Anggur Baru, Kirbat Baru

FRANS OBON

GEREJA Katolik Keuskupan Ruteng sedang menyiapkan diri untuk menghadapi momen perayaan 100 tahun (satu abad) kehadirannya di tanah Manggarai pada tahun 2012. Tepat pada momen tahun berahmat itu, Gereja Katolik Keuskupan Ruteng coba mengarahkan perhatian umat pada kehidupan keluarga-keluarga Katolik. Tahun 2012 dijadikan Tahun Keluarga bagi Keuskupan Ruteng, yang secara administratif pemerintah terdiri dari tiga kabupaten yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

Umat Katolik di Kampung Nara, Kecamatan Cibal, Manggarai pada salah satu kesempatan, akhir September 2011.

Dua agenda penting yakni persiapan perayaan 100 tahun kehadiran Gereja Katolik dan menjadikan tahun 2012 sebagai Tahun Keluarga, menjadi fokus dari pertemuan pastoral, yang sekarang sedang berlangsung di Ruteng (Flores Pos edisi 12 Januari 2012 dan 13 Januari 2012).

Pada arahan pembukaan Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng menegaskan bahwa kalau ada masalah internal di dalam kehidupan Gereja Katolik di keuskupan tersebut, umat diminta menempuh cara-cara damai, atau yang dalam bahasa Uskup Hubert: jangan pakai kekerasan, jangan pakai demo, atau pengerahan massa apalagi melibatkan pihak ketiga seperti aparat hukum dan aparat keamanan.

Dalam konteks kehidupan umat Katolik di Manggarai, ajakan Uskup Hubert ini tentu saja tidak semata-mata menyangkut penyelesaian masalah-masalah internal Gereja Katolik baik antara awam-hirarki, maupun antar awam dan awam dalam pengelolaan kehidupan menggereja atau kehidupan berparoki, namun ajakan ini juga harus mengarahkan pandangan kita dalam menyelesaikan masalah-masalah di wilayah publik kemasyarakatan.

Oleh karena itu ajakan ini harus kita lihat dalam dua konteks. Pertama, konteks internal Gereja Katolik. Di dalam mengelola kehidupan menggereja, terutama kehidupan berparoki, Gereja Katolik harus bisa menangkap semangat zaman yakni semangat demokratisasi dan transparansi. Jika kita ingin semakin banyak orang terlibat di dalam pengelolaan kehidupan menggereja, maka hal itu menuntut pula proses demokratisasi dan transparansi. Hanya dengan proses demokratisasi dan transparansi di dalam pengelolaan kehidupan berparoki, misalnya, kita akan meminimalkan konflik-konflik yang tidak perlu. Sebaliknya energi kita diarahkan untuk mencerahkan kehidupan publik dengan berbagai kontribusi positif, terutama bagi kepentingan dan kebaikan umum.

Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng menyerahkan lilin kepada utusan sidang pastoral dari Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur pada penutupan sidang pastoral di Ruteng, awal Januari 2012.

Kedua, konteks eksternal. Perayaan satu abad Gereja Katolik Manggarai harus pula dipandang sebagai momen perubahan cara baru menggereja. Tepat sekali bahwa Gereja Katolik Keuskupan Ruteng memulainya dari keluarga. Keluarga adalah akar, atau dalam bahasa Gereja Katolik sel terkecil, dari kehidupan menggereja itu. Pembaruan kehidupan rohani di dalam keluarga-keluarga menjadi penting sebagai tempat persemaian iman dan moral.

Banyak sekali kasus kekerasan di Manggarai terjadi karena kita sudah kehilangan orientasi kehidupan moral. Eme daku, daku muing, eme data data muing atau di Cibal disebut neka daku da (neka data, daku). Konflik pertanahan yang tidak pernah tuntas di Manggarai, misalnya, berakar pada kemerosotan moral dan iman, yakni semangat daku da (data, daku).

Dalam penyelesaian konflik ini, digunakanlah kekerasan fisik. Orang baku bunuh. Kakak-adik saling bunuh, antarkampung baku bunuh. Rebut lingko, rebut langang (batas), rebut air sawah. Kita seakan kehilangan cara-cara damai dalam menyelesaikan konflik.

Oleh karena itu momen 100 tahun kehadiran Gereja Katolik di Manggarai, haruslah pula menjadi tonggak perubahan cara baru kita menggereja. Kita melakukan evangelisasi baru agar kita menemukan semangat dan cara baru dalam menggereja kita mulai dari komuitas umat basis sampai di tingkat keuskupan. Anggur baru, kirbat baru.

Bentara, 14 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s