Lagi-Lagi, Kekerasan dalam Keluarga

Oleh FRANS OBON

KITA kembali dikejutkan oleh peristiwa kekerasan dalam rumah tangga. Berita duka itu datang dari Kampung Golo Wunis, Kecamatan Elar, Manggarai Timur. Gerardus Janu (48 tahun) membunuh istrinya Gaudensia Dakoka (37 tahun) pada hari Selasa (7/2/2012). Polisi telah menahan pelaku dan sedang diproses secara hukum di Polres Manggarai (Flores Pos edisi Kamis, 9 Februari 2012 dan edisi Jumat, 10 Februari 2012).

Dari laporan media, berdasarkan pengakuann pelaku kepada penyidik kepolisian di Ruteng, dia tidak punya niat sama sekali untuk membunuh istrinya. Emosinya memuncak ketika dia menemukan istrinya sedang makan sirih pinang di pondok tetangga. Kontan dia ingat lagi perlakuan istrinya terhadap dirinya. Saat itu langsung dia naik pitam dan menghabisi nyawa istrinya.

Kendati suaminya mengaku bahwa dia tidak punya niat sama sekali untuk membunuh istrinya – walaupun kita tidak terlalu yakin dengan pengakuan itu – namun paling kurang dari pengakuannya di polisi, kita tahu bahwa mereka punya masalah dalam keluarga yang tidak terselesaikan dengan baik.

Dan inilah yang pada umumnya terjadi dalam kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, yang berujung pada pembunuhan di Flores. Konflik dalam keluarga yang tidak pernah tuntas diselesaikan. Kasus pembunuhan oleh suami terhadap istri di Flores sebagiannya disebabkan karena masalah sosial budaya dan intervensi keluarga besar (extended family) yang membebani kehidupan keluarga inti (nuclear family), tapi sebagian karena konflik dalam hubungan dan relasi pribadi antar-suami dan istri, yang tidak pernah tuntas.

Dalam kultur kita di Flores, konflik dalam hubungan pribadi suami dan istri menjadi sesuatu yang personal, privat, dan “rahasia”. Budaya “apa kata orang nanti” begitu kuat sehingga sulit sekali suami dan istri membawa masalah mereka ke luar pintu rumah. Inilah silent culture (kultur bisu) yang terjadi di dalam rumah tangga. Oleh karena itulah maka konflik yang tidak terselesaikan ini menjadi api dalam sekam. Suami seringkali memilih untuk mengakhiri konflik tersebut dengan membunuh istrinya. Sebab perempuan dalam budaya kita adalah pihak yang selalu kalah dan lemah.

Persentase tingkat kekerasan dalam rumah tangga yang tinggi di Flores sebagaimana dilaporkan media menunjukkan bahwa keluarga-keluarga kita memang sedang bermasalah. Namun di pihak lain keluarga-keluarga kita hampir tidak menemukan lembaga atau institusi yang bisa bekerja efektif dan maksimal untuk menolong keluarga-keluarga ini keluar dari masalah mereka.

Yang gencar kita tangani sekarang adalah korban kekerasan. Ujung akhir dari masalah tersebut. Kita kemudian berkonsetrasi pada pemulihan korban kekerasan. Namun, proses rekonsiliasi tidak terlalu mudah dalam budaya di mana rasa malu secara sosial terlalu kuat. Meskipun kita akui bahwa dalam beberapa kasus tesis ini tidak benar.

Kita senang dan gembira bahwa Gereja Katolik dalam reksa pastoralnya memberi perhatian pada masalah keluarga, baik melalui pembinaan dan kursus perkawinan maupun dalam marriage encounter (ME). Namun persentase yang terlibat di dalam ME itu terlalu sedikit. Bahkan hanya orang tua-tua. Padahal konflik di kalangan keluarga muda cukup tinggi.

Karena kasus ini terjadi di Manggarai, maka sudah tepat momennya bahwa pada perayaan satu abad (100 tahun) Gereja Katolik Manggarai, Keuskupan Ruteng mencanangkan tahun 2012 sebagai tahun keluarga. Kita tentu berharap Gereja Katolik memberikan perhatian serius pada masalah-masalah di dalam keluarga Katolik. Karena kita yakin inti dari kehidupan Gereja Katolik adalah keluarga-keluarga.

Bentara, 11 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s