Harapan untuk Gubernur

Oleh FRANS OBON

GUBERNUR NTT Frans Lebu Raya mengadakan rapat koordinasi yang mempertemukan empat kabupaten (dua di Flores dan dua di Timor) di Kupang tanggal 20 Februari 2012 yakni Manggarai Timur, Ngada, Belu, dan Timor Tengah Selatan (TTS) untuk membahas penyelesaian tapal batas antarkabupaten. Kabupaten Ngada masih mempersoalkan tapal batas dengan pemerintah Kabupaten Manggarai Timur. Kabupaten Belu masih punya masalah tapal batas dengan Kabupaten TTS (Flores Pos Edisi 21 Februari 2012).

Gubernur NTT Frans Lebu Raya memimpin pertemuan koordinasi untuk menyelesaikan masalah tapal batas antarkabupaten di NTT.

Persoalan tapal batas antara Manggarai Timur dan Ngada disertai dengan tindakan pemagaran dan pemasangan gapura oleh sekelompok masyarakat, sehingga menghalangi mobilitas masyarakat di wilayah perbatasan. Telah berkali-kali masyarakat di perbatasan Manggarai Timur meminta intervensi aktif dan tindakan tegas dari Gubernur NTT agar pemagaran dan gapura dibongkar, namun permintaan ini belum terpenuhi. Pagar dan gapura masih berdiri kokoh.

Pada pertemuan koordinasi itu, Gubernur Lebu Raya menegaskan bahwa masalah perbatasan di antara empat kabupaten harus dilakukan dalam semangat persaudaraan dan semangat kekeluargaan. Kalau semangat kekeluargaan dan persaudaraan tidak ada, maka masalah tapal batas sulit diselesaikan. Sementara di beberapa kesempatan, digunakan terminologi persehatian.

Persaudaraan, kekeluargaan, dan persehatian, adalah terminologi-terminologi yang mau menunjukkan bahwa penyelesaian masalah tapal batas dilakukan dengan cara-cara damai. Karena cara-cara kekerasan hanya akan menambah dalamnya konflik, tidak menyelesaikan masalah, dan menimbulkan luka dan dendam.

Masyarakat sudah menyerahkan penyelesaian masalah tapal batas ini kepada Gubernur NTT karena Gubernurlah yang punya kewenangan. Namun yang sering diteriakkan masyarakat adalah Gubernur harus mengambil langkah konkret, tegas, dan tuntas untuk membongkar pagar dan gapura yang menghambat akses masyarakat di perbatasan untuk bepergian. Tetapi sampai saat ini Gubernur tidak melakukan tindakan apa-apa mengenai pagar di perbatasan.

Oleh karena itu ada kesan bahwa Gubernur membiarkan pagar dan gapura berdiri kokoh di perbatasan. Sikap yang dinilai sebagai pembiaran ini karena tidak ada tindakan konkret membongkar pagar dan gapura di perbatasan dapat dianggap sebagai bagian dari cara memperkuat daya tawar dari pihak tertentu. Pagar akan tetap berdiri kokoh sampai perjuangan tercapai.

Oleh karena itu pada tempat pertama kita sekali lagi minta sikap dan tindakan tegas, jelas, dan segera dari Gubernur untuk mendorong masyarakat di perbatasan membuka blokade pagar dan gapura yang menghalangi mobilitas masyarakat. Semua orang tahu bahwa diperlukan proses dan waktu lama untuk menyelesaikan masalah tapal batas. Tapi semua orang juga tahu bahwa tidak demikian halnya dengan membongkar pagar dan gapura.

Hal kedua, langkah penyelesaian masalah tapal batas oleh Gubernur NTT dan tim koordinasi itu harus mengacu pada fakta-fakta objektif, data-data yang jelas, sesuai dengan hukum-hukum perjanjian nasional mengenai tapal batas. Penyelesaian yang objektif, berdasarkan data-data, peta-peta, dan fakta rasional lainnya harus menjadi dasar keputusan Gubernur, sehingga masalah tapal batas diselesaikan secara permanen.

Hal ketiga, dan sekadar mengingatkan, agar penyelesaian masalah tapal batas tidak tersandera oleh kepentingan politik elite kekuasaan di NTT. Perhitungan-perhitungan politik kekuasaan hendaknya dikeluarkan dari masalah ini. Apapun yang kita katakan dan sekalipun kita tepis, lamanya penyelesaian masalah akan dengan mudah dikaitkan dengan kepentingan suksesi.

Bentara 22 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s