Terbesar Kedua di IBT

Oleh FRANS OBON

JUMLAH  penduduk Nusa Tenggara Timur 4,6 juta jiwa, terdiri dari laki-laki 2.326 juta jiwa dan perempuan 2.357 juta jiwa,  adalah terbesar kedua di Indonesia Bagian Timur (IBT), setelah Sulawesi Selatan. Sekitar 37,31 persen adalah penduduk berusia 0-14 tahun. Sementara laju pertumbuhan penduduk 2,1 persen per tahun (Flores Pos edisi, 24 Novembe 2011).

Kaum muda di Kota Ende, Flores, berpiknik di sebuah pantai.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya pada saat menerima penghargaan Manggala Karya Kencana di Kupang, Senin (21/1/2011) mengatakan, salah satu langkah untuk mengerem laju pertumbuhan penduduk adalah dengan melaksanakan program kependudukan dan keluarga berencana.

Sementara itu penduduk dunia saat ini, per 31 Oktober 2011,  berjumlah tujuh miliar dan penduduk Indonesia diperkirakan 240 juta jiwa. Menurut Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, jumlah penduduk dunia 7 miliar ini dan jumlah penduduk Indonesia 240 juta jiwa merupakan ancaman bagi bangsa. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia 1,49 persen per tahun (Flores Pos edisi 24 November 2011).

Apa  makna angka-angka ini bagi kita? Pertama, kita semua tahu bahwa ada korelasi yang tak terpisahkan antara jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan. Lazimnya, keluarga yang punya anak banyak adalah keluarga miskin secara ekonomis dan jumlah penduduk miskin di NTT pada tahun 2011 sekitar 1.012,9 (21,23 persen).

Data Badan Pusat Statistik (BPS)  NTT menunjukkan bahwa angka kemiskinan menurun dari tahun ke tahun. Tahun 2007, jumlah orang miskin 1.163 juta lebih (27,51 persen), tahun 2008 sebesar 1.098 juta lebih (25,65 persen), tahun 2009 sebesar 1.013 juta lebih (23,31 persen), tahun 2010 sebanyak 1.014 juta lebih (23,03 persen).

Laju pertumbuhan penduduk NTT 2,9 persen tergolong besar bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk secara nasional 1,49 persen. Angka kemiskinan, paling tidak menurut data pemerintah, memang menurun dari tahun ke tahun, tapi laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, berpotensi besar pula untuk menyumbangkan  tingkat kemiskinan dan pengangguran pada masa depan. Ini artinya NTT akan terus belepotan dengan kemiskinan dari tahun ke tahun.

Kedua, potensi konflik dalam perebutan sumber daya alam makin besar. Jumlah penduduk dunia 7 miliar pada tahun 2011 dan pada saat yang sama adanya kesepakatan perdagangan bebas (free trade area), pada satu sisi menciptakan peluang-peluang baru perdagangan antarbangsa, tetapi pada sisi lain tingkat mendorong meningkatnya perburuan sumber daya alam. India dan China misalnya saat ini terus memburu kekayaan alam di negara-negara lain untuk memaksimalkan kekuatan ekonominya lewat investasi.

Mobilisasi penduduk dalam alam perdagangan bebas itu menambah potensi konflik perebutan sumber daya alam di tingkat lokal. Terbatasnya sumber daya alam di tingkat lokal sudah pasti berdampak pada makin kecilnya peluang yang diperebutkan. Konflik perebutan lahan pertanian di tingkat lokal, misalnya, adalah salah satu dampak dari tidak seimbangnya ketersediaan sumber daya alam  dan jumlah penduduk.

Ketiga, pelajaran terpenting dari situasi ini adalah perlunya pemerintah kita tidak mengambil kebijakan yang mempertinggi potensi konflik dalam perebutan sumber daya alam. Izin pertambangan yang begitu banyak diberikan dan konversi lahan pertanian yang makin tinggi tiap tahun, sudah barang tentu adalah kebijakan yang mengandung potensi konflik. Hentikan semua kebijakan tersebut dan kebijakan sejenisnya yang berpotensi meningkatkanya konflik pada masa datang.

Bentara, 25 November 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s