah awam Katolik.

Kendati para awam Katolik ini tidak mendapat pendidikan teologi dan filsafat, namun mereka memiliki keahlian di dalam bidangnya. Potensi ini ingin dirangkul oleh hierarki Gereja Katolik  Flores dan membawa semua potensi itu ke dalam satu forum Muspas. Pemberdayaan awam Katolik ini penting karena masa depan Gereja Katolik Flores ada di tangan para awam. Inilah salah satu warisan yang berharga yang ditinggalkan Uskup Donatus. Terima kasih Uskup Donatus. Selamat Jalan. Requiescat in Pace!

Bentara, 2 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s