PMI Perlu Lindungi Masyarakat Flores

Oleh FRANS OBON

STAF Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Sikka, Gabriel Rikardus dan Rid Karwayu menyampaikan kepada media pada Senin (12/2/2012) bahwa sepanjang tahun 2011 PMI Cabang Sikka menemukan lima kantong darah positif mengandung human immunodeficiency virus (HIV) dari 4.000 kantong darah yang berhasil diperoleh PMI Cabang Sikka (Flores Pos edisi 16 Februari 2012).

Masyarakat perlu mendapatkan jaminan bahwa donor darah yang mereka terima aman. Masyarakat Flores dalam sebuah pertemuan koperasi kredit di Ende, Februari 2012.@frans obon

PMI Cabang Sikka memasok darah untuk tiga rumah sakit besar di daerah tersebut yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere, Rumah Sakit Sint Gabriel Kewapante dan RS St Elisabeth Lela.

Sementara itu data pemerintah menyebutkan, dalam kurun delapan tahun terakhir di Kabupaten Sikka, kasus HIV/AIDS meningkat. Pada periode 2003-2011, terdapat 217 kasus HIV/AIDS dan 89 orang di antaranya meninggal dunia. Sebanyak 128 orang lainnya sedang didampingi untuk proses penyembuhan. Menurut staf Sekretariat Komite Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Sikka, Ibu Yuyun pada Kamis (16/2/2012), dari 217 kasus, ada 72 kasus HIV dan 152 kasus AIDS (Flores Pos edisi 17 Februari 2012).

Kasus HIV/AIDS di Sikka, menurut data pemerintah, hampir merata di 21 kecamatan kecuali Kecamatan Mapitara, yang sampai sekarang belum ditemukan kasus HIV/AIDS. Namun tidak berarti kecamatan tersebut bebas dari HIV/AIDS.

Kalau kita cermati dengan sungguh — dan percaya pada asumsi bahwa HIV/AIDS adalah sebuah fenomena gunung es di mana yang tampak di permukaan sedikit tapi di bawah permukaan begitu banyak — maka kasus ditemukannya HIV dalam lima kantong darah di Sikka itu haruslah mendorong kantor Palang Merah Indonesia di seluruh Flores untuk meningkatkan kewaspadaannya dan bekerja dengan teliti guna melindungi masyarakat kita.

Hal ini menjadi penting oleh karena makin banyak ditemukannya kasus HIV/AIDS di seluruh Flores. Perkembangannya pun makin meningkat tiap tahun. Data-data para pengidap HIV/AIDS diketahui dari hasil tes darah pada VCT yang ada di kabupaten di Flores atau diketahui pada stadium terakhir. Dengan kata lain, belum menjadi kesadaran umum di kalangan masyarakat Flores untuk memeriksakan kesehatannya secara sukarela. Padahal dengan memeriksakan diri dalam hal HIV/AIDS sama artinya seseorang ingin melindungi masyarakat dari bahaya HIV/AIDS dan bukan hanya menyelamatkan dirinya sendiri.

Darah yang tidak di-screening dengan baik dan teliti baik oleh keterbatasan peralatan maupun oleh keteledoran petugas yang memeriksanya sudah pasti dan sudah jelas membahayakan jiwa orang lain. Ini sudah jelas pula sama dengan membunuh orang lain secara tidak langsug. Maka secara moral, tindakan yang membiarkan terjadinya donor darah yang mengandung HIV adalah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. Ini adalah tindakan pembunuhan. Dan dari segi agama, tindakan ini adalah dosa besar dan dosa berat.

Kita mungkin bersembunyi di balik ketidaktahuan masyarakat luas mengenai hak asasinya untuk mengetahui (right to know) atas tindakan medik yang diambil namun kita tidak bisa lari dari tanggung jawab moral atas tindakan yang kita ambil.

Dengan makin meningkatnya kasus HIV/AIDS di Flores maka kita mendorong dan mungkin menuntut agar petugas PMI di seluruh Flores bekerja dengan komitmen dan tanggung jawab tinggi untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang menerima donor darah dari PMI. Sebab jika mereka bekerja serampangan, maka mereka melakukan sebuah kejahatan kemanusiaan.

Bentara, 17 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s