ADD dan Gizi Buruk

Oleh FRANS OBON

PEMERINTAH Kabupaten Sikka membikin sebuah pilot project penanganan gizi buruk, bekerja sama dengan Unicef. Proyek contoh usaha peningkatan gizi anak ini, dengan sasaran ibu dan anak di Sikka, dibikin sosialisasinya di sebuah hotel di Maumere, 22 Februari 2012 lalu (Flores Pos edisi 24 Februari 2012).

Pelabuhan di Maumere, Kabupaten Sikka.

Bupati Sikka Sosimus Mitang dan Wakil Bupati Wera Damianus hadir pada kesempatan ini. Bupati Sikka mengatakan bahwa masalah gizi buruk bukanlah masalah kesehatan, tetapi masalah ketersediaan pangan. Padahal Sikka punya banyak makanan dan cukup untuk asupan gizi ibu dan anak. Oleh karena itu gangguan pertumbuhan gizi ibu dan anak harus pula menjadi perhatian Dinas Pertanian.

Angka gizi buruk di Sikka, menurut data pemerintah, sudah menurun. Pada tahun 2011 ada 231 anak (satu persen) dari total anak yang ditimbang petugas sebanyak 22.484 orang. Ini lebih baik dari tahun 2010 di mana anak yang menderita gizi buruk 1,5 persen. Sementara anak gizi kurang 26,2 persen. Tahun 2009 anak gizi kurang 26,5 persen.

Sementara itu pemerintah Kabupaten Sikka pada tahun 2012 menaikkan alokasi dana desa (ADD) dari tahun 2011 sekitar Rp6 miliar menjadi Rp10 miliar. Ada 18 desa yang akan mendapat dana ADD sebesar Rp100 juta, sebanyak 70 desa akan mendapat ADD sebesar Rp85 juta, dan puluhan lainnya akan memperoleh dana berkisar Rp50-Rp80-an juta.

Sedangkan tiap kelurahan mendapat Rp50 juta. Dana ADD ini akan membiayai proyek kesehatan, pendidikan, dan kemanusiaan. Menurut Bupati Sikka, kenaikan ADD ini sesuai dengan filosofi dari program bupati dan wakil bupati yakni membangun mulai dari desa (Flores Pos edisi 22 Februari 2012).

Menarik bahwa telah terjadi perubahan dalam melihat masalah gizi buruk. Kita sering berpikir bahwa gizi buruk adalah masalah kesehatan, sehingga pintu penyelesaiannya hanya di bidang kesehatan. Lalu kita menerjemahkannya dengan memperbanyak sarana kesehatan, sesering mungkin melakukan posyandu. Tetapi kita perlu melihat dengan cara terbalik dengan menjadikan kesehatan masyarakat sebagai salah satu tolok ukur atau kriteria apakah perencanaan pembangunan kita tepat sasar atau tidak. Dengan kata lain masalah gizi buruk, misalnya, perlu menjadi ukuran apakah program di bidang pertanian sudah tepat sasar atau tidak. Apakah perencanaan pembangunan di bidang ekonomi sudah menjawabi kebutuhan masyarakat atau tidak. Apakah juga sudah tersedia lapangan kerja baru atau tidak.

Dari data-data pemerintah, umumnya penderita gizi buruk adalah anak-anak dari keluarga yang secara ekonomi miskin. Miskin karena tidak punya tanah, miskin karena gaya hidup, miskin karena faktor budaya dan adat istiadat, miskin karena budaya pesta, miskin karena urusan belis dan macam-macam sebab.

Kita memang tidak habis bertanya, dari dulu miliaran dana dikucurkan ke desa-desa setiap tahun. Banyak proyek dibikin dan dibangun. Kita juga sudah lama bangun mulai dari desa, tapi desa tetap menjadi sarang kemiskinan. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah karena proyek yang direncanakan pemerintah tidak menjawabi kebutuhan masyarakat.

Banyak proyek yang dibikin untuk masyarakat di desa mubazir. Tidak terpakai dan tidak digunakan. Itu karena kita merencanakan untuk mereka, bukan mereka yang merencanakannya bersama kita berdasarkan kebutuhan mereka. Alokasi dana desa yang naik tiap tahun akan ada dampak positifnya bila pemanfaatannya dibicarakan bersama dengan mereka dan kita mengawasinya secara ketat agar tidak menjadi rejeki dadakan. Kita berharap dana ADD yang terus meningkat menjadi salah satu trigger (pemicu) untuk mengatasi masalah gizi buruk di Sikka.

Bentara, 25 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s